Sonya

Sonya
Sonya Lovers



Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu tapi Sonya terlihat ragu untuk keluar membuat teman-teman heran.


"Nya ayo dong laper gue" keluh Thea mengusap-usap perut ratanya.


"Iya gue juga udah laper Nya ayok ke kantin" rengek Bela.


Sonya mengangguk tengkuknya yang tidak gatal, ia jadi merasa tak enak dengan teman-temannya yang menunggu.


"Yaudah ayok" ajak Sonya kemudian mereka bersama-sama keluar kelas.


Baru saja keluar dari pintu kelas Sonya sudah dihadapkan dengan para fansnya yang berbondong-bondong memberikan Sonya hadiah. Cleo, Bela, dan Thea pun sampai kewalahan membantu membawa berang-berang yang diberikan Sonya Lovers.


"Eh— makasih, tapi udah yah kayanya udah cukup deh" ucap Sonya menolak halus mereka-mereka yang ingin memberinya hadiah lagi.


Dengan kecewa pun Sonya Lovers menurut, mereka memberikan jalan untuk Sonya dan teman-temannya.


"Sorry ya" ucap Sonya tak enak hati pada mereka.


Inilah yang gadis itu takutkan sejak tadi, namun sepertinya Sonya Lovers mengerti membuat nya jadi merasa lebih lega.


"Yang di tangan gue buat gue ya Nya" pinta Bela dengan puppy eyes nya.


"Ye punya Sonya enak aja lo main mintak, modal dong" Thea memberikan sindiran keras membuat Bela mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya buat lo, yang di tangan kalian berdua juga ambil" ucap Sonya, bukannya tak menghargai pemberian para fansnya. Tapi ditangan Sonya pun sudah banyak berbagai macam benda seperti buket, coklat, dan lain-lain.


Dia tak membutuhkan sebanyak itu dan dari pada mubazir lebih baik dia berbagi dengan teman-temannya.


"Beneran Nya?" Tanya Thea girang.


Sonya mengangguk, "iya ini juga ditangan gue ada banyak" jawabnya membuat Thea dan Cleo menjadi kegirangan.


Mereka membawa banyak hadiah itu sekalian ke kantin, karena tidak mungkin mereka harus kembali ke kelas untuk meletakkan semua itu. Pasti akan melelahkan dan memakan banyak waktu.


Mereka sampai di kantin dan memilih bangku paling pojok dan agak sepi, "kalian mau apa? biar gue sama Thea yang pesen" Tanya Bela.


"Gue mau bakso deh, minuman samain aja" ucap Sonya membuka salah satu coklat pemberian fansnya.


"Gue juga sama aja" kata Cleo lalu Bela dan Thea pergi untuk memesankan makanan mereka.


"Eh ini enak tau, cobain deh coklat rasa baru" Sonya menyodorkan coklat miliknya, dengan senang hati Cleo mengigit potongan coklat itu namun dirinya langsung menampilkan wajah kecut.


"Matcha ya, ih gue gak suka" Cleo meminum air putih langsung membuat Sonya segera melihat bungkus coklatnya.


Dan ternyata benar itu adalah varian rasa matcha, Sonya lupa jika Cleo tidak menyukai segala jenis olahan teh hijau membuatnya merasa bersalah.


"Yah gue gak tau Cle" sesal Sonya memberikan permen cherry kesukaannya agar rasa matcha yang menganggu lidah Cleo tergantikan rasa manis.


"Gapapa, lo kan gatau kebanyakan tidur sih jadi lupa kan" goda Cleo membuat Sonya mencebikkan bibirnya.


"Gue udah coba bangun Cle tapi ya gitu, susah. Kemaren itu gue berusaha banget" ucap Sonya bersungguh-sungguh. membuat Cleo terkekeh melihat ekspresi Sonya yang menurutnya lucu.


"Iya deh, lo hebat karena udah berjuang dan mau kembali lagi sama kita kita" ah Cleo jadi melow lagi.


Sonya segera memeluk Cleo, menepuk-nepuk punggung sahabatnya membuat Cleo merasa tenang.


"Jangan lagi ya Nya, janji loh ini yang pertama dan terakhir"


Sonya terkekeh, "iya gue janji" ucapnya melepaskan pelukan.


Cleo tersenyum sambil menyeka air matanya.


Kemudian Bela dan Thea datang dengan mangkok bakso dan jus jeruk.


"Wah-wah kenape nih ada yang terhura kayanya" suara cempreng Bela berhasil merusak suasana.


