Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 5 : Floren



Jose menoleh lalu terkekeh pelan. Sementara itu Valerie masih bersungut-sungut kesal sambil bergumam tidak jelas.


"Sudahlah, tidak ada Nona Muda yang menggerutu seperti itu, nanti pelayan-pelayan mu kabur semua," Ejek Lucas sambil terkekeh geli saat Valerie menghunus tatapan tajam kepadanya.


Valerie berdiri lalu membersihkan rumput kering yang menempel di renda gaun yang Ia kenakan. Lalu membenahi topi nya sampai menutupi rambut pirangnya dengan sempurna. Lucas juga ikut berdiri saat Valerie mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


"Pulang sekarang?" tanya Lucas. Tangannya masih sibuk membersihkan rumput kering di celananya serta merapíhkan lengan jasnya. Valerie hanya mengangguk kemudian berbelok ke arah kanan melewati jalanan berpaving.


"Aku cuma ingin lihat, siapa namanya tadi? Florenh?" Tanya Valerie sambil menoleh sebatas bahu ke arah Lucas yang berada di belakangnya.


"Floren, yah anggap saja kita kebetulan bertemu dengannya. Dia kelihatannya tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, apalagi orang baru. Waktu aku menyapa nya tadi pagi, dia terlihat gugup dan canggung," tutur Lucas sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Valerie.


"Bukan, Lucas. Dia bukan gugup karena itu, tapi dia sudah tahu siapa kau," tukas Valerie singkat sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


Lucas tampak berpikir sejenak, "Maksud mu bagaimana? Aku bahkan tidak menyebutkan marga ku," Tanyanya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Valerie menghela napas, "Lalu dia bertanya, kenapa kau tidak menyebutkan nama marga mu? Itu tandanya dia mengenalmu, kalau tidak dia pasti akan biasa saja dan tidak peduli, lagipula siapa yang tidak kenal keluarga Felman?" ucap Valerie kesal akan kebodohan Lucas.


"Begitukah?"


"Ya, lupakan! Ayo aku mau melihat gadis itu, dimana dia?" Tanya Valerie saat mereka sudah sampai di jalan utama Lourch. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah berusaha mencari seorang gadis berambut cokelat bernama Floren.


"Ayo kita cari, Nona Lafrence," Lucas berjalan mendahului Valerie yang masih membenahi sepatunya, lalu segera ikut menyusul Lucas yang menghampiri pedagang es krim.


"Untuk apa beli es krim?" Tanya Valerie.


Lucas hanya diam, sambil sedikit melirikkan matanya ke sebelah kanan, seorang gadis yang di cari Valerie juga berada di situ untuk membeli es krim. Valerie mengangguk mengerti, kemudian ikut memesan es krim rasa vanilla.


Valerie menoleh, sedikit memerhatikan Floren. Sedangkan gadis kecil itu tidak saat kalau dia di perhatikan, setelah mendapat es krim yang dia mau, Floren berjalan menuju taman, sebelum itu Ia mendekati sebuah tempat sampah dan mengeluarkan sesuatu dari saku gaunnya dan mencampakkannya ke dalam tempat sampah dengan kesal.


"Lucas, ku kira dia tidak seperti Miss. Katherine, aku tadi lihat dia membuang sapu tangan warna lembayung ke tempat sampah," kata Valerie sambil memegangi es krim miliknya.


"Hm, mungkin iya. Kita lihat saja selanjutnya, aku penasaran sekali dengan Miss. Katherine," gumam Lucas yang masih bisa di dengar oleh Valerie.


"Ku kira cuma sedikit penasaran," tukas Valerie sarkastik. Membuat Lucas mendengus kesal.


***


Valerie berjalan mendekati tempat sampah yang ada di dekat tempat duduk Floren, membuang sisa es krim miliknya. Ia melihat Floren yang masih duduk di kursi taman, lalu berjalan mendekati nya.


"Hai, apa kau sendiri?" sapa Valerie.


Floren menoleh, mendapati seorang gadis yang kira-kira lebih tua sedikit darinya. Dengan rambut pirang terurai yang tertutup topi lebar untuk melindungi dari sinar matahari. Floren tersenyum ramah lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Namaku, Floren Katana. Kamu siapa?" Tanya Floren lagi.


