Sonya

Sonya
Yang Sebenarnya



Geng Sonya dan geng Air tengah berkumpul di cafe biasa, Sonya merasa sangat senang karena bisa ketempat itu lagi. Rasanya sudah sangat lama sejak ia terbaring koma di Jepang.


"Gue milkshake strawberry sama pie susu" Sonya mengucapkan pesanannya pada pelayan. Yang lain juga ikut menyebut kan pesanannya lalu pelayan itu segera pergi untuk menyiapkan.


"Gue yakin selama gue gak ada pasti kalian gak ngapa-ngapain di sini kan. Main ponsel, diem dieman" tebak Sonya.


"Kok tau sih, lo ke dukun ya? Saran dong gue pengen melet orang tapi gatau bagus yang mana" tanya Vino ngaur mendapatkan jitakkan di jidatnya.


"Gila lo! ngapain gue ke mbah dukun?!"


"Ya mana tau kan, soalnya lo itu serba tau" kata Vino lagi.


"Duh gue kan kenal kalian, siapa sih yang gak sedih kehilangan seorang Sonya. walaupun sebentar doang sih" ucap nya di lanjutkan dengan kekehan.


Namun rupanya tidak membuat yang lain merasa lucu atau terhibur dengan guyonan absurd Sonya.


"Jangan ngomong gitu lagi Nya" tegur Rafi tak suka dengan candaan Sonya. Mereka jelas sangat khawatir tapi bisa-bisa gadis malah membercandakan keadaan nya yang sempat koma kemarin.


"Iya iya" sesal Sonya menunduk.


"Eh Nya rencana basmi para kuman itu mana, lo bilang udah ada?" Tanya Cleo mengubah topik pembicaraan. Semuanya menatap ke arah Sonya.


"Ada tapi gue mau kalian kasih tau yang sebenarnya dulu"


"Yang sebenarnya apa Nya?" Tanya Thea tidak mengerti, buka hanya Thea tapi mereka semua juga tidak mengerti dengan maksud Sonya.


"Daddy sama Mommy udah tau siapa dalangnya kan, gue juga tau kalo Alya yang dorong gue dari tangga sekolah. Tapi pertanyaannya kenapa dia bisa bebas? Kalo Daddy pasti akan ngambil tindakan hukum. Jadi gue heran kenapa dia bisa keliaran dan muncul di hadapan gue dengan setenang itu?" Sonya mengeluarkan pertanyaan yang setelah sekian lama dia pendam.


Sonya sangat penasaran kenapa penjahat seperti Alya bisa dengan bebasnya berkeliaran bahkan bisa melanjutkan sekolah. Sudah jelas bukti rekaman cctv yang mana memperlihatkan gadis itu mendorong Sonya di tangga sekolah.


"Ini semua karena Revan Nya, dia yang menjamin Alya sampai bisa bebas. Gue, Air, semuanya, bahkan nyokap, bokap lo udah berusaha untuk masukin Alya ke penjara. Tapi semuanya sia-sia karena Revan, kita juga gabisa melaporkan Alya ulang. Karena Revan ngasih jaminan yang besar waktu itu" jelas Cleo panjang lebar diakhiri helaan nafas berat.


Sonya tentu saja kaget mendengar itu, dia tidak menyangka dengan apa yang Revan lakukan. Keputusannya untuk membuang perasaan terhadap lelaki itu ternyata adalah pilihan terbaik, Sonya merasa sangat bersyukur karena telah sadar dari cinta yang membuatnya buta.


"Oke gue bakal rubah ulang rencana awal, Revan dia juga gabakal gue lepasin setelah apa mereka lakukan" ucap Sonya penuh penekanan, tangannya mengepal di bawah meja tanpa sepengetahuan teman-temannya.


"Kita bakal bantu lo" ucap Air bersungguh-sungguh.


"Kita semua akan selalu ada di samping lo Nya" Bela mengusap kedua bahu Sonya membuat gadis itu tersenyum.


"Thanks, gue gabisa berkata-kata. Intinya gue sayang banget, banget, pake banget dan gue juga bersyukur punya kalian" ucap Sonya tulus membuat Bela, Cleo, dan Thea segera memeluknya erat.


