
Penyambutan Sonya kemarin berakhir dengan acara makan-makan. Tentu yang mentraktir adalah tuan rumah, yaitu Arga daddy Sonya yang masih belum juga habis masa berbahagia nya.
Mungkin kalo Arga melakukan giveaway, dia akan membagi-bagikan cabang perusahaan Apple sekaligus.
Walaupun sebenarnya gagal karena Sonya kepentok kaki meja, tapi semuanya tetap berkesan dan usaha sahabat-sahabat Sonya tidak ada yang sia-sia karena yang disambut merasa sangat bahagia.
Sonya tak melunturkan senyumnya sedikitpun selama bersama dengan para sahabatnya. Arga dan Tania merasa senang akan hal itu, mereka pikir kondisi Sonya akan drop atau sampai mengalami trauma.
Tapi hanya bertemu para sahabatnya Sonya bisa kembali ceria seperti sedia kala. Tidak ada sedikitpun raut sedih di wajah putri mereka membuat Arga merasa tenang dan Tania tak perlu khawatir lagi.
Lalu semuanya sempat digemparkan dengan keinginan Sonya. Gadis itu meminta langsung sekolah besoknya, tentu Arga menolak karena kondisi kesehatan Sonya yang baru saja pulih.
Namun dengan segala bujuk rayu dan tawar menawar yang Sonya lakukan akhirnya kedua orangtuanya mengalah. Dengan syarat Air yang akan mengantarkan jemput Sonya selama beberapa waktu ke depan.
Tentunya Air dengan senang hati menerima amanah itu, menjadi kesempatan untuk Air melakukan pdkt lebih dari teman dengan Sonya.
"Ma aku berangkat ya, Air udah nunggu di depan" pamit Sonya yang masih menguyah rotinya lalu mencium punggung tangan Arga dan Tania.
"Ditelan dulu sayang" peringat Arga membuat Sonya langsung menelan rotinya.
"Kamu beneran mau langsung sekolah Nya?" Tanya Tania seperti tidak yakin pada putrinya, jujur saja ia khawatir karena kondisi Sonya yang belum pulih sepenuhnya.
Sonya mengangguk yakin, "aku okey ma, yaudah aku pamit ya assalamualaikum" ucap Sonya kemudian mempercepat langkahnya menuju pintu keluar.
"Walaikumsalam" jawab Arga dan Tania.
Didepan Sonya sudah menemukan Air yang tersenyum menunggu kedatangannya.
"Gak lama kan?" Tanya Sonya basa-basi tapi malah terlihat expired oleh Air.
Air memilih tidak menanggapi pertanyaan gadis itu membuat Sonya menjadi kesal.
"Ih lo kebiasaan banget sih Air suka banget ngacangin orang. Ngomong tuh gratis Air gak bayar" omel Sonya.
Diam-diam Air tersenyum tipis, rasanya seperti mimpi kemarin ia melihat Sonya terbaring tak sadarkan diri dan merindukan omelan dari gadis itu.
Kini Air dapat mendengar nya kembali, didepan matanya saat ini Sonya sedang marah-marah dengan topik yang selalu sama. Yaitu Air yang selalu susah bicara dan membuat Sonya kesal.
"Lo dengerin gue gak sih?" Tanya Sonya kesal setelah sederetan kalimat panjang yang menjadi ceramahnya pagi ini.
"Denger denger" jawab Air sibuk memainkan helm untuk Sonya.
Air menatap lucu kemudian menepuk dua kali kepala Sonya dibalik helm.
"Aduh sakit" protes Sonya mengusap-usap kepalanya yang dibalut helm.
Air terkekeh menyadari kekonyolan gadis itu, "btw lo pake helm" ucap Air mengingatkan membuat Sonya seketika malu.
Wajah gadis itu memerah bagaikan kepiting rebus, dengan cepat Sonya menundukkan wajahnya. Menyembunyikan dari Air, jangan sampai Air tau, bisa-bisa dia akan diledek oleh lelaki itu.
"Naik" titah Air.
Sonya pun hendak naik tapi sebelum itu Air mengikatkan jaketnya di pinggang Sonya, ia melakukan itu agar paha Sonya tidak terekspos. Entahlah Air hanya tidak rela saja dan mencap itu sebagai miliknya yang tidak bisa dilihat orang lain kecuali Air sendiri.
Sonya naik ke atas motor Air, dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang cowok itu. Sonya tidak tau saja jika saat ini jantung Air sedang lomba maraton akibat apa yang gadis itu lakukan.
Air langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Sonya.
Sonya menghirup udara segar dengan rakus membuat Air terkekeh di depan.
"Masih banyak Nya, pelan-pelan" peringat nya membuat Sonya ikut terkekeh.
"Air" panggil Sonya berteriak.
"Apa? Gausah teriak-teriak Nya gue denger" balas Air tak kalah berteriak.
"Lo juga teriak" peringat Sonya membuat Air cengengesan didepan.
"Lo gapapa kan anter gue, gak akan telat kan?" Tanya Sonya khawatir jika dengan mengantarkan dirinya akan merepotkan Air dan berdampak dengan sekolah cowok itu.
Air menggeleng, "nggak, biasanya gue bolos kok" ucapnya keceplosan.
Air refleks menutup mulutnya dan melirik Sonya dari kaca spion. Gadis itu sedang mempelototi nya dengan mata besar yang menyeramkan.
"Mampus" batin Air.
"Lo bolos!" Pekik Sonya melengking di atas kereta.
Untungnya suara deru kendaraan besar sehingga suara pekikan Sonya tidak akan terdengar oleh pengendara lain.
Dengan kesal Sonya memukuli helm Air membuat cowok itu kesusahan menguasai kendali motornya.
"Nya, jangan ntar kita jatoh" teriak Air akhirnya membuat Sonya berhenti.
Gadis itu menarik tangan kemudian bersekap dada, terlihat jelas wajah Sonya yang kesal. Dari dulu ia selalu marah jika Air dan yang lainnya bolos padahal Sonya juga suka bolos bersama Cleo end the geng.
"Pegangan Nya" peringat Air menarik kembali tangan Sonya agar melingkar di pinggang nya.
Air mengunci dengan cara mengusap-usap tangan gadis itu, membuat Sonya akhirnya mengalah dan merasa nyaman sendiri.
Mereka sampai di perkarangan sma Xaverius, Sonya langsung turun dan memberikan jaket Air.
"Awal lo bolos"
"Janji dulu dong, lo juga gak bakal bolos"
Dengan ogah-ogahan Sonya menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Air.
"Dah sana, ingat jangan bolos, hati-hati dijalan, sama makasih udah anterin gue" meski ketus Sonya tak lupa adab dengan mengucapkan terimakasih pada Air yang sudah mengantarnya dengan selamat sampai ke depan gerbang Xaverius.
"Iya-iya bawel" Sonya melotot, Air terkekeh dan segera menancapkan gasnya meninggalkan sekolah Sonya.
"Ih dasar Air nyebelin!"