"Terharu" koreksi Thea duduk.


"Ah sama aja" kekeuh Bela.


Cleo mendengus, "dasar lo ngerusak suasana aja" rajuk nya mengambil tissue.


Bela terkekeh dan menuangkan saus di baksonya, tiba-tiba ada seorang adik kelas mengantarkan paper bag untuk Sonya. Awalnya gadis itu berpikir jika itu salah satu dari Sonya Lovers.


"Apa-apaan?" Tanya Bela heboh.


Cleo memiringkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sonya, sontak gadis itu membelalakkan matanya melihat nama si pengirim


To: Ratu Xaverius.


Dimakan! Jangan beli yang aneh-aneh lo masih belum sepenuhnya pulih!


From: yang paling tenang di dunia ini.


"Air" ceplos Cleo, hanya nama itulah yang terlintas dalam otaknya begitu memikirkan sesuatu yang paling tenang. Jawaban hanya satu yaitu Air, teman-teman Sonya tersenyum menggoda gadis itu.


"Cie Sonya" goda Bela mencakar cakar udara karena gemas dengan couple Air dan Sonya.


"Apaan sih" Sonya mencoba tenang meski hatinya tidak demikian.


Sonya membuka paper bag itu dan menemukan roti, salad, dan jus strawberry kesukaannya. Sonya tersenyum dan memilih memakan makanan yang diberikan Air.


"Kalian makan punya gue aja, sayang belum gue sentuh" ucap Sonya, dia paling anti dengan yang namanya membuang-buang makanan.


"Oh serahkan pada Bela"


"Dengan senang hati kapten" Bela tanpa sungkan menarik mangkok milik Sonya dan memakan dua bakso sekaligus.


"Gue gak pernah heran kalau itu dia" celetuk Thea menggelengkan kepalanya melihat Bela yang rakus.


"Bodoamat yang penting makan" balas Bela kegirangan.


...oOo...


Sonya🐭


Thanks, udah gue makan.


Air senyum senyum sendiri membaca pesan singkat dari Sonya. Hatinya berdebar karena tau Sonya menerima makanan pemberian nya.


Bahkan sampai laporan, Air rasanya seperti diterbangkan setinggi tingginya di atas langit.


"Jangan terlalu seneng kalau di terbangin, nanti jatuh sakit loh" pesan Lion memberikan nasehat bijaknya hari ini.


Air mendengus, tidak bisakah temannya itu tidak merusak suasana sekali saja. Air jengah padahal dia sudah baper sampai langit ketujuh tadi.


"Sialan ganggu aja sih lo" kesal Air memilih memakan makanannya saja.


"Lo suka sama Sonya kan bos?" Tuding Vino membuat Air tersedak.


Uhuk


"Air"


"Air kok minta Air" cibir Rafi tapi tak urung menyerahkan gelas teh manis yang baru dipesannya karena punya Air telah habis duluan.


Dengan tanpa dosa nya Air meneguk minuman Rafi hingga tandas.


"Air lo gila?" Pekik Rafi tak terima es tehnya di habiskan, padahal dia belum meminumnya sedikitpun.


"Beli lagi, pesen, pesen" kalau sultan Air susah ngomong begini artinya dia yang akan membayar. Dengan semangat empat lima Rafi pergi ke stand penjual minuman dan kembali dengan segelas es teh yang baru.


"Punya gue mana?"


"Idih pesen sendiri, punya gue juga lo habisin" sewot Rafi menjauhkan es teh nya.


Air mendengus dan memilih mengalah toh dia bisa membeli es dengan warung-warungnya sekaligus. Sultan mah bebas.


"Padahal gue cuma nanya tapi respon lo berlebihan bos" Vino kembali membuka pembicaraan yang sudah Air berusaha alihkan sebelumnya.


"Beneran lo suka Sonya, gila bukannya lo bilang udah nganggap mereka kaya adik sendiri? Lo juga yang nyuruh kita gitu kan" perkataan Lion semakin menyudutkan Air. Bersyukur ia karena Rafi tidak ikut-ikutan dan memilih tenang meminum es tehnya.


"Valid gak konsisten lo Air, tapi gapapa juga sih. Gue dukung kalau lo beneran serius sama Sonya" Air tersenyum tertekan, salah sudah perkiraan nya. Bahkan mulut Rafi lebih tajam dari Vino dan Lion.


"Gausah mikir yang aneh-aneh" putus Air akhirnya memilih mengabaikan teman-teman sintingnya dan melanjutkan makan tanpa memperdulikan segala godaan Vino.