
Sonya tersenyum smirk lalu berjinjit di sebelah Revan dan membisikkan sesuatu yang membuat cowok itu menegang.
"jangan paksa gue kalau lo gamau fakta lo yang sebenarnya anak ****** tersebar seantero Xaverius"
Sonya tertawa dalam hati melihat Revan yang terdiam membisu.
Revan menatap Sonya tajam, kemudian langsung pergi begitu saja dari sana, di susul teman-temannya dan geng Stella.
"Daebak! lo bilang apa sama Revan Nya?" Tanya Thea takjub.
"Sampai terdiam gitu" Bela benar-benar terpukau.
"Kena mental tuh" Cleo terkekeh puas melihat kekalahan Revan dan gengnya.
"Rahasia, yuk kelas" ucap Sonya lalu dia duluan pergi menuju kelas.
"Yah Nya, gaseru main rahasia-rahasia ih" kesal Bela lalu mereka bertiga menyusul Sonya.
...oOo...
"Sialan!" Revan membanting kursi di kelasnya membuat murid-murid yang lain menjadi kaget.
"Kalian keluar dulu" titah Genta membuat mereka berhamburan keluar kelas.
"Argh anjing kenapa dia bisa tau?" Tanya Revan berteriak prustasi.
"Tau apa Van? Emang Sonya bilang apa sama lo?" Tanya Yugo penasaran.
Revan menggeleng gusar, kepalanya mendidih melihat Sonya kini mengetahui fakta tentang keluarganya.
Bagaimana gadis itu tau? Padahal dia sudah menyembunyikan nya serapat mungkin.
Bahkan para sahabat-sahabatnya mustahil tau, tapi Sonya? Revan merasa semakin kalah dengan gadis itu. Apalagi sekarang dia memiliki senjata yang kapan saja siap membuat Revan bertekuk lutut.
Gadis itu sangat berbahaya, Revan tidak bisa terus membiarkannya. Sebelum Sonya bertindak lebih jauh dan menyebarkannya di depan publik.
"Van, Alya gimana?" Tanya Genta, pasalnya mereka tadi meninggalkan geng Stella begitu saja karena kondisi Revan yang sedang emosi.
Revan memejamkan matanya mendengar pertanyaan Genta, sial dia melupakan Alya.
"Mending kita susul deh, kasihan Alya" ucap Yugo lalu mereka berempat segera pergi menuju kelas Alya.
...oOo...
"Diem lo!" Sentak Stella.
"Dih apaan sih lo Stell, jelas-jelas udah ada buktinya emang dasar temen lo aja ******. Murahan gak punya harga diri" hina teman sekelasnya membuat Stella dan Risa mendidih.
"Gue bilang diam!" Bentak Stella mengamuk.
Teman-teman sekelasnya menyoraki Stella, mereka tidak segan untuk menghina dan mencaci maki Alya. Murid-murid 10 IPA 4 merasa sangat malu karena sekelas dengan gadis itu.
"******!"
"Gak heran sih kak Sonya aja kemaren di dorong dari tangga"
"Udah kriminal ***** lagi, semua di borong sama Alya"
"Satu jam berapa? Oh murah— gak minat deh udah sering dipake soalnya pasti longgar banget"
"Menjijikkan"
"Jauh-jauh deh lo dari gue"
Alya menunduk kan kepalanya, ia menangis dalam diam. Menelan pahit pahit hinaan yang di berikan untuk nya. Alya merasa seperti sudah tidak punya harga diri lagi.
Dia malu, sungguh malu sampai rasanya Alya ingin menggantung diri hidup-hidup.
Brak
"Alya" panggil Revan menghampiri Alya di bangkunya.
"Siapapun yang berani bully Alya berurusan sama kita!" Ancam Yugo menatap tajam murid-murid di kelas 10 IPA 4 membuat mereka akhirnya diam. Sabi kalo di sekolah tapi di sosial media siapa yang bisa ngelarang?
"Kak Revan" Alya terisak di pelukan Revan.
"Aku cape kak! Aku pengen mati aja!" Teriak Alya prustasi tiba-tiba dia mendorong Revan dan berlari ke luar kelas.
"Jangan nekad Alya" peringat Genta menatap cemas Alya yang nekat memanjat pembatas balkon lantai dua.
Mereka mengejar sampai ke lantai dua dimana kelas Sonya dkk berada.
"Kak Sonya!" Teriak Alya dengan wajah basah yang dipenuhi air mata.
"Jangan mendekat kak!" Bentak Alya pada Revan yang ingin menghentikan aksi gila gadis itu.
"Alya lo apa-apaan sih turun Alya!" Bujuk Stella ikut menangis.
"Alya plis turun" pinta Risa.
"Aku gamau Ris" Alya menggeleng lemah.
Revan mengacak rambutnya prustasi, begitupun dengan Genta dan Yugo yang pusing bagaimana cara membujuk Alya.
"Kak Sonya keluar!" Teriak Alya.
"Apaan sih anjing?! Berisik!" Bentak Sonya keluar dari kelasnya, tidak hanya Sonya tiga kelas yang berada di lantai dua juga ikut keluar sekaligus.
Mereka semua mendadak heboh melihat aksi nekad Alya. Apalagi dia terus meneriaki nama Sonya sejak tadi membuat semua siswa-siswi menyiapkan ponsel masing-masing.
"Mau tu anak apa lagi sih?" Kesal Cleo merasa jengah dengan Alya dan antek-anteknya.
"Drama pasaran cih"
"Kak Sonya bilang ke semua orang kalau kakak udah maafin aku" teriak Alya membuat Sonya melotot.
Apa-apaan ini!
"Bapak lo Bram! Gila kali ya, itu mah enak di elo"
"Kok bram sih Nya? Kan Alya anak haram gatau siapa bapaknya" kata Bela polos tanpa sadar telah memancing emosi Revan.
Semua yang mendengar penuturan polos Bela tertawa bahkan Sonya sekalipun tak dapat menahan tawanya.
"Lo kalau ngomong suka bener Bel, sama sih maksud gue itu Bram artinya berame rame" ucap Sonya menanggapi perkataan Bela.
Bela mengangguk polos, "oh gitu"
Alya menggeretakan giginya, ia nekad melompat membuat semua orang berteriak kaget.
"Alya!" Arkan menahan kedua tangan Alya sebelum gadis itu sempat terjun bebas.
Semua orang bernafas lega karena gerak Arkan yang cepat.
Revan, Genta, dan Yugo juga ikut membantu menolong Alya.
"Lo gila?" Marah Revan menatap tajam Alya, gadis itu menunduk takut.
"Buru-buru banget sih pengen ke neraka, hukuman lo di dunia belum selesai btw" ucap Sonya memandang jijik ke arah Alya kemudian dia menatap Revan.
Sonya memberikan tatapan datarnya, "kayanya adik lo lebih butuh psikiater duluan dari abangnya" ucap Sonya pada Revan kemudian gadis itu pergi meninggalkan tanda tanya di kepala banyak orang.
Maksud kak Sonya apa ya?
Apa mungkin Revan sama Alya saudara?
Gak nyangka banget.
Wah bisa jadi informasi kak Sonya kan selalu akurat.
Adik kakak sama aja.
Sama-sama menjijikkan.
Adiknya kriminal, kakaknya penjamin.
Gila sih tapi gak heran soalnya sifatnya sama.
Siswa-siswi berbisik membicarakan perkataan Sonya tadi membuat Revan mengepalkan tangannya.
"Makin gak bisa di biarin!" batin Revan menggeretakan giginya.