"Kita juga mau ikutan dong" pinta Vino sangat ingin ikut bergabung.


Lion menjitak kening Vino membuat sang empu mengaduh kesakitan.


Tak.


Dua kali sudah.


"Iya lo emang halal buat di nistain"


...oOo...


Sonya dulu memang pernah menyukai Revan, bahkan cinta yang membuatnya buta. Sonya rela melakukan apa saja untuk menarik perhatian Revan.


Dia mengejar-ngejar cowok itu seperti tidak punya harga diri, berulang kali menyatakan cinta tanpa malu, sungguh kelakuan nya dulu membuat sakit kepala.


Tapi sekarang Sonya sadar jika Revan tak baik untuknya. Cowok itu dengan kelakuan hina nya membeli hukum untuk membebaskan Alya. Pelaku yang menyebabkan Sonya koma dulu.


Ia masih ingat dengan jelas apa yang membuat Alya sampai mendorongnya, Sonya mem-bully Alya habis-habisan setelah tau latarbelakang keluarga gadis itu. Dia menghina ibu kandung Alya yang memiliki profesi sebagai seorang ****** yang dijejerkan di bar-bar seluruh kota Jakarta.


Tentu seorang anak tidak ada yang terima jika ibunya di hina. Alya yang kalut saat itu mendorong Sonya sangking emosi nya, dia terluka dengan kata-kata Sonya yang melakukan itu semua karena membenci Alya.


Awalnya Alya adalah gadis pintar yang bisa masuk dengan jalur beasiswa, lalu karena prestasi dan kepribadian nya yang lemah lembut membuat Revan sang most wanted tertarik pada gadis itu.


Sebenarnya mereka tidak berpacaran hanya saja perlakuan manis dan perhatian yang Revan berikan pada Alya berhasil membuat Sonya terbakar api cemburu.


Sonya pun mulai mem-bully Alya sejak itu, membuat Alya yang lemah dijauhi orang-orang dan di caci maki. Semua orang tentu saja berpihak pada Sonya sang ratu sekolah. Mereka akan menurut jika di suruh apa saja oleh Sonya membuat gadis itu semakin mudah untuk menjatuhkan Alya.


Dan sejak kejadian Alya yang mendorong Sonya semua orang bertambah membenci gadis itu dan sering mem-bully nya mengantikan Sonya.


Alya juga sempat masuk ke kantor polisi dan dipenjara dua Minggu. Namun setelah itu entah bagaimana caranya Alya bisa masuk lagi ke sekolah.


Semua itu berkat Revan, dia yang menjamin Alya dan meyakinkan pihak hukum untuk membebaskan Alya yang dianggap tidak sengaja mendorong Sonya.


Sekarang Sonya tidak akan membiarkan sepasang bedebah itu lepas lagi. Jika tidak ada yang sanggup maka Sonya yang akan turun tangan untuk menghukum mereka. Persetanan dengan Arga yang selalu melarang dirinya menghakimi. Toh sejak awal Sonya suka mem-bully anak orang sampai akhirnya tidak kuat dan mengangkat kaki dari Xaverius.


"Munafik" bisik Sonya ketika berpapasan dengan Revan membuat cowok itu refleks berhenti dan Sonya pun ikut menghentikan langkahnya.


Mereka sama-sama berbalik dan saling melemparkan tatapan tajam.


"Maksud lo apa?"


"Lo tau maksud gue apa" jawab Sonya santai sambil memainkan kuku-kuku.


Revan maju, menyudutkan Sonya ke dinding lalu mencengkeram kuat kedua bahu gadis itu.


"Jangan karena lo perempuan gue bakalan segan"


"Jangan karena di tempat sepi lo pikir gue takut" Sonya mengikuti gaya bicara Revan membuka cowok itu berdecak.


"Mau lo apa?" Tanya Revan, dia sedang malas berdebat saat ini apalagi dengan gadis yang dulu selalu menempeli nya bak lalat.


"Mau gue? Simpel, lo mati itu udah cukup!"