Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 11 : sarcasm



"Masa sih bahaya? Bukannya dia cuma orang biasa, ya?" Tanya Valerie tidak yakin, setelah Lucas menceritakan apa yang dia tahu dari Louis, "Kalau dia Katana kenapa?" celetuk Valerie.


Lucas menoleh ke arah lain, tidak menjawab pertanyaan dari Valerie, tidak juga mengacuhkannya. Ia hanya berpikir untuk mencari jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan, pertanyaan yang dia susun hanya untuk dirinya sendiri—dan hanya dia yang akan menjawab.


"Lucas?"


Lucas masih diam bahkan tidak menoleh kepada Valerie meski sebatas bahu, tidak kunjung juga menjawab pertanyaan nya, membuat Valerie kesal. Ia menyikut lengan Lucas dengan sedikit keras, membuat Lucas mengaduh, sebetulnya tidaklah sakit. Hanya saja ia Ia tidak mau membuat Valerie makin kesal karenanya.


Valerie memberengut kesal, membuat Lucas mati-matian berusaha menahan tawanya, tapi Ia tidak mau membuat gadis Ansort ini semakin kesal.


"Cepat, kalau dia——"


"Tunggu, jangan sekarang," tukas Lucas halus. Ia merasakan perasaan aneh, perasaan dingin seperti di awasi. Hawa dingin merayap di sekitar tengkuknya, Ia menoleh ke sekitar, tidak ada.


"Kenapa?" Valerie ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar, tidak ada yang aneh.


"Tidak ada, hanya kau jangan bicara terlalu keras, sampai di mana kita tadi?" Lucas berusaha mengalihkan kembali suasana yang aneh tadi. Valerie mengangguk, membenarkan posisi duduknya. Di ujung sana, Sinee mengawasi.


"Sampai pertanyaan ku, Kalau dia Katana kenapa?" Ulang Valerie mengikuti kata-kata awal, sambil mengangkat kedua tangan dan membentuk telinga kelinci dengan jari tengah serta telunjuknya, menekuk dan membukanya separuh, isyarat.


"Kalau dia Katana, kenapa Floren tidak tahu?"


Valerie diam, membenarkan apa yang dikatakan oleh Lucas. Sejujurnya kalau ada orang yang teliti, pasti mereka akan menemukan sedikit—beberapa, kesamaan dari mereka. Hanya saja Valerie tidak tahu sejak kapan Ia menjadi kurang cermat dalam mengamati seseorang.


Lucas juga ikut diam, bukan memikirkan jawaban pertanyaan yang diajukannya untuk balik menjawab Valerie, tapi persoalan lain yang mengganggunya sejak tadi malam. Perasaan aneh yang tidak pernah muncul, terkadang merambat secara tiba-tiba. Perasaan yang merasa dirinya terus diawasi tidak ada, hanya Ia memang merasa kalau dia akan diawasi.


Baik Lucas maupun Valerie masih bungkam, belum menemukan kalimat apapun atau mungkin tidak bisa menyusun kalimat di saat begini.


"Kata Tuan Louis, keluarga Katana bukan dari Lourch, kan?" valerie akhirnya memutuskan membuka pembicaraan lebih dulu.


"Iya, tapi kenapa mereka pindah ke sini, ke Lourch Timur?" Lucas bertanya balik. Itu membuat Valerie sedikit jengkel karena Lucas selalu membalik pertanyaan.


"Kau selalu membalik petanyaan, kau pasti mau membuat ku bingung, kan?" Tukas Valerie, matanya memicing tajam, memandang ke arah Lucas dengan sinis.


"Maksud ku, pertanyaan ini selalu berhubungan kan? Semuanya berhubungan, dan apa hubungan Katana dan Felman? Paman Louis tidak memberi tahu banyak, dia bilang kalau aku ingin tahu maka aku harus mencari tahu sendiri," ucap Lucas dengan napas kasar, "Kalau mencari tahu sendiri aku bisa, aku bisa bertanya kepada Gvön atau Hubert, tapi aku yakin mereka tidak akan memberi tahu semua, mereka tetap pembisik keluarga Felman, dan majikan mereka itu Paman Louis," Lucas mengusap wajahnya kasar.


"Tapi kau kan juga, Felman. Kau yang paling dekat dengan Tuan Louis, mereka pasti mau, Lucas" Sanggah Valerie dengan sedikit skeptis.


