
"Sayang" panggil Arga dan Tania saat Sonya menuruni tangga.
"Apa Dad, Mom?" Sonya menghampiri keduanya di ruang keluarga.
"Bagaimana menurut kamu tentang pelakunya itu sayang? Maafin Mom sama Dad ya, kita udah coba masukin dia ke penjara tapi ada seseorang yang memberikan jaminan besar" ucap Tania mengusap surai hitam milik putrinya.
Sonya diam sejenak, memikirkan sesuatu di kepalanya. Sonya ragu harus mengatakan atau tidak.
"Aku gamau mereka bebas gitu aja, Mom, Dad. Tapi kalian tenang aja, serahin urusan ini sama aku. Aku janji gak akan main hakim sendiri kok" ucap Sonya menyakinkan Arga dan Tania.
"Tapi sayang kasus ini gak segampang yang kamu pikirin" Arga menatap serius putrinya, memberi pengertian pada Sonya tentang seberapa besar masalah kali ini.
Sonya menghela nafas terlebih dahulu sebelum berbicara kembali, "teman-teman aku, mereka bakal bantu Dad. Biarin Sonya nyelesain masalah aku sendiri"
Arga terlihat ragu memberi kepercayaan putrinya, tapi melihat bagaimana perubahan Sonya sekarang. Putrinya berbeda dari sebelum koma.
"Baiklah, tapi kamu harus tau baby girl kalau Daddy membiarkan pelaku itu bersekolah di Xaverius kembali agar mudah memantau gerak-geriknya" jelas Arga membuat Sonya tersenyum dan memeluk nya.
"Sure, thanks mommy thanks daddy"
"Anything for you baby..."
...oOo...
"Ada apa sih rame-rame, heboh bener?" Heran Bela melihat seluruh siswa-siswi Xaverius berbondong-bondong menuju depan sekolah.
"Bagi-bagi sembako gratis kali" celetuk Thea ngasal.
"Wah beneran?" Girang Bela, telinganya mengembang mendengar gratisan.
Cleo menoyor kepala Bela, "ck, gratisan mulu otak lo!"
"Tau orang kaya juga"
"Aduh, Cle, The, lo gaakan pernah tau seberapa nikmatnya yang gratis itu" ucap Bela membela diri.
"Bener" Sonya setuju dan bertos dengan Bela.
"Aduh" bahu Sonya tak sengaja tersenggol adik kelas.
"Eh kak, maaf gue gak sengaja"
Sonya menatap siswa itu, "jalan liat liat dong" sentak Cleo.
"Maaf kak" sesal siswa itu.
"Lagian kalian kenapa sih heboh bener" Thea ikut kesal lama-lama melihat tingkah semua orang.
"Itu di depan kak Revan sama teman-temannya berantem sama anak sekolah Gemilang" jelasnya membuat keempat gadis itu melotot.
"APA?!" Sonya berlari ke depan sekolah, disusul Cleo, Bela, dan Thea yang juga ikut panik. Yang ada di otak mereka saat ini hanya satu, yaitu Air dan teman-teman mereka lainnya.
Sedangkan siswa yang ditinggal keempat gadis itu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, "lah gue di tinggal?" Tanyanya pada diri sendiri.
Sementara di depan sana Sonya langsung memisahkan Air yang sedang mencengkram kerah Revan. Ia juga menyeret Lion dari Arkan, memisahkan yang paling brutal terlebih dahulu. Sedangkan Cleo, Bela, dan Thea mereka menarik Vino dan Rafi menjauh dari Genta dan Yugo.
"Kalian apa-apaan sih? Mau jadi jagoan hah?" Bentak Sonya kesal, siswa-siswi yang menonton menjadi kecewa karena geng Sonya memisahkan kubu Revan dan kubu Air yang notabenenya anak Gemilang.
Air melempar tatapan tajam pada Revan yang membalasnya dengan senyum miring.
"Lo!" Air kembali ingin menghajar Revan sebelum dihentikan oleh Sonya.
"Air udah!" Sentak gadis itu menahan kedua bahu Air dengan tangannya.
"Lemah" ejek Revan meludah di depan Air, membuat emosi Air kembali naik dan bersiap memberikan bogeman untuk Revan.
"Diam lo anjing!" Bentak Sonya menunjuk Revan membuat semua orang tercengang.
