Sonya

Sonya
Tak Berdaya



Setelah dari dapur, Albert langsung masuk ke kamarnya. Masih sama seperti tadi, Albert masuk sambil membanting pintu karena kesal pada Sonya.


“Wanita itu benar-benar membuatku gila! Bisa mati aku jika terus bersama dengannya,” ucap Albert, ia mendudukan diri di ranjang. Kemudan mengambil ponsel yang tadi lemparkan.


ponsel itu sudah hancur dan sekarang, ia kesulitan untuk menghubungi Aida. Albert mengusap wajah kasar, dia menjambak rambutnya ke belakang. “Kenapa kau bodoh sekali, Albert!" umpatnya pada diri sendiri.


Saat ia ingin menghubungi Aida kembali. Ponselnya sudah hancur. Padahal semua tentang Aida ada di ponsel itu.


Albert membanting tubuhnya ke ranjang, kemudian ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring dengan posisi terlentang. Matanya menerawang pada langit-langit.


Tiba-tiba, tiba bulir bening terjatuh dari pelupuk mata lelaki tampan itu, ini begitu sesak dan ini begitu menyakitkan. Lagi-lagi, wajah Aida kembali menubruk otaknya. Kenangan-kenangan manis bersama kekasihnya berputar-putar pikirannya.


Aida benar-benar telah memenuhi seluruh hidup Albert.


Setelah sibuk dengan pikirannya sendiri, Albert memejamkan matanya dan mulai terlelap


keesokan harinya


Albert keluar dari kamar, perutnya sungguh keroncongan dan meminta untuk diisi, rasa laparnya semakin menjadi-jadi, kala ia mencium aroma masakan yang begitu mengoda.


Ia mentikan langkahnya saat menyadari bahwa Sonyalah yang memasak. Albert tertegun, ketika melihat Sonya, sedang berada di dapur. Ia pikir, Sonya adalah anak yang manja dan tak bisa melakukan apa-apa. Tapi Albert salah, Sonya bahkan bisa memasak dan dari aromanya saja, Albert yakin, makanan Sonya sangat enak.


Albert melanjutkan langkahnya. Lalu duduk di meja makan berharap Sonya memberikan makanan tanpa ia memintanya karena akan terlalu gengsi bagi Albert jika ia meminta masakan Sonya


.


“Apa kau tidak membuatkan sarapan untukku?” tanya Albert matanya menatap Sonya dengan nyalang.


Sonya memasukan omlete ke mulutnya, kemudian menatap Albert. “Kau punya tangan bukan? kenapa bukan kau saja yang yang membuat sarapan untuk dirimu sendiri,” jawab Sonya dengan acuh..


Ia kembali menikmati omelet yang ia buat,.membuat Albert menelan salivanya karena omelet buatan Sonya tampak begitu menggiurkan.


“Kau mau?” tanya Sonya ketika Albert terus melihat omelet di piringnya.


Albert tersadar, kemudian menatap wajah Sonya dengan tatapan tak suka. “Tidak, aku tidak mau. Aku tidak Sudi memakan makanan buatanmu,” jawab Albert, sedangkan Sonya hanya mengangkat kedua bahunya acuh, kemudian memulai menyuapkan lagi makanannya.


Albert mendekus saat melihat tingkah Sonya yang acuh. Ia menarik gelas, lalu menuangkan susu ke dalam gelas, dan meminumnya hingga tandas. Matanya tak lepas melihat soalnya yang sedang mengunyah makanan.


“Aku tidak punya urusan dengan hidupmu, Apapun yang kau lakukan, ke mana pun kau pergi, aku tidak perduli! yang harus kau pastikan, bersikaplah seolah kita pasangan suami istri di hadapan keluarga kita,” ucap Albert ketika ia bangkit dari duduknya.


Sonya hanya melihat ke arah Albert sekilas kemudian kembali fokus pada makanannya, membuat Albert ingin sekali mencekik wanita di depannya ini.


Ia biasa dihormati oleh karyawannya dan orang-orang sekitarnya, mendadak seperti orang yang sangat idiot jika berhadapan dengan Sonya, yang terlihat sama sekali tidak menghargainya.


Setelah mengatakan itu, Albert berlalu meninggalkan Sonya lalu keluar dari apartemennya dengan hati yang luar biasa kesal.


Dan setelah Albert pergi, Sonya menghentikan gerakan mengunyahnya, kemudian menunduk lalu matanya berkaca-kaca. Ini bukan rumah tangga impian, ini bukan rumah tangga yang normal, Sonya ingin memiliki suami yang menyayanginya dan mencintainya bukan seperti Albert.


Tapi, ia bisa apa ...