Sonya

Sonya
Merasa Bersalah



Dimeja nya Revan menatap Sonya dan teman-temannya gadis itu dari kejauhan. matanya tak lepas mengamati gerak-gerik gadis itu yang sedang makan, dari ke antusias-san Sonya, cara dia minum dan menyuapkan makanan. matanya berbinar entah karena makanan yang lezat tapi yang Revan tau Sonya selalu berbinar dengan apapun yang dimakannya.


gadis itu tetap sama dan tidak pernah berubah di mata Revan, Sonya yang selalu bersemangat jika tentang makan dan makanan terlihat sangat lucu.


tiba-tiba perkataan Rini terngiang-ngiang di otaknya, pandangan Revan berubah menjadi dingin. sorot mata tajamnya membidik Sonya yang berjarak beberapa meter di meja lain, tangan Revan terkepal.


tidak! Rini tidak boleh menyakiti Sonya, Revan tidak ingin gadis itu terluka lagi. perasaan tidak rela itu entah kenapa muncul dan menggerogoti hati Revan yang terus merasa bersalah terhadap Sonya.


dia belum meminta maaf atas perlakuan yang menjamin Alya dulu, Revan akui dia salah. dirinya sangat tidak layak di sebut seorang lelaki karena melakukan seperti itu. tapi di satu sisi Revan juga berusaha menyelamatkan adiknya, dia tidak ingin Rini bersedih.


Revan memang tidak menyukai Sonya dan membenci gadis itu, semua perlakuan Sonya selama ini cukup membuat nya risih dan muak. namun Revan tidak sekejam itu sampai berniat ingin mencelakai Sonya. apalagi melihat perubahan Sonya akhir-akhir ini membuat rasa bersalah Revan semakin besar.


dia hanya menemukan tatapan terluka Sonya saat menatap matanya, sorot kebencian yang terlihat jelas. tidak ada lagi tatapan cinta dan penuh pujaan dari gadis yang sebelumnya mengejar Revan.


Sonya tidak lagi mencintainya, gadis itu tidak pernah berusaha menarik perhatian Revan lagi.


Revan memejamkan matanya membayangkan semua penolakan yang dia berikan pada Sonya dulu. semua perlakuan kasar dan makian yang Revan berikan pada Sonya.


pantaskah dia melakukan semua itu?


padahal Sonya hanya mencintai dan mencoba memperjuangkan cinta itu. kenapa dia seolah merasa menyesal.


"maafin gue Nya" batin Revan menatap sendu ke arah Sonya.


...oOo...


"ultah Vino tinggal empat hari lagi nih" ucap Cleo setelah melihat kalender di ponselnya.


"lah iya, gak kerasa njir tambah tua duluan dia" celetuk Thea juga ikut mengecek ponselnya.


"pokoknya kita harus bikin kejutan"


"harus, tapi kita buatnya dimana ya? kalo dirumah dia pasti bakal ketahuan" tanya Cleo meminta pendapat teman-teman yang lain.


"tanya yang cowok aja, kita musyawarah dulu sama mereka tapi tanpa Vino" usul Sonya.


"bener tuh"


"gasabar deh gue, mesti ada ceplok telor nih biar seru. sekalian gue mau balas dendam tas LV gue tahun lalu di balut belerang sama tu kunyuk" ucap Bela penuh dendam.


Sonya, Cleo, dan Thea tertawa mengingat kejadian itu. setahun yang lalu saat ulang tahun Lion, dengan isengnya Vino menaburi belerang di atas kepala Bela tapi malah mengenai tas mahalnya.


Bela tentu sangat dendam dan mengingat kejadian itu sampai saat ini, bahkan yang lainnya pun masih mengingat jelas. malang sekali tas branded Bela untungnya diganti rugi oleh Vino.


"bener-bener itungan lo, udah diganti loh padahal mereknya sama lagi" Cleo memandang sinis ke arah Bela.


"biarin aja, itung-itung surprise. orang ulang tahun gak afdol kalo gak dikerjain. Vino aja kurang kerjaan, Lion yang ultah malah gue yang di tabur belerang" ucap Bela keras kepala.


"kasian tapi boleh deh, dia juga sering buat gue kesel" Sonya menyetujui usulan Bela lalu mereka berdua bertos ria.


