Sonya

Sonya
Bayangan yang menubruk otak



Setelah masuk ke dalam kamar, Albert membanting pintu. Kemudian ia melemparkan tubuhnya di ranjang, lalu menatap langit-langit.


Ia mengusap wajah kasar, ketika wajah Aida terngiang-ngiang di otaknya. Teringat jelas, bagaimana Aida menatapnya dengan tatapan kecewa. Dan sekarang, ia harus terjebak dengan pernikahan dan wanita yang sama sekali ia tidak cintai dan ia juga begitu muak melihat wanita tersebut.


Albert Albert kembali bangkit dari berbaringnya, kemudian ia merogoh sakunya lalu mengambil ponsel untuk menelepon Aida.


“Ayolah angkat, Aida,” ucap Albert, ia berjalan kesana kemari menunggu Aida mengangkat panggilannya. Tapi Aida sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


Emosi Albert mendidih, ia melempar ponsel ke dinding, kemudian ia berteriak sejadi-jadinya. Ia sungguh kesal dan marah. Semua perasaan berkecamuk menjadi satu. Ia marah pada dirinya sendiri karena ia tak bisa melawan kehendak sang ayah, dan juga tak bisa melawan nasibnya.


Ia harus pasrah, ketika dirinya menjadi boneka bagi sang ayah dan harus selalu mematuhi ayahnya.


Sonya yang sedang melamun di kamarnya terpekik kaget, saat mendengar suara Albert. Ia yakin, Albert juga tertekan sama seperti dirinya. Tapi bukan ia yang memulai. Ia ak mempunyai kewajiban untuk merasa bersalah pada Albert.


Karena ayah Albertlah yang menginginkan perjodohan ini.


Sonya bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan diri dan membuka gaun pengantinnya.


Setelah menyegarkan diri, Sonya keluar dari kamar mandi. Ia membuka koper untuk mengambil dress tidurnya. Lalu setelah selesai dengan memakai pakaian tidurnya, Sonya langsung berbaring di ranjang.


Tubuhnya terlampau lelah, hatinya apalagi, yang ia inginkan adalah berbaring secepatnya dan berharap bahwa ini adalah sebuah mimpi.


Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, Sonya terbangun dari tidurnya karena rasa haus menderanya. Ia menyalakan lampu kemudian berjalan untuk keluar kamar.


Setelah keluar kamar, ia berjalan ke arah dapur untuk untuk mengambil air dingin di kulkas. Ia membuka kulkas, kemudian mengambil satu botol yang jus dan membuka tutup botol, lalu meneguknya hingga tandas.


Mendengar teriakan Albert, Sonya menoleh. Kemudian ia menatap Albert dengan datar.


“Ini milikmu?” tanya Sonya, membuat Albert mengatupkan bibirnya menahan kesal.


“Ini apartemenku, tentu saja ini milikku!” umpat Albert, Sonya mengangkat bahunya acuh.


“Lalu aku harus bagaimana? ini sudah habis. Apakah aku harus memuntahkannya lagi?” tanya Sonya, membuat Albert ingin sekali mencekik Sonya. Ia maju ke arah Sonya, kemudian mengangkat tangannya seolah ia ingin mencekik leher Sonya.


“Aku ingin sekali membunuhmu!” ucap Albert. dengan gerakan seolah ia akan mencekik Sonya .


“Kau ingin mencekikku? kau tahu, aku adalah atlet beladiri di Rusia,” jawab Sonya, seketika Albert meneguk saliva, ia melihat tangan Sonya yang begitu kekar.


“Apa kau mau membunuhku sekarang?” tanya Sonya lagi.


”Terserah kau saja!” setelah mengatakan itu, Albert berbalik dan berlalu ia kembali berjalan untuk masuk ke kamarnya. Ia membatalkan niatnya untuk minum untuk karena melihat Sonya.


Sonya menggeleng, melihat tingkah Albert. ia kembali mengambil satu botol lagi, lalu membuka tutup botol tersebut, dan meminumnya hingga tandas.


“Semoga dia gila, jika aku meminum lagi miliknya!" ucap Sonya.


Scroll gengs