Sonya

Sonya
Permen Cherry



Plak


Pak Dwi tercengang melihat Sonya yang berani menampar Revan di depan matanya.


"Sonya" bentak pak Dwi menegur muridnya.


"Anjing! Lo manusia paling menjijikkan tau gak?!" Teriak Sonya di depan wajah Revan.


Cowok itu mengusap pipi yang memanas dan menatap Sonya tajam, "maksud lo apa? Datang-datang nampar orang" tanya Revan tersulut emosi.


"Pake nanya lo bambang! Kalian semua yang edit foto Sonya kan! Maksud kalian apa hah?!" Amuk Bela bersiap mencakar wajah Revan tapi dihentikan oleh Cleo.


"Jangan Bel! Biar Sonya aja"


Bela mendengus dan menatap satu-satu Revan dan temannya.


"Sonya, Cleo, Thea, Bela, ada apa ini? Kenapa kamu menampar Revan Sonya?" Tanya pak Dwi mendekati lapangan yang menjadi tempat  ia menjemur geng Revan, yang sempat bertengkar dengan siswa Gemilang pagi tadi.


"Diam pak! Jangan ikut campur" ucap ketiga gadis itu serentak membuat pak Dwi kicep.


"Cuma masalah foto itu dan lo nampar gue?" Tanya Revan santai.


Sonya geram melihat respon Revan yang terlampau santai, "cuma?" Ulang Sonya tersenyum sinis.


"Gue bener-bener gak ngerti mau lo apa Revan, gue udah gak ganggu lo lagi. Maksud kalian apa ngedit foto gue?" Sonya kini berganti menatap tajam Genta, Arkan, dan Yugo.


"A-anu Sonya jangan marah kita—"


"Go!" Bentak Genta menyela ucapan Yugo membuat Sonya tak sempat mendengarkan nya.


"Arkan jawab! Lo punya mulut kan!" Titah Thea.


"Kalian semua pengecut!"


"Cleo" tegur Genta emosi.


"Apa ucapan gue bener kan, kalian itu pengecut!" Ulang Cleo berani.


"Cleo lo gak tau apa-apa" herdik Arkan bersuara setelah sekian lama diam.


"Gak tau apa-apa lo bilang? Ini menyangkut sahabat gue, perbuatan kalian udah keterlaluan!"


"Emangnya kalian punya bukti? Jangan main asal nuduh dong. Bisa aja mereka bohong kan" ucap Yugo menyebut geng Air.


"Mereka temen kita, mereka gak mungkin bohong!" Tekan Bela menatap tajam Yugo.


"Aduh ini kalian ada apaan sih? Kenapa pada berantem, ayo jelasin sama bapak" tanya pak Dwi pusing.


"Diam!" Untuk kedua kalinya guru bk itu diam atas perintah murid-muridnya.


"Jawab!" Tagih Sonya masih menunggu alasan keempat cowok itu.


"Arkan" Sonya menatap Arkan, berharap diantara ketiga lainnya Arkan akan menjawab jujur. Sonya yakin Arkan pasti tau jawabannya tapi lelaki itu enggan menatap Sonya.


Dimatanya jelas menunjukkan sorot penuh rasa bersalah yang tidak bisa dijelaskan dan tidak akan dimengerti semua orang.


"Fine!" ucap Sonya tersenyum penuh luka.


Revan yang menatap itu hatinya terasa seperti iris oleh belati tajam. Entahlah Revan tidak mengerti dengan perasaannya, dia yang menyebabkan Sonya menjadi seperti ini tapi Revan tidak terima. Dia marah melihat wajah kekecewaan Sonya.


Revan menatap lekat punggung Sonya yang sudah pergi bersama teman-temannya. Ia membenci perasaan ini, Revan tidak mungkin— ARGH dia tidak boleh! Ini adalah kemauannya, keinginan melihat Sonya yang terluka. Kenapa sekarang dia yang jadi merasa bersalah.


...oOo ...


Ting


Air🐹


Udah di retas sama Rafi, lo tenang aja. Gue jamin gak akan kesebar.


^^^Thanks^^^


Sonya tersenyum menatap layar ponselnya, ia jadi merasa bersalah karena memarahi mereka tadi. Seharusnya Air, Lion, Vino, dan Rafi lah yang kecewa dengannya. Mereka jauh-jauh dari Gemilang demi membela dirinya dan rela terluka. Tapi Sonya malah kecewa terhadap sikap mereka.