"eh guys bokap gue udah jemput duluan yah" pamit Cleo pulang duluan.


"hati-hati"


"gue deh Nya, lo bawa mobil kan?" tanya Cleo dan Sonya mengangguk.


"The gue nebeng ya, kaya biasa"


"dih pulang sendiri lo, mobil gue gak nerima penumpang" tolak Thea mentah-mentah.


"elah The pelit amat sih, tega lo" Bela memanyunkan bibirnya membuat Thea ingin muntah.


"sama Sonya"


Thea mendengus jika sudah begini, pasti Bela akan menangis kalau tetap di tolak.


"udalah The bawa aja sana, nangis ntar" titah Sonya menatap Bela kasihan.


"ck, yaudah" putus Thea sedikit tidak ikhlas.


"yeay, gue duluan ya sama Thea ya Nya. lo hati-hati nyetirnya" pesan Bela, Sonya hanya mengangguk lalu menatap kedua temannya yang memasuki mobil Thea.


Sonya pun pergi ke tempat mobilnya di parkir namun ditengah jalan Sonya berpapasan dengan Revan yang sepertinya juga belum pulang.


"Sonya"


gadis itu refleks berhenti saat namanya di panggil, mereka berdiri bersebelahan dengan badan menghadap berlawanan arah.


"hati-hati" pesan Revan kemudian pergi begitu saja.


Sonya berbalik dan menatap punggung cowok itu dengan pandangan tidak percaya. dia repot-repot berhenti dan Revan hanya mengatakan itu.


"dasar gak jelas" gerutu Sonya masuk ke dalam mobil lalu mengendarai kuda besi itu melintasi jalan raya kota jakarta.


Sonya berhenti sebentar di supermarket karena dia ingin membeli sedikit cemilan untuk nanti malam.


tak lupa Sonya juga sekalian mengabari Air jika dia sudah dalam perjalanan pulang. Sonya takut jika Air menyusul nya ke sekolah tapi dia malah sudah pulang.


"berapa mba?" tanya Sonya pada kasir perempuan yang sedang menghitung belanjaannya.


"semuanya 229.900 kak"


Sonya menyerahkan uang senilai 230.000 rupiah.


"100 peraknya boleh kita donasikan kak?" tanya kasir itu tersenyum ramah pada Sonya.


"iya gapapa" lalu setelah itu Sonya menerima belanjaannya.


Sonya membawa dua kresek besar ke dalam mobil dan menyalakan mesin kembali.


tapi Sonya mencabut kuncinya kembali saat melupakan sesuatu. dia teringat tissue di mobilnya sudah habis. terpaksa Sonya turun lagi dan membeli tissue sebelum pergi dari supermarket itu.


"ada yang ketinggalan ya kak" tanya kasir itu melihat Sonya yang kembali dengan dua buah tissue di tangannya.


Sonya tersenyum, "iya kak, berapa?"


"semuanya 25.000"


Sonya memberikan uang pas lalu mengambil kresek baru yang berisi tissue dan struk belanja nya.


Sambil berjalan keluar dari supermarket Sonya menatap struk belanjaan itu.


"mahal amat" itulah yang keluar dari mulut melihat harga satuan tissue, padahal keluarga nya kaya dan Sonya mampu membeli pabrik tissue sekaligus. hanya tinggal bilang dan Arga akan mengabulkannya.


Sonya mengantongi struk itu dan menatap lurus ke depan, melihat mobil di pinggir jalan. Sonya sengaja memarkirkan di sana karena parkiran supermarket penuh dengan truk pengantar barang. Sonya mempercepat langkahnya, takut mobilnya akan mengganggu pengendara lain.


Sonya membuka kunci mobilnya menggunakan remote dengan otomatis. tangannya hendak meraih gagang pintu tapi tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah belakang.


Sonya reflek mundur dan menatap mobilnya yang terseret hingga menabrak sebuah truk di depan sana.


Brak.


Sonya menyaksikan sendiri bagaimana mobil itu sengaja menabrak mobilnya. tubuh Sonya lemas, kakinya seketika lembek seperti jelly. Sonya terjatuh dengan kresek tissue di tangannya. jantung gadis itu berdegup kencang dengan padangan lurus yang menatap kosong.


"Sonya!"