
Air menghentikan motornya di depan gerbang Xaverius, ia merogoh ponselnya dan menekan kontak nama Sonya. Telpon pun tersambung.
"Halo?"
"Gue di depan" ucap Air sambil terus menatap ke dalam sekolah.
"Iya bentar nih gue ke sana" ucap Sonya dengan nada juteknya lalu setelah itu panggilan terputus.
Tut.
Air memilih menunggu di atas motornya sembari memainkan ponsel, namun saat mengangkat pandangan untuk mengecek kedatangan Sonya mata Air malah menangkap sosok yang membangkitkan amarahnya.
Air melihat gadis itu, orang yang menyebabkan Sonya koma sebelumnya. Melihat dia yang bisa berkeliaran dengan bebas membuat Air tidak terima.
Sayang sekali mereka tidak bisa menyeret gadis itu ke jalur hukum, anjing penjaga nya benar-benar membuat Air takjub. Orang yang menjamin pasti bukanlah dari kalangan biasa, buktinya dia rela mengeluarkan miliaran rupiah demi membebaskan Alya, orang yang telah menyebabkan Sonya celaka.
Dan Air tau siapa orang itu, dia adalah Revan. Cowok yang dulunya dikejar-kejar oleh Sonya, tidak tahu jika nanti Sonya sudah mendengar kebenaran gadis itu akan tetap mencintai Revan atau tidak.
Tapi yang pasti Air tidak akan membebaskan mereka, ia tak akan membiarkan mereka tenang setelah apa yang Revan dan Alya lakukan pada Sonya.
"Ikutin cewek itu" titah Air pada seseorang di telepon nya.
Air tidak perlu susah payah memberitahu ciri ciri Alya, atau bahkan sampai mengirimkan fotonya. Dia hanya tinggal menggerakkan ekor matanya dan orang suruhan Air akan langsung mengerti kode itu.
"Udah lama" suara Sonya membuyarkan lamunan Air. Cowok itu langsung tersenyum dan menggeleng.
Sebenarnya Air sudah lama menunggu Sonya, namun ia tak mau membuat gadis itu merasa bersalah. Lagipula ada untungnya Air sedikit menunggu, karena dia bisa mulai menyelidiki Alya setelah ini.
Air mengikat jaket kulit nya di pinggang Sonya seperti yang cowok itu lalukan tadi pagi. Tak lupa memakainya Sonya helm agar kepala gadis itu aman selama berkendara bersama nya.
"Naik" titah Air.
Sonya naik dengan bantuan Air, jujur saja motor cowok ini tinggi dan membuat Sonya jadi sedikit kesusahan. Tapi Sonya suka menggunakan motor, dia jadi bisa merasakan udara alam walau saat sampai di perkotaan Sonya harus menghirup polusi dari banyaknya kendaraan.
"Besok gue pake mobil aja ya"
"Gausah, naik motor aja gue suka" tolak Sonya melingkar tangan di perut Air.
Air merasakan jantungnya yang berdetak tidak normal lagi, kemudian cowok itu menjalankan motor nya meninggalkan pekarangan sekolah Sonya.
Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam, terjadi kecanggungan diantara keduanya. Namun yang terlihat jauh berbeda dari keadaan saat ini.
Buktinya Sonya dengan nyaman memeluk Air dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu. Sedangkan sebelah tangan Air mengelus punggung tangan Sonya yang bertengger manis diperutnya.
Mereka terlihat layaknya sepasang kekasih yang sudah biasa berboncengan seperti itu. Padahal nyatanya dulu Sonya dan Air tak sedekat ini, mereka lebih banyak bertengkar setiap bertemu. Namun sekarang keduanya terlihat lebih menghargai waktu dan momen saat bersama.
Mungkin pengalaman mengajarkan keduanya tentang seberapa berharganya waktu yang tidak bisa diputar ulang.
Komanya Sonya kemarin membuat Air sadar akan pentingnya gadis itu dalam hidupnya, Air tidak menyangkal perasaannya pada Sonya. Jika saat ini Air sungguh telah mencintai Sonya sampai sedalam itu. Dia tidak ingin kehilangan Sonya dan merindukan gadis itu dengan keadaan menyedihkan seperti kemarin.
"Turun, udah sampe" suara Air mengangetkan Sonya.
Gadis itu segera turun dari motor Air dan menyerahkan helm juga jaket Air pada pemiliknya.
"Thanks" ucap Sonya tersenyum simpul.
"Lo sekarang banyak senyumnya ya" Air ikut tersenyum karena tertular kemanisan senyum Sonya.
"Eum gue cuma pengen ngelakuin sesuatu yang jarang gue lakuin dulu, ya selagi masih di kasih waktu sama tuhan" ucap Sonya tapi Air malah mengarahkan telunjuknya pada bibir gadis itu.
"Syut, gaboleh ngomong gitu. Lo panjang umur kok, tenang aja" kata Air membuat Sonya terkekeh.
"Lo juga sekarang udah ngurag ngurangin nyebelin yah, walaupun gue kadang masih suka darah tinggi karena lo" ucap Sonya terkekeh kembali.
"Sama gue juga pengen menghargai selagi tuhan masih ngasi waktu" Air mengacak gemas puncak kepala Sonya membuat rambut gadis itu menjadi berantakan.
"Ih Air rambut gue" kesal Sonya mencak-mencak.
Air terkekeh, padahal baru saja Sonya senang karena Air mengurangi kejahilannya. Tapi sepertinya Sonya salah, gadis itu menarik ucapan kembali.
"Masuk gih, jangan lupa mandi, makan, terus bobo siang" titah Air memakai helmnya.
"Hm, lo hati-hati baliknya" pesan Sonya, Air mengangguk dan menancapkan gasnya meninggalkan perkarangan rumah Sonya.
Setelah melihat kepergian Air Sonya langsung masuk ke dalam rumahnya dan mengerjakan apa yang diperintahkan Air.
Entahlah kenapa juga dia menurut, tapi seperti di sihir Sonya ingin saja melakukan itu semua. Karena apa yang dikatakan Air adalah kehidupan pokok yang harus dia kerjakan.
...oOo...
Sonya menerima buket mawar berwarna merah itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bunga dari siapa sayang?" Tanya Tania menghampiri putrinya.
Sonya mengedikkan bahu bingung, "gak tau Mom, pengirimnya gak jelas" jawab Sonya.
"Yaudah terima aja, siapa tau dari salah satu fans kamu disekolah" Sonya menuruti perkataan Tania dan membawa buket itu menuju kamarnya.
Sonya menganti bunga lili di kamarnya dengan mawar merah itu. Karena kebetulan bunga yang berada di kamarnya sudah kering dan perlu di ganti.
"Bermanfaat juga nih yang ngirim, btw makasih walaupun gue gak tau lo siapa" Sonya berucap meski tahu tak ada seorangpun yang mendengarnya.
Ia berjalan menuju balkon, menikmati angin sore di ayunan. Tempat ini adalah salah satu spot favorit Sonya di kamarnya.
Bi Ina mengantarkan segelas susu dan pie madu membuat waktu santai Sonya semakin lengkap. Dia memakan lahap pie buatan kokinya, masih sama dan selalu terasa lezat batin Sonya sambil menghabiskan semua makanan nya. Lalu meminta seorang maid untuk membereskan piring dan gelas yang kotor.