Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 13 : Dream illusion



Baik Lucas, Kendrick, dan Andreas sama-sama diam.


Tapi Andreas tampak memikirkan sesuatu, sesuatu yang janggal. Ia menatap lekat Floren yang masih diam di tempatnya.


"Floren?" Suara berat dan serak milik Andreas memecah keheningan. Lucas dan Kendrick yang mengenali nada dan suara itu mengangkat wajah, menatap lurus-lurus ke arah Andreas yang menatap lekat ke arah Floren yang menjatuhkan pandangannya ke arah kertas arsip yang berserakan.


"Floren, kau bilang aku, em kami bisa memanggil mu, Flo. Jadi kau pasti tidak keberatan, kan? Tidak. Ok, aku mulai. Pertama, di hari lalu di tempat ini juga, kau bilang kalau Tuan Stuart adalah orang jahat—orang yang membuat mu kehilangan ayah dan ibumu, bukan? Iya. Kedua, tadi sebelum kemari kau menelepon ku, suara mu seperti tercekat di tenggorokan, ketakutan dan gemetar. Ketiga....," Andreas mengusap sedikit tengkuknya yang dingin, memastikan kalau itu adalah pengaruh suhu.


"Ketiga..., sekarang, barusan, kau bilang kalau dari semua klan Katana hanya kau yang ingat siapa dia? Kau bilang kau bukan putri kandung keluarga Katana, dan..., sialnya yang membawa mu masuk ke Katana adalah Tuan Stuart, juga...,"


"Juga...?" Hanya itu yang terlontar dari mulut merah delima Floren. Ia sendiri juga bingung, bingung terhadap apa yang terjadi, semua. Semua ini membingungkan baginya. Ia mengangkat wajahnya menatap sayu wajah-wajah di hadapannya, berusaha menyakinkan bahwa yang di katakannya bukan bualan, bukan kebohongan belaka.


"Semua terasa... aneh, seperti... jarum jam yang berotasi ke kiri, aku merasakan semua berputar terbalik," Matanya menyapu seisi ruangan yang mampu dijangkau oleh nya. Lalu kembali menatap kumpulan arsip, "Waktu ilusi yang seperti mimpi itu, sebenarnya aku enggak tidur. Aku udah bangun dari jam empat pagi, dan itu sudah jam enàm pagi. Tapi tiba-tiba semua gelap seperti tengah malam, langitnya juga. Waktu aku mendengar ada suara orang lain, aku keluar. Tapi yang pertama ku lihat itu memang mengerikan," Ia menghirup udara sebanyak mungkin, jantungnya tiba-tiba berpacu cepat mengingat semuanya.


"Mengerikan?" Kendrick menyahut. Floren tahu itu pancingan agar dirinya melanjutkan cerita.


"Aku menggeser pintu," Membuat gerakan menggeser dengan tangannya, "Karena memang pintu kamarku bergeser, bukan di dorong atau tarik. Aku lihat orang bukan, tapi... makhluk aneh..., tinggi, pucat..., dan..., matanya ada tiga...," Ia mengangkat tiga jari lalu menunjuk keningnya.


"Wajahnya hancur, tapi tubuhnya tidak. Tangannya menggapai ke depan seperti..., zombie. Kakinya besar, bukan ukuran manusia, aku takut tapi tidak bisa bergerak, aku refleks menutup mata, saat suara makhluk itu sudah enggak kedengaran, aku membuka mata dan malah..., melihat Tuan Stuart dan wanita itu." Ia berhenti untuk menghirup lagi udara Sebanyak-banyaknya, karena merasa paru-parunya seperti kosong.


"Lalu, ada yang menarik mu, kau seperti terhempas di atas tempat tidur mu, tapi kau juga melihat bayangan masa lampau, bayangan mengenai kau dan Tuan Stuart."


Floren terperangah, menatap Lucas lekat-lekat seperti anak kecil yang melihat mainan baru.


Lucas mengeluarkan dua lembar foto. Foto sudah di cetak saat itu meski dengan warna hitam putih. Lucas meletakkannya di tengah-tengah meja.


”Kalau kalian teliti, dan bisa melihat jelas. Di foto itu wajah Tuan Stuart tidak berbeda. Bedanya foto ini wajahnya tidak pucat—belum pucat," Menunjuk salah salah satu foto, lalu menunjuk yang lain, "Dan ini pucat. Tapi wajahnya tidak berubah,"


Floren kini mengerti kemana arah pembicaraan Lucas.


