Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 7 : cursed



Floren masih menatap pintu ruang baca di rumahnya. Dengan rasa antara ragu dan takut Ia mengangkat tangan hendak memegang handle pintu bergaya kuno itu, tepat saat suara seseorang menggagalkan niatnya. Floren menoleh, Ray sudah berdiri di dekat belokan koridor dengan wajah pucat miliknya. Floren meneguk salivanya dengan susah payah saat merasakan aura dingin di sekitar laki-laki itu.


Ray berjalan mendekat tanpa ekspresi, tapi hal itu tetap saja membuat Floren takut setengah mati, otaknya mengirim sinyal bahaya, Ia segera memikirkan kata-kata yang tepat untuk melawan pria di depannya.


"Ada apa, Nona Katana?" Tanya Ray sambil memegang handle pintu ruang baca, Floren bergeser sedikit dari tempatnya, berusaha keras memasang wajah lempeng meskipun rasa takut itu menjalar di sekujur tubuhnya, membuat lututnya seakan lemas. Beruntung gaun panjang khas Lourch Barat yang dipakainya menutupi seluruh kakinya.


Ia menengadah menatap wajah pucat milik Ray. Lalu membuka mulutnya, "Maaf, Lord. Seharusnya saya yang bertanya begitu, anda hanya tamu di sini," Floren berusaha bersuara setegas mungkin.


Ray mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajah ke arah Floren, membuat Floren mati-matian menahan napas. Tangannya menggenggam erat kain gaun yang dikenakannya.


Wajah pucat itu tersenyum meski terlihat menyeramkan, "Masa?" Katanya sambil menatap manik mata amber milik Floren.


"Maaf, Lord. Itu tidak sopan," tegur Floren menjauhkan tubuhnya, mundur beberapa langkah, mengutuk dalam hati pria di depannya ini.


Sementara Ray menegakkan tubuhnya lagi, menghaluskan kerah bajunya dengan penuh gaya, "Benarkah? Bukankah di Lourch Timur tidak? Wajah mu yang seperti itu, terlihat sedang mengutuk ku,"


Floren menggeram kesal mengepalkan telapak tangannya, "Maaf, Lord. Ini di Barat, semuanya berbeda. Bukankah Anda seharusnya tahu? Bibi Kathe pernah bilang anda orang hebat," ledek Floren dengan sejuta rasa kesal di hatinya.


Ray tersenyum sinis, mendekat lagi ke arah Floren, "Tidak perlu terlalu kaku dengan ku, manis" Ucap Ray dengan suara seperti berbisik. Mata Floren membulat bersamaan dengan tangannya yang mengepal erat. Ray tersenyum sinis lalu menjauhkan lagi tubuhnya.


"Bukan kah Nona Katana, ingin masuk ruang baca? Mari masuk, manis," ucap Ray lagi sambil memutar handle pintu kuno itu.


Floren menggeram, merasakan kesal yang semakin membuncah. Ia mengambil napas dalam sebelum berkata penuh sarkas, "Maaf, Lord." Katanya menekankan tiap suku kata, "Nona Katana, bangsawan dengan darah campuran dari Barat dan Timur ini sangat mengerti etika, saya akan pergi ke Balai Buku Lourch. Silahkan masuk sendiri, permisi" Lanjutnya dengan gerakan membungkuk di akhir, lalu berlalu dengan menghentakkan kakinya.


Ray tersenyum sinis penuh maksud lalu kembali menutup pintu oak besar itu dan berlalu dari sana.


***


Floren berjalan menuju Balai Buku Lourch dengan kesal. Masih terbayang jelas di matanya wajah pucat menakutkan itu. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke jalan berpaving, sepatu pantofel putih yang dia kenakan menimbulkan suara cukup keras. Beruntung tidak ada orang di sekitar sana. Ia menggerutu dan mengutuk Ray penuh amarah.


"Dasar Bodoh! Enggak tahu aturan! Laki-laki payah! Bodoh! Bodoh! Brengsek! Dia mengambil alih rumah ku, kurang ajar!" Kesalnya dengan keras.


"Hei, Nona!" Seseorang menepuk bahu Floren membuatnya terjengkit kaget, menoleh,"Apa, dasar bo——" Matanya membelalak mendapati orang lain di belakangnya. Ia menunduk malu, sambil mengucapkan kata maaf.


Andreas hanya tersenyum geli melihatnya, matanya mengedip saat Floren masih menunduk menahan malu. Kedua orang di balik dinding kantor pajak mengangguk, pura-pura membenarkan tali sepatu di pinggir jalan menuju Balai Buku.


"Kau kenapa, Nona? Oh ya, perkenalkan nama ku, Andreas Willson, siapa nama mu?" Tanya Andreas sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.


Floren menjabat tangan Andreas sekilas lalu melepas nya, "Floren Katana, panggil saja Flo," jawabnya lirih masih menahan malu tak hingga. Ia mengira tidak ada orang lain di sana, membuatnya mengeluarkan kekesalannya begitu saja.


