Sonya

Sonya
Benci



"Mau lo apa?" Tanya Revan, dia sedang malas berdebat saat ini apalagi dengan gadis yang dulu selalu menempeli nya bak lalat.


"Mau gue? Simpel, lo mati itu udah cukup!"


"Sonya!" Bentak Revan murka dan semakin mempererat cengkraman pada kedua bahu gadis itu.


"Kenapa? Lo nanya mau gue kan, gue maunya lo mati" ucap Sonya menantang.


"Jaga batasan lo Sonya!" Peringat Revan yang mulai habis stok kesabaran nya menghadapi gadis ini.


"Lo gak bilang batasan gue sampai mana, gue pengen lo mati Revan!" Ulang Sonya lagi membuat Revan menghantam dinding di sebelah wajah Sonya untuk menyalurkan rasa amarahnya.


Sonya tersenyum smirk, memperlihatkan tatapan dinginnya pada Revan yang tak pernah Sonya tunjukkan selama ini.


"Wajah lo, tangan, mata, hidung, rambut, badan, bahkan nyawa lo gue benci" ujar Sonya lantang tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Sonya tau Revan itu tempramental, dia sulit mengontrol emosinya. Dan inilah yang Sonya inginkan, Revan lepas kendali itu sangat menyenangkan untuk di tonton.


Dia sengaja memancing cowok itu untuk melihat apa yang cowok itu lakukan dan sejauh mana Revan bertahan.


Tiba-tiba Revan terkekeh sinis membuat sudut miring dibibir Sonya semakin tertarik ke atas.


"Kenapa? Udah siap dikirim ke rumah sakit jiwa" Tanya Sonya seketika menghentikan tawa cowok itu.


"Lo pikir gue suka sama lo? Gue juga benci sama lo Sonya jauh sebelum lo benci gue. Gimana kalau lo yang mati duluan, soalnya gue juga pengen lo enyah" ucap Revan dengan nada santai seperti seorang psikopat namun Sonya sama sekali tidak takut pada cowok itu.


"Gila" cibir Sonya menyekap kedua tangannya di dada.


Ia menatap Revan dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai, lalu Sonya meludah di sebelah cowok itu membuat Revan menghunus nya dengan tatapan tajam.


"Penampilan lo udah cocok jadi penghuni RSJ. Kalau ngerasa udah butuh, calling gue aja. Nomor gue masih sama, Sonya 24 jam on time kok" Sonya menepuk nepuk kedua bahu Revan lalu pergi meninggalkan cowok itu dari kawasan toilet.


...oOo...


Revan kembali dengan wajah muram membuat teman-temannya menatap heran.


"Kenapa lo?" Bisik Yugo takut ketahuan buk Sari yang sedang mengajar.


"Sonya" desis Revan tajam seketika membuat teman-temannya mengerti.


"Kenapa lagi kalian berdua? Bukannya dia udah berhenti ngejar lo" kini giliran Genta yang bertanya.


"Dia udah gak suka gue, bahkan sekarang benci. Sonya mau gue mati" ungkap Revan tersenyum malah membuatnya terlihat menyeramkan.


Yugo merinding, "Kan, temen lo" ucap nya menyenggol Arkan di sebelah. Tapi cowok itu memilih diam dan mendengarkan penjelasan buk Sari yang jauh lebih bermanfaat di depan sana.


Yugo menghela nafas, kembali menatap Revan yang sepertinya sangat kesal.


"Lo serius? Gak bohong kan?" Tanya Genta syok, sulit dipercaya mengingat bagaimana dulu gadis itu mengejar-ngejar sahabatnya. Tapi memang ada banyak perubahan setelah Sonya koma, dan mungkin saja dia susah move on dari Revan.


Namun yang menjadi tanda tanya dan kehebohan Genta, yaitu ucapan Sonya. Revan bilang Sonya menginginkan nya mati. Sungguh sulit di percaya dan sangat gila untuk di pahami.


"Ngaur lo ah" karena tak kunjung mendapat jawaban Genta akhirnya menganggap itu sebagai candaan, meski garing tapi cukup bisa membuat darahnya berhenti mengalir sejenak.


"Gue serius!"


Genta terdiam di tempatnya, mencerna ucapan Revan lamat-lamat.


"Bukannya dia suka banget sama lo?" Tanya Yugo heran.


Siapa yang bisa melupakan kejadian dimana Sonya yang selalu menempeli Revan, mencampuri segala urusan cowok itu. Bahkan Sonya tak segan untuk mem-bully gadis manapun yang mencoba mendekati Revan.


Itu salah satu alasan Revan tidak bisa menerima Sonya, dia membenci gadis itu karena terlalu ikut campur dan sok peduli pada hidupnya.


Sebelum Sonya koma gadis itu benar-benar menjadi beban dan meresahkan banyak orang.


Tapi sekarang Revan merasa marah mendengar Sonya yang mengatakan membencinya. Entahlah, seharusnya dia senang karena akhirnya Sonya mengakhiri obsesi gila nya pada Revan. Namun seolah ada yang pergi dari hidupnya Revan mendadak kosong setelah Sonya mengatakan itu.


"Argh" Revan mengacak rambutnya prustasi, memikirkan gadis itu bisa membuatnya gila.


"Revan!" Herdik buk Sari melotot.


"Eh— buk Revan kayanya lagi pusing deh. Kurang enak badan dia, iya kan Van? Saya mau anter Revan ke uks dulu buk, permisi" ucap Genta menarik paksa Revan keluar kelas.