"Dulu, kami tinggal di Akranim, di sana banyak paham-paham dan kepercayaan kuno yang...," berpikir sebentar mencari padanan kata yang tepat, tapi akhirnya memakai kata, "Sesat..."


"Dan kau berpikir jika Tuan Stuart, adalah penganut paham kuno itu?" tebak Kendrick, matanya mengawasi pintu Balai.


Tepat.


Floren mengangguk.


"Atau, dia mengenalnya sebagai former katana, tapi, dia mengesampingkan hal itu. Berarti dia tahu beberapa hal mengenai Tuan Stuart, menurutku" tukas Lucas cepat, lalu membalikkan buku di hadapannya saat melihat pustakawan menengok ke arahnya. Di Balai Buku tidak ada yang berisik, peraturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk bangsawan—seperti Lucas.


Floren lagi-lagi diam, memikirkan sejak kapan ketajaman berpikirnya menurun.


Biasanya aku mudah menilai seseorang hanya dari cara bicaranya, tapi putra ketiga bangsawan kuno ini, lebih cepat bahkan sebelum.tahu detailnya. Floren berkeliaran di alam pikirnya.


"Ok, di sini jelasnya..., sebentar, apa nama paham kuno itu? Atheist? Itu sebutan untuk seorang yang tidak percaya tuhan. Biasanya orang-orang yang menganut paham kuno, tidak percaya Tuhan." komentar Andreas. Kendrick seperti biasa, diam sambil mengamati.


"Atheist? Itu terlalu modern. Mereka menyembah, tch, bukan menyembah, sih. Seperti..., menghormati, sebuah batu besar yang, sesat. Namanya, ancient stone. Jangan bingung, aku pernah mendengarnya dulu, tapi masih ingat karena dulu aku merasa itu menarik, " Tutur Floren singkat sambil terkekeh hambar di akhir, hanya berusaha mencairkan suasana yang terlalu membeku.


"Orang yang menganut—menghormati—ancient stone dijuluki sürrœçk, sürrœçk, ku ulangi sürrœk. Katanya, mereka bisa..., mengendalikan ilusi, dan bagian itulah yang membuat suara ku gemetar," Tukas nya sambil menatap tajam Andreas.


Andreas menaikkan sebelah alisnya, tersenyum ramah, "Jadi kau tahu sejauh ini? Waktu itu bilang hanya itu, hm?"


Floren diam, tahu dirinya didebat.


"Ok, aku tahu jalan pikir mu, Nona Floren." Lucas memotong, mencari jalan tengah, "Kau menduga, atau lebih tepatnya, tahu kalau itu ilusi, ilusi yang dibuat oleh Tuan Stuart?"


Floren mengangguk.


"Dan bagian terlempar ke bayangan masa silam, bukan bagian dari ilusinya?"


Floren mengangguk lagi.


Kini Lucas tersenyum misterius, "Kenapa kau mengira itu bukan bagian dari ilusi?"


Floren tersenyum, menaikkan salah satu alisnya, Ia bukan gadis bangsawan. Tapi di jadikan bangsawan. Ia hidup dengan belajar menyusup kabur, mempelajari cara hidup orang-orang di sekelilingnya. Pertanyaan ini adalah tanda curiga!


"Karena, kalau Tuan Stuart menggunakan ilusinya untuk menakut-nakuti atau hal lain yang berhubungan dengan aku. Dia tidak akan menampakkan sebagian bayangan masa lalunya, atau aku akan membuat di terusir dari rumah Ku. "


Lucas dan Andreas tersenyum sementara Kendrick melongo, tidak percaya kalau Floren punya pemikiran cerdas hampir mendekati Lucas dan Valerie.


"Aku bukan bangsawan Mr. Hanbërt, hanya dijadikan sebagai seorang bangsawan, aku tidak menikmati kebangsawanan itu, menjadi pembisik pun mungkin aku bisa." Kata yang paling di garis bawahi Floren.


"Kalau bisa aku tidak akan jadi bangsawan kalau harus berurusan dengan Sürrœçk-Sürrœçk, pemuja batu terkutuk itu." geram Floren dalam hati.