Ia mengaku salah dan Sonya sangat malu dengan fakta yang sebenarnya. Tapi di satu sisi Sonya merasa senang, dia diperlakukan layaknya ratu oleh sahabat-sahabat lelakinya. Dan sudah dianggap saudara oleh para sahabat perempuannya.


Sonya merasa sangat bahagia dan menjadi orang yang paling beruntung.


Ting.


Ada pesan lagi Sonya menghidupkan ponselnya dan melihat pesan dari kontak yang sama.


Air🐹


Sonya tidak tau harus membalas apa, dia gengsi tapi juga masih terus di hantui rasa bersalah.


Drett.. drett...


"Eh?" Padahal Sonya belum mengatakan iya, tapi Air sudah menelfon nya.


"Halo"


"Gausah sedih, jangan ngerasa bersalah" suara berat Air terdengar dari seberang sana membuat Sonya makin merasa tak nyaman dengan ucapan Air.


"Maaf"


"Kan udah gue bilang, jangan ngerasa bersalah"


"Maafin gue Air, gue gak tau. Kalian pasti kecewa sama gue" ucap Sonya, mimiknya berubah menjadi sedih mengingat sikapnya di sekolah tadi pagi.


Dia pasti sudah mengecewakan Air, Lion, Vino, dan Rafi yang sudah susah-susah membela dirinya.


"Hei jangan sedih, muka lo tambah jelek"


"Ih lo tuh selalu ngerusak suasana aja" terdengar kekehan di seberang sana.


"Eh kok lo bisa tau sih?" Tanya Sonya curiga.


"Hebat kan gue"


Sonya memutar bola matanya, mata gadis itu menoleh ke bawah. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membayar rasa penasaran Sonya dari pada menunggu jawaban Air.


Sonya tersenyum kecil melihat Air melambaikan tangannya di samping mansion.


"Kenapa gak masuk?" Tanya Sonya menatap Air yang juga menatap nya dari bawah.


"Nggak lah, masa ngapelin anak orang tengah malam" jawab Air diakhiri kekehan, lelaki itu memang sangat suka tertawa. Saat bersama Sonya membuat nya awet muda karena selalu bahagia.


Sonya menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Liat ke atas deh Nya" titah Air.


Sonya menurut dan kepalanya mendongak ke atas. Sonya kaget melihat sebuah drone yang terbang di atas balkonnya. Benda terbang yang di sebut drone itu menghampiri Sonya dengan membawa kantong plastik yang berisi banyak permen rasa cherry.


"Buat gue?" Tanya Sonya melirik Air di bawah sana.


"Hm, gue tau stok lo hampir habis"


Sonya tersenyum simpul dan segera mengambil kantong itu, dia melepaskan dari drone lalu benda itu terbang bebas lagi dan kembali kepada pemiliknya di bawah.


"Thanks" ucap Sonya senang.


"Hm, gue balik. Langsung masuk, angin malam gak baik plus langsung tidur. Gaboleh begadang ntar matanya berubah kaya panda" pesan Air sebelum pergi.


"Iya bawel banget sih lo"


"Bilangin gue bawel gak kasih permen lagi nih"


"Eh jangan dong, makasih ya tuan Air yang murah hati dan tidak pelit" Air terkekeh lagi dibawah sana, sungguh Sonya selalu bisa membuat seorang Air Rajendra Mahatta tertawa sampai selepas ini.


"Muji ada maunya doang"


"Iya dong, ada barang ada pujian" ucap Sonya dengan bangga.


Tut.


Telpon di matikan sepihak oleh Air, Sonya tidak jadi marah karena sekeresek permen cherry di tangannya.


Ia langsung masuk ke dalam kamar begitu melihat Air yang sudah pergi. Dengan riangnya Sonya menyimpan  permen itu bersama miliknya yang lain.


Akhirnya ada mengisi stok permen Sonya yang hampir habis, ah hidupnya tidak akan pernah lengkap tanpa permen Cherry.


Lalu Sonya mematikan lampu kamarnya dan menarik selimut, bersiap untuk pergi tidur menuju alam bawah sadarnya.


"Good night permen cherry"


__________________


**kata-kata author:


ini part termanis yang aku tulis. kalian gimana guys bacanya?


gemes gak?


xixi**