Revan tubuhnya menegang di bentak sekaligus di maki oleh Sonya. Sedangkan Air tersenyum penuh kemenangan karena merasa di bela oleh Sonya.
"Gue gak bela lo ataupun Revan. Gue kecewa lo berantem gini Air" ucap Sonya kecewa kemudian meninggalkan mereka semua.
"Jangan di kejar, biarin Sonya sendiri" cegah Cleo.
"Bubar bubar!" Teriak Thea membuat semua penonton mendesah kecewa, tak urung mereka meninggalkan tempat itu daj dan menyisakan Geng Revan, Geng Air, dan Geng Cleo tanpa Sonya.
"Kalian juga masuk!" Usir Thea menatap tajam Revan dan teman-temannya.
Mereka masuk ke dalam sekolah tapi sebelum itu Revan sempat sempatnya membalikkan ibu jempolnya di depan Air membuat cowok itu geram.
"Awas lo!" Ancam Air mengangkat jari tengahnya.
"Woi udah!" Sela Bela.
"Kalian kenapa sih kok berantem sama geng curut itu?!" Lanjutnya bertanya.
"Mereka yang mulai duluan" desis Rafi merenggangkan otot-otot lehernya.
"Revan ngirim chat ke Air, dan bilang yang enggak-enggak tentang Sonya" ungkap Vino.
Cleo dan Thea mengepalkan tangannya.
"Bajingan kampret! Mereka bilang sahabat gue apa?!" Tanya Bela geram.
Air memejamkan matanya, memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pening. Tapi nihil pikiran Air semakin tidak terkontrol memikirkan Sonya.
"Ada yang ngedit foto Sonya sama Revan di bar lagi ciuman, Air sama kita semua gak terima liat foto itu" geram Lion membuat para gadis-gadis itu kaget.
"Gak bisa di biarin!" Murka Cleo.
"Sonya pasti salah paham, dia marah banget liat kalian berantem tanpa tau alasannya" ucap Bela membuat mereka semua mengangguk.
"Kalian pergi dulu dari sini, sorry ya kita gak bisa bantu obatin luka kalian soalnya kalau ketahuan guru nanti urusannya makin panjang" ucap Thea.
"Nanti Sonya biar kita yang urus" lanjut Cleo lalu mereka pun pamit pergi.
"Suruh Sonya angkat telpon gue" pesan Air sebelum pergi.
"Oke, kalian hati-hati" ucap Bela kemudian mereka bertiga kembali masuk ke dalam sekolah dan mencari keberadaan Sonya.
Dan untuk masalah foto itu nanti setelah pulang sekolah mereka akan kembali membahasnya lagi.
...oOo ...
"Nyebelin banget, udah dibilangin gaboleh berantem lagi. Malah berantem di sekolah gue" kesal Sonya menendang batu di kakinya.
"Anjing!" Sonya terlonjak kaget dan mendekati sebalik pohon.
"Lo! Ngapain disini. Lo ngikutin gue kan?!" Tuduh Sonya menatap tajam Arkan.
"Berisik" balas Arkan mengusap keningnya, tiba-tiba saja saat dia sedang menenangkan diri di taman belakang seseorang melemparinya batu.
"Lo yang melempar gue batu kan?" Tuding Arkan menatap Sonya penuh intimidasi.
"Lebih tepatnya nendang, gatau bisa melambung tinggi sampai kena jidat lebar lo" jawab Sonya acuh lalu ikut bersender di pohon besar itu mengikuti Arkan.
Sonya memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang sejuk di taman belakang.
Nafas Arkan berhenti sejenak saat jaraknya dan Sonya begitu dekat. Arkan menatap lekat wajah cantik Sonya yang terlihat damai, sungguh gadis disampingnya ini benar-benar seorang dewi.
Arkan tersenyum tipis dan ikut memejamkan matanya.
Drett... Drett...
Ponsel Sonya berbunyi, gadis itu berdecak dan merogoh kantongnya.
Nama Air tertera di sana, Sonya menatap malas tapi dia tidak ingin bertengkar lama-lama dengan Air ataupun yang lainnya.
Sonya menghirupnya udara banyak-banyak terlebih dahulu lalu menjauh dari Arkan dan menerima telpon dari Air.
Arkan menatap kepergian Sonya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada banyak yang ingin dia katakan pada gadis itu, tapi saat memiliki kesempatan Arkan seolah bisu dan otaknya blank sampai tidak tahu harus berbicara apa.