Sonya

Sonya
Hampir



Sonya menyaksikan sendiri bagaimana mobil itu sengaja menabrak mobilnya. tubuh Sonya lemas, kakinya seketika lembek seperti jelly. Sonya terjatuh dengan kresek tissue di tangannya. jantung gadis itu berdegup kencang dengan padangan lurus yang menatap kosong.


"Sonya!"


Air merengkuh tubuh Sonya yang lemas, menarik pelan ujung dagu Sonya. membawa mata gadis itu agar menatap matanya.


"are you okey?" tanya Air khawatir.


sedangkan beberapa orang sudah mengerumuni mobil Sonya di depan sana, warga memastikan agar tidak ada korban dan beberapa mengejar mobil yang menyebabkan kecelakaan beruntun itu. dengan seenak hatinya malah kabur begitu saja tanpa melakukan tanggung jawab.


"Sonya" Air menepuk pelan pipi gadis itu karena tidak mendapatkan sahutan apapun.


Sonya hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Air tidak suka melihat Sonya yang seperti ini, dia menjadi khawatir.


"Nya jawab" Air mengguncang tubuh Sonya. dia kalut, Air takut jika Sonya kembali terluka.


"Air" panggil Sonya bergetar.


"mas, mas, mbanya gak papa kan?" tanya seorang warga mendatangi Sonya dan Air di depan supermarket. dia tadi juga menyaksikan bagaimana Sonya mengelak dan hampir saja ikut terseret oleh mobil itu.


"saya gapapa" Sonya mencoba bangun dengan di bantu air.


jantungnya berdetak kencang karena masih shock dengan kejadian tadi. pikiran Sonya berkenalan, dia jadi teringat dengan ucapan tidak jelas Revan tadi dan kekhawatiran Bima. apa ini adalah jawaban dari semuanya?


Deg!


Air menelpon supir rumahnya agar membawakan mobil. dia tidak memungkinkan membawa Sonya pulang menggunakan motor sedangkan mobil Sonya hancur menghantam truk.


"cepat ya pak"


"..."


tut.


perhatian Air kembali teralih pada Sonya yang berada di sebelahnya, gadis itu masih terdiam seperti tadi membuat Air cemas.


"Nya are you okey?"


Sonya menatap Air dan mengangguk ragu-ragu, dengan gerakan perlahan Sonya menghamburkan tubuhnya ke pelukan Air.


"Air, g-gue takut" adu Sonya bergetar.


Air mengusap kepala Sonya, menenangkan gadis itu. lewat usapan nya Air berkata seolah tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja jika Sonya tenang.


"Air" panggil Sonya pelan.


"hm?" Air merasakan dadanya yang basah, mungkin air mata Sonya yang sedang menangis.


"are you need something?"


"need you" balas Sonya sangat pelan, Air tersenyum tipis. semakin mengeratkan pelukannya. mereka sama-sama tidak peduli jika saat ini sedang berada di tempat umum.


keduanya sama-sama nyaman dengan posisi ini, dan tidak rela saling melepaskan.


"I'm here Nya" bisik Air di telinga Sonya.


dapat gadis itu rasakan hembusan nafas Air membuat nya menjadi geli. Sonya tersenyum dan menggeliat kecil, perasaannya jauh lebih baik sekarang. Air berhasil memenangkan nya dengan cara terbaik.


Sonya melepaskan pelukan mereka meski ada rasa sedikit tidak rela. dan begitu mobil yang diperintahkan Air datang mereka sama-sama masuk ke dalam, sedangkan supir akan membawa motor air.


"mobil gue gimana?" tanya Sonya di pertengahan jalan.


"nanti dijemput" jawab Air kembali fokus pada kemudiannya.


mereka sampai dikediaman Atlas, Sonya langsung berhamburan ke pelukan Tania.


"Air ada apa?" kini Tania beralih bertanya pada Air karena tidak sabar menunggu jawaban dari Sonya.


Air menceritakan semua yang dia lihat pada Tania, berawal Air mendapatkan pesan dari Sonya, hingga dia menyusul gadis itu dan menyaksikan sebuah mobil yang menabrak mobil Sonya dan hampir menabrak gadis itu.