Velerie sedikit mengernyit heran saat mendengar gaya bahasa dan logatnya yang sedikit berbeda dengan orang-orang di Lourch Barat. Ia membenarkan kata-kata Lucas mengenai penilaiannya terhadap Floren.


"Nama ku, Valerie," jawab Valerie singkat, karena Ia mengingat kalau Floren menanyakan marga Lucas saat pemuda itu tidak menyebutkan marganya.


Floren hanya diam mengangguk tanpa membalas lagi. Ia kembali menekuni jalinan tepian gaun yang di kenakannya, memainkan renda-renda pitanya dengan jari, sambil sesekali melihat-lihat orang-orang lalu lalang.


"Kau tinggal dimana?" Tanya Valerie lagi, "Aku tinggal, di sebelah selatan, kalau dari sini cukup jauh. Mungkin lain kali--"


"Rumah ku di sebelah timur, di jalan yang itu, enggak jauh kok, rumah besar yang model kuno itu, rumah ku, maksudku rumah orang tua ku," tukas Floren sebelum Valerie sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia terlebih dahulu berdiri lalu mengibas-ngibaskan kain gaunnya dan merapikan sepatu pantofel putih di kakinya.


Valerie hanya memerhatikan hal itu tanpa berkomentar.


"Aku pulang dulu ya, makasih udah ngajakin aku kenalan, aku juga enggak em maksudku belum kenal banyak orang di sini, sampai jumpa" Ucap Floren kepada Valerie yang hanya di balas anggukan dan senyum ramah. Kemudian berlalu menuju jalan berbelok di sebelah timur.


Setelah Floren kembali, Valerie menemui Lucas yang masih duduk di dekat pedagang crepes bersama Jeremy, "Lucas, Oh hai Tuan Jeremy, bagaimana kabar mu?" Tanya Valerie basa-basi sambil ikut duduk di kursi yang bersebrangan.


"Oh aku baik-baik saja, Nona Lafrence," sahut Jeremy dengan senyum jenaka yang tersungging di bibir hitamnya.


"Tidak perlu, panggil saja aku Valerie, Tuan." tukas Valerie.


"Hoo, tidak bisa. Kalau aku memanggilmu seperti itu, Lucas akan marah, bagimana hubungan kalian? Akan segera menikah?" Tanya Jeremy dengan nada mengejeknya yang terdengar jelas di telinga Valerie.


"Bicara sembarangan!" seru Valerie, yang di sambut kekehan Jeremy. Sementara Lucas hanya tersenyum.


"Ya, sudah aku pergi dulu, lain kali aku akan berkunjung ke mansion Felman" ucap Jeremy sambil bangkit dari duduknya dan merapikan lengan serta kerah jas yang dipakainya. Kemudian berlalu setelah menundukkan kepala hormat.


"Aku sudah berkenalan dengan dia, bahasa memang aneh, tapi terdengar lucu," Komentar Valerie setelah Lucas duduk kembali.


Lucas mendengus, "Itu kan kau yang memang tidak pernah keluar dari Lourch, bahkan hanya ke Timur saja," tukas Lucas sambil memakan crepes miliknya.


"Ya, itu terserah mu, sudahlah kapan kau mengatakan ini kepada Andreas dan Kendrick?" tanya Valerie mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah bilang, ku rasa semenjak Miss Katherine datang ada yang aneh dari kota ini, kau merasa tidak? Dan Kendrick bilang, ada teman Miss Katherine yang juga tinggal di sana, tapi aku tidak tahu siapa?" Tutur Lucas santai tapi dengan nada lirihnya, takut terdengar orang lain selain mereka berdua.


"Ah, iya. Ku rasa, aku juga jarang melihat Miss Katherine," kata Valerie sambil memerhatikan sekitar, " Dia jarang bicara dengan sembarang orang, maksudku dengan orang baru, aku tidak suka cara dia melihat ku," ujar Valerie lirih sambil menggedikkan bahunya.


Lucas hanya menyimak. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol mereka memutuskan pulang, saat Wynie datang menjemput Valerie. Lucas berjalan sendiri ke arah Utara menuju mansion Felman sementara Valerie berjalan menuju mansionnya keluarganya sendiri di selatan diikuti oleh Wynie di belakang.