
"Apa yang terjadi Wynie?" Tiba-tiba saja Valerie sudah muncul di ambang pintu kamar Tafa sambil menjinjing sedikit rok gaunnya, menoleh ke kanan kiri, tidak ada apa-apa.
"Tidak tahu Nona," Jawab Wynie seadanya. Ia masih mengompres kening Tafa dengan handuk basah.
Valerie mendekat, memerhatikan wajah maid baru tersebut, kulitnya pucat seperti kertas dan napasnya nampak tidak teratur. Valerie mengerutkan kening, sebelum berbalik menuju pintu.
Sudah ada Sinee di depan pintu menunggunya. Valerie melangkah menuju telepon rumah, memutar nomor dan menelepon Lucas. Tapi yang mengangkat bukan Lucas tapi Rolland. Valerie memutus sambungan kemudian menelepon Andreas Willson.
"Hallo, Lord Willson," Sapa Valerie sekadar basa-basi, Ia melambaikan tangannya kepada Sinee, pertanda menyuruh pelayan itu menjauh.
"Oh, Nona Lafrence. Ada apa?"
"Tidak. Apa kalian sudah bertemu dengan Nona Katana tadi? Masih ingat gadis muda yang jadi maid baru di mansion ku? Ada yang aneh dari dia...," TanyaValerie beruntun dengan suara lirih saat beberapa pekerja melewatinya.
Di seberang sana Andreas mengerutkan keningnya, "Aneh? Bagaimana...?" Tanyanya tidak mengerti, "Kalau ingin bertemu, Nona, lebih baik jangan sekarang, lebih baik besok atau lusa"
"Kenapa?"
"Lebih baik Nona." Andreas menekankan setiap suku kata.
"Ah, baiklah," Valerie langsung memutus sambungan setelahnya. Ia mendekati Sinee yang berdiri di dekat bufet merah besar. Lalu mengajaknya pergi ke halaman belakang.
Lebih baik pikir Valerie sejenak Mungkin maksudnya lebih baik jangan keluar.
"Sinee, kita ke kamar ku saja, tiba-tiba aku merasa malas keluar," Kilah Valerie saat mereka mendekati pintu keluar. Ia merasa ada yang mengawasi, tapi hanya desauan angin yang didapat. Ia segera membalikkan badannya lalu segera melangkah menuju kamar diikuti oleh Sinee.
Seperti halusinasi.
***
Andreas meletakkan gagang telepon setalah panggilan diputuskan begitu saja oleh Valerie. Ia melepas mantelnya lalu membawanya masuk menuju kamar, George, pengawalnya mengikuti di belakang.
"Harusnya..., George?"
George yang mendengar nada panggilan yang seakan mendesaknya untuk mempercepat langkah segera maju, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Andreas.
"Ada apa, Tuan?"
Andreas menoleh ke kanan dan kiri, pelayan biasa tidak boleh lewat secara sembarangan di koridor sayap kiri, tempat kamar milik Andreas Willson. Ia hanya memastikan sekali lagi, tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua dan beberapa orang penjaga berwajah sangar.
"Apa yang kau dapat dari pencarian mu?" Tanyanya dengan suara lirih.
Andreas terkekeh, "Mirip? Bukannya fotonya Hitam-Putih?" Ia mengayunkan tangannya ke depan, merasa ada yang mengganggu di hadapannya. Lalu menoleh ke arah George yang masih diam, beberapa penjaga menundukkan kepala saat mereka berdua lewat.
"Warna, meski hitam putih, ada kesan yang... berbeda, semacam..., kalau diperhatikan ada sedikit, hanya sedikit perbedaan nya. Warna cerah jika dijadikan hitam putih bisa jadi sedikit pucat, seperti itu... perbedaannya." George menjelaskan dengan sedikit memberikan gesture tubuh.
Andreas mengangguk, mengedarkan lagi pandangannya ke sekitar. George mengikuti, mereka menangkap hanya menangkap bayangan penjaga.
Andreas membuka pintu kayu hitam besar di hadapannya, matanya sedikit membulat untuk beberapa saat, membuat George ikut bingung tapi tahu untuk tidak memanggil penjaga.
Beberapa saat kemudian, napas Andreas kembali teratur, halus seperti tidak terdengar. Ia menoleh sebahu ke arah George yang memasang wajah panik di balik wajah lempengnya, "George...,"
"Apa yang ketahui tentang ilusi?"
George menelengkan kepalanya, dahinya mengerut heran, berpikir tapi akhirnya hanya mengeluarkan dua kata "Maaf, Tuan?" Sebagai reaksi.
"Ilusi? Semacam itu..." Menunjuk ke arah dalam, diikuti oleh George.
***
Valerie duduk di atas ranjang di temani oleh Sinee. Kaca jendela sudah tertutup rapat tapi tirainya masih beterbangan, Valerie mengerutkan keningnya saat mendapati hal itu, lalu menoleh ke arah Sinee yang hanya diam sambil merangkai bunga dalam vas—tenang—seperti tidak mendengar suara tirai yang berkelepakan.
Ini cuma ilusi!
"Sinee, tolong rapatkan tirainya," Pinta Valerie memancing.
Sinee tersenyum lalu berdiri menghampiri jendela. Menutup rapat tirai dengan sempurna.
Benar-benar ilusi yang menyebalkan!
Valerie memutuskan untuk tidur. Ia juga meminta Sinee menemaninya, hari hampir gelap. Tapi terasa panas dan sempit bagi Valerie. Ia memejamkan matanya bersamaan dengan matahari yang terbenam sempurna.
***
Di sisi lain. Lucas sedang duduk bersandar di dasbor ranjang. Tangannya memegang sebuah buku tua, bersampul kulit binatang. Usang. Berdebu. Lucas mengusap sampul buku itu lalu meletakkannya di atas meja kayu berukir, tepat di samping tatanan teko porselen.
"Dimana aku bisa mencari tahu tentang sürrœçk" gumamnya, sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela, matahari.sudah terbenam, hari berlalu sangat cepat akhir-akhir ini.
Seakan hari hanya ada satu jam.