"Yaudah sana"


Buk Sari mendengus sambil membenarkan letak kaca matanya, guru itu menatap kepergian Genta dan Revan lalu kembali melanjutkan sesi pelajaran.


...oOo...


Pak Tama pun mulai membagikan kelompok. Tapi sebelum itu mereka dipisah antara perempuan dan laki-laki. Lalu nanti akan di bagi menjadi dua tim lagi.


Di kelompok perempuan Sonya tidak setim dengan Bela dan Thea, dia bersama Cleo dan tiga siswi anak kelasnya yang lain.


"Nya jangan serius-serius ya, gue gak bisa main basket" pinta Bela agar Sonya tidak benar-benar bermain kali.


Fyi, Sonya dulunya adalah mantan kapten basket putri, lalu setelah masuk kelas dua belas dia mengundurkan diri karena ingin fokus ke pelajaran.


"Oke" balas Sonya, dia juga kurang mood untuk bermain hari ini. Setelah sedikit cekcok dengan Revan di kamar mandi tadi suasana hatinya menjadi buruk.


Cleo yang menyadari itu menyenggol bahu Sonya, "kenapa lo?" Tanya Cleo curiga.


Sonya menggeleng pelan dan mulai mendribble bola ditangannya. Mereka bermain dengan tim Sonya yang mencetak poin unggul.


"Nya lempar ke gue" teriak Cleo dari ujung.


Sonya ingin melempar bola itu tapi sebelum melihat pemandangan yang lebih menarik di belakang Cleo. Akhirnya Sonya sengaja melempar bola basket di tangannya sedikit jauh dari Cleo. sampai bola itu keluar dari area lapangan dan menghantam kepala seseorang.


"Bangsaat!"


Sonya tersenyum puas di tempatnya, tepat sasaran bahkan orang itu sampai terjatuh. Ah kapan lagi Sonya bisa mempermalukan pentolan sekolah di depan banyak orang.


"Sonya" tegur pak Tama menghampiri Revan dan Genta.


Sonya mengedikkan bahunya acuh, "saya gak sengaja pak" Teriak Sonya.


Bohong, dia sengaja melakukan itu karena Sonya masih amat sangat dendam pada Revan. Kedua bahunya memiliki bekas merah dan masih terasa sakit karena cowok itu. Jadi jangan salahkan Sonya jika dia sedikit bermain-main kali ini.


Ini adalah awal, dan masih banyak lagi yang akan Sonya lakukan pada Revan.


Cleo, Bela, dan Thea menghampiri Sonya.


"Nya lo?" Syok Bela.


"Lo sengaja kan?" Tuding Thea mendapatkan senyum mematikan milik Sonya.


"Hm" jawab Sonya menepuk-nepuk tangannya lalu menghampiri Revan dan Genta di pinggir lapangan diikuti oleh teman-temannya.


"Sorry" ucap Sonya sedikit tak ikhlas, bahkan wajahnya tak menampilkan sedikitpun raut bersalah.


"Sonya yang bener minta maafnya" tegur pak Tama.


Sonya mengangguk lalu mengulurkan tangannya, "gue minta maaf, tadi sengaja— ups, gak sengaja maksudnya" ucap Sonya menutup mulutnya seolah pura-pura kaget.


Revan menatap tajam lalu berdiri dan melangkah untuk lebih dekat dengan gadis itu.


"Lo sengaja kan?" Tuduh Revan dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Van" Genta berusaha menghentikan Revan dengan menahan bahu sahabatnya namun tak berarti apapun. Revan terus maju dan Sonya mundur sedikit demi sedikit menghindari jarak dekat dengan cowok itu.


Sampai akhirnya Sonya jengah dan menahan dada bidang Revan dengan jari telunjuknya, reflek membuat cowok itu berhenti lalu mereka saling melempar tatapan tajam.


"Kena bola basket aja padahal, lemah cih!" Hina Sonya meludah di sebelah Revan.


Semua melotot menyaksikan hal itu, Genta pun akhirnya percaya dengan apa yang Revan katakan di kelas tadi. Sepertinya Sonya memang benar-benar sudah membuang perasaannya pada Revan, bahkan jauh lebih buruk dari pada itu.


"Sonya jaga sopan satun kamu, minta maaf!" Tekan pak Tama.


"Saya udah minta maaf pak, Revan aja nih memperpanjang masalah" ucap Sonya menarik kembali tangannya.


Sonya berjongkok lalu menggesekkan telunjuknya di permukaan lapangan yang berdebu. Gadis itu seolah-olah sedang membersihkan diri setelah bersentuhan dari bakteri yang paling membandel di dunia ini.


"Se-menjijikkan itu gue buat lo?"


Sonya mendongak menatap Revan, "lo tau jawabannya setelah setelah liat ini" kemudian Sonya berdiri.


"Pak saya udah minta maaf jadi saya mau ke toilet dulu. Guys, temenin gue yuk" Sonya menoleh pada teman-temannya lalu mereka pergi meninggalkan lapangan menuju toilet.


Revan menatap punggung Sonya dengan tajam, tangannya mengepal mendapatkan penghinaan dari gadis yang dulu memujanya.


Harga diri Revan seperti di injak-injak masal saat ini, Sonya gadis gila itu sudah berubah dan tak lagi mencintainya seperti dulu.


"Lo gaboleh benci gue Sonya!"