Lucas dan Kendrick tiba di samping Andreas. Kendrick memerhatikan Floren yang masih menunduk sementara Lucas biasa saja.


"Tidak perlu malu, Nona Katana, anggap saja aku tidak melihat yang kau lakukan tadi," kata Andreas berusaha tidak sarkas.


Floren hanya mengangguk kemudian mengangkat wajahnya, membuka mulutnya untuk bicara, tapi tertahan saat Lucas buka suara lebih dulu.


"Ayo, Andrey kita masuk. Nona Katana? Ingin ke Balai Buku?"


Floren membuka mulut hendak bicara tapi suaranya seakan tercekat di kerongkongan akhirnya Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"I, iya. Em, bisakah tidak memanggil ku dengan Nona Katana?, Panggil saja Flo, atau kalau tidak biasa, Nona Floren juga enggak, eh maksudku tidak masalah,"


Andreas berusaha menahan tawanya mendengar kalimat Floren yang terkesan acak-acakan. Lucas menyikut lengan Andreas menyuruhnya berhenti, membuat Andreas mendehem kasar.


"Ah, kenapa dengan panggilan Katana? Nona Flo?" tanya Kendrick memancing.


Floren menatap sebentar manik perak milik Kendrick, "Em, aku tidak terbiasa dengan nama Katana meskipun itu marga," dalih nya.


"Dan Si Brengsek pucat itu juga memanggil ku Katana!" lanjutnya dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya gugup. Lalu berjalan menuju rak buku sekedar pengalihan.


Andreas, Lucas dan Kendrick berkumpul di satu meja. Di pojok ruangan dengan sebuah rak tinggi membuat mereka tidak mudah dilihat dari pintu masuk.


"Aku dengar dia memaki seseorang tadi," kata Andreas membuka suara, "Laki-laki payah! Bodoh! Dan, aku tidak mengingat jelas semuanya, ku rasa dia memaki tamu Miss Katherine itu." lanjutnya kemudian.


"Maksud mu?" Kendrick bertanya.


"Maksud Andrey adalah, Floren tidak, belum mengenal banyak orang di Barat, tidak mungkin Ia memaki orang sini. Kalaupun iya, siapa yang dikatai olehnya? Orang Lourch Barat tahu etika berkenalan dengan orang baru, dan jelasnya dia memaki Ray Stuart. Itu artinya dia tidak menyukai sama sekali, pria itu," Tutur Lucas mengenai pendapat nya.


Kendrick manggut-manggut mengerti. Tangan kanannya sibuk membolak-balikkan halaman buku, hanya sebuah pengalihan agar tidak di usir oleh pustakawan Balai. Mereka memilih Balai Buku sebagai tempat karena melihat Floren yang berjalan kesana, tidak ada pilihan lain, mereka mengikuti gadis itu dan mendengar serta melihat apa yang gadis itu lakukan di jalan.


Andreas berdiri, membuat Kendrick menatap ke arah nya.


"Aku harus memastikan gadis itu, kalau dia tidak ada di sini percuma kita membuntuti nya," ucap Andreas lalu berlalu dari sana meninggalkan Lucas dan Kendrick.


Setelah Andreas menjauh di antara rak-rak buku, Ia mendekatkan kursinya ke arah Lucas.


"Hei, Luke. Menurutku kalau kita jodohkan mereka ini akan menarik," ucap Kendrick di sertai kekehan geli.


Lucas mendorong bahu Kendrick pelan, sebelum ikut terkekeh,"Dia akan membunuhmu!"


"Ya, aku tahu. Lagipula aku tidak tahu tipe wanita seperti apa yang baik untuk Andrey," ucap Kendrick dengan gaya seolah sedang berpikir keras


"Yang suka wine, whisky, bren——"


"Apa kau gila? Dasar bodoh!" sergah Kendrick heran, menatap Lucas.


"Kau bilang cocok dengan Andrey, Carikan saja yang begitu." Dalih Lucas asal. Membuat Kendrick mendengus kesal.


"Bisakah, kau tidak bermain-main? Usiamu sudah dua puluh tiga tahun? Kau ini kan seorang Felman, banyak wanita yang mau berdiri di samping mu!"


"Lalu apa? Aku hanya putra ketiga, kau sama saja dengan Paman Louis," Dengus Lucas sambil memukul bahu Kendrick dengan gulungan arsip bersampul bening.


Kendrick terkekeh pelan, kemudian berdehem dan merapikan duduknya saat melihat Andreas berjalan ke arah mereka, "Gadis itu masih di sini?"


Andreas mengangguk, "Sepertinya dia memang tahu sesuatu tapi tidak memahaminya," Ujar Andreas sambil duduk lalu membuka halaman sebuah buku tebal di hadapannya.


"Tadi aku lihat dia di deretan buku kuno, mencari sesuatu"