Lucas menoleh, tersenyum hambar, "Tetap saja,"


***


Andreas Willson dan Kendrick Hanbërt sedang duduk di ruang tamu mansion keluarga Willson. Seperti biasa Andreas lebih memilih maidnya membawakan sebotol wine atau wishky. Ia meneguk minuman itu sebanyak setengah gelas, lalu meletakkan gelas rendah itu di atas meja, bersisihan dengan cangkir teh milik Kendrick.


Melihat itu Kendrick menggeser cangkir teh miliknya menjauh dari gelas bekas wishky milik Andreas.


Andreas melihat itu dengan pandangan heran, "Kenapa kau menjauhkan cangkir tehnya?"


"Sialan!" Andreas melempar bantal sofa, tepat mengenai wajah Kendrick yang tertawa.


"Oh, ya. Bagaimana dengan pencarian mu?" Andreas berusaha menghentikan tawa Kendrick yang terdengar menyebalkan—dan cara itu berhasil—Kendrick mengentikan perlahan tawanya, berdehem-dehem sekadar pengalihan perhatian. Andreas mengerti, di suruhnya para maid dan penjaga yang ada di sana untuk pergi.


Setelah orang-orang itu pergi Kendrick baru memulai.


"Yang aku tahu, dia dulu pernah tinggal di sini, di tempat yang sama" ucap Kendrick sukses membuat Andreas kaget.


"Aku sudah tahu,"


Andreas dan Kendrick menoleh, Lucas sudah berjalan masuk diikuti oleh seorang pelayan di belakangnya. Mereka menghela napas lega.


"Ku kira di rumah Andrey ada hantu," gurau Kendrick tapi tidak ada yang tertawa membuatnya berdehem malu. Lalu berpura-pura membenahi kerah kemeja warna grey miliknya.


Lucas berjalan maju, menghempaskan tubuhnya di atas sofa, bersisihan dengan Kendrick, "Selera humor mu rendah untuk seorang lord," celetuk Lucas sarkas.


Kendrick mendengus kesal, "Ku kira Lucas berbeda, ternyata semua Felman itu selalu sarkas," Katanya sambil menuang sedikit wine—lord Hanbërt tidak suka Whisky dan hanya minum wine atau brendi sesekali.


Lucas dan Andreas tertawa, membuat Kendrick bingung, " Bagian mana yang lucu dari itu? Ku kira kalian memang butuh refreshing, otak kalian sudah mulai bergeser," Kendrick berusaha sesarkas mungkin, meski kalimatnya barusan adalah kalimat ejekan yang sudah mayoritas di kalangan Lord muda Lourch.


"Sudah lupakan, apalagi yang kau tahu?" Lucas bertanya sambil menyandarkan punggungnya di sofa dengan salah satu kaki melipat di atas kaki lain.


"Kau berlagak seperti seorang Tuan Rumah saja, Lord Felman." Andreas mencebik kesal, menyahut gelas berisi whisky miliknya tadi.


Lucas terkekeh, "Aku bukan Lord. Bisakah kita lanjutkan saja, mengenai Tuan Stuart?" Lucas mengalihkan pembicaraan, Kendrick mengangguk, mengeluarkan berkas bersampul merah gelap—berkas yang tidak boleh dilihat sembarang orang—menyodorkannya di atas meja.


Lucas membuka berkas itu, membaca dengan teliti, hening sesaat sampai suara berkas yang tertutup memecah lagi keheningan. Luas menaruh lagi berkas itu dibatas meja. Menatap sekilas kepada Andreas dan Kendrick.


"Isi berkas ini, hampir sama, hanya terlewat beberapa hal——"


"Tunggu! Hampir sama? Kau sudah tahu? Kalau sudah tahu, kenapa menyuruhku? Bukankah ini hanya buang-buang waktu?" Kendrick menyela kasar, lalu mendengus.


"Tadi, malam. Aku bertanya, pada Paman Louis," jawab Lucas enteng sambil menuang teh ke dalam salah satu cangkir.


Andreas masih memegang gelas whisky nya, hanya menyimak, meneguknya sampai habis baru meletakkannya dengan sedikit kasar, sehingga menimbulkan bunyi benturan di atas meja kaca itu.


"Dia seorang Katana,"


***


Hai, selamat menyambut bulan November ya🤗.


Aku tahu, kalau hasil review mau belum tentu terbit tepat tanggal 1 November, hehe.


Setia ya sama Stuck On Here, bye-bye.