Air melihat Sonya yang menghindar saat itu dan langsung menghampirinya begitu Sonya terjatuh karena shock.


"yaallah sayang, gimana bisa mobil itu nabrak mobil kamu sampai hancur kalau engga sengaja, mommy bakal ceritain sama daddy kamu, tapi kamu gak papa kan sayang?" tanya Tania memutar tubuh putrinya, meneliti apakah Sonya terluka atau tidak.


"aku fine mom, cuma shock aja. untung ada Air, mungkin kalo engga aku belum pulang sampai sekarang" jawab Sonya tersenyum menatap Air.


"makasih ya sayang, tante gatau deh kalau kamu engga di sana Air" ucap Tania memeluk Air dan menggeser Sonya begitu saja.


bibir Sonya maju beberapa centi, dia terlupakan begitu saja oleh Tania.


"ish mommy nyebelin" gerutu Sonya menyekap kedua tangannya di dada.


Tania tertawa, Air pun mengulum senyum melihat tingkah kelucuan gadisnya.


ah gadisnya, ya? belum resmi sih, tapi Air sudah mengeklaim Sonya sebagai miliknya sejak gadis itu pertama kali memeluk Air.


"Air pamit dulu ya tante" pamit Air mencium punggung tangan Tania.


"iya hati-hati ya Air, makasih udah nganterin Sonya" ucap Tania tersenyum.


Air mengangguk kemudian pergi meninggalkan kediaman Atlas setelah memastikan keamanan Sonya.


"aku ke atas ya mom" Sonya juga pamit, setelah Air pulang.


"iya kamu bersih-bersih sana, terus turun lagi dan makan" titah Tania.


Sonya mengangguk lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan badan.


...oOo...


"siaal, siaal, siaal! kenapa anak itu bisa beruntung aish!" kesal Rini terus mengumpat sejak tadi.


"untung aku berhasil kabur dari kejaran warga, kalau ketangkap pasti habis aku" ucapnya membanting stir dengan amarah yang menguap.


"lihat saja Sonya, berikutnya saya pastikan kamu tidak akan beruntung lagi seperti ini" desis Rini mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi seseorang.


namun sebuah panggilan menghentikan aksi Rini yang ingin menelpon duluan.


"halo, kenapa sayang?" hanya membutuhkan waktu beberapa detik Rini kembali mengubah nada bicaranya seperti biasa, lembut dan halus.


"mama gak berbuat sesuatu kan?" tuding seseorang di seberang sana.


"maksud kamu apa sih Rev, kamu nuduh mama. emang mama lakuin apa?" Rini terdengar sedih karena putra satu-satunya.


"huft, aku kan nuduh mama. c'mon ma, jangan seperti ini. aku bukan membela Sonya, engga ma. aku malah khawatir kalau sampai keluarga Altar tau jika mama berniat mencelakai Sonya, mereka pasti tidak akan melepaskan mama"


"aku kenapa sih Rev, mama kan udah bilang. mama gak melakukan apapun, kamu gak percaya ya sama mama. peduli banget kamu sama Sonya, lebih milih anak itu dari pada mama sama adik kamu?" Rini emosi mendengar anaknya yang jauh lebih memedulikan Sonya. dia melakukan ini semua juga demi mereka, demi anak-anak nya.


"astaga ma bukan gitu, aku gak bermaksud nuduh mama. Revan cuma gak mau mama berurusan sama keluarga Altar ma, Revan—"


"udah lah Rev, mama tau kamu pasti udah gak sayang sama mama dan Alya lagi. mending kamu nurut aja sama papa mu, jangan pernah ketemu kita lagi"


tut.


Rini mematikan ponselnya sepihak lalu menjalankan mobil dengan keadaan emosi. dia tidak mengangkat panggilan panggilan Revan yang mencoba menghubungi nya lagi.


"siaalan! Revan pasti sudah terpengaruh oleh anak itu. aku tidak akan membiarkan Revan terus-terusan membela Sonya dan kondisi Alya semakin terpuruk"