Sonya

Sonya
Lampu Ijo



"Pagi om, tante" sapa Air mencium punggung tangan Arga dan Sonya.


"Pagi ganteng" sapa Tania balik.


"Pagi Air, mau jemput Sonya ya?" Tanya Arga di jawab anggukan oleh Air.


"Duduk sayang, kita sarapan bareng-bareng aja" titah Tania.


Air ikut duduk di salah satu kursi yang kosong, kebetulan dia belum makan jadi sekalian aja pikir Air.


"Gimana tentang penyelidikan kamu Air?" Tanya Arga.


"Besok laporan nya datang om, orang suruhan Air masih ngikutin Alya sampai sekarang" jawab Air seadanya.


"Bagus kita pantau saja dia dulu, seseorang di balik gadis itu pasti bukanlah orang biasa" ucap Arga.


"Dia anak sma om, bahkan satu sekolah dengan Sonya. Tapi dari penyelidikan Air, kelurganya punya kekuasaan besar di negara ini"


"Siapa namanya?" Tanya Arga penasaran.


"Revan Aldianta" jawab Air.


"Marga Aldianta berarti dia putra William Aldianta, baiklah om akan menyelidiki anak itu juga" putus Arga.


"Om kenal sama marga Aldianta?" Tanya Air penasaran.


"Hanya teman lama, papi kamu juga mengenalnya Air. Tanyakanlah kalau memang kamu ingin tau" Arga tersenyum penuh arti.


"Morning!" Teriakkan nyaring itu terdengar ceria dari arah tangga.


Sonya mencium kedua pipi Arga dan Tania sebagai sapaan paginya.


"Gue juga, nih" Air menepuk-nepuk kedua pipinya membuat Sonya melotot.


Arga terkekeh melihat interaksi antara mereka, "halalin dulu dong Air, enak aja mau yang gratisan" timpal Arga membuat Air salah tingkah.


Op kode! Gas Air, ngueng...


Cowok itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Arga menggeleng kepala nya pelan sedangkan Tania sudah mesem mesem sendiri.


"Aduh tante jadi keinget masa muda" celetuk Tania terkekeh.


Arga juga ikut membenarkan dalam hati, Sonya dan Air mirip dengannya dan Tania saat masih muda dulu. Malu-malu kucing, mau tapi malu.


"Apaan sih mom, udah tua inget umur" ceramah Sonya mengoleskan selai coklat pada rotinya.


Sonya tidak memakan itu, dia memberikan pada Air terlebih dahulu karena Sonya tau jika Air menyukai selai coklat. Lalu setelahnya Sonya membuat untuk nya sendiri.


"Thanks" ucap Air tulus, hatinya senang di perhatikan Sonya. Dengan semangat Air melahap roti buatan Sonya.


Tania tambah tersenyum melihat Sonya dan Air, sungguh mereka sangat menggemaskan membuat Tania ingin langsung menikahkan nya saja.


Setelah sarapan Sonya dan Air pamit pergi menuju sekolah mereka masing-masing. Air mengantarkan Sonya ke Xaverius lebih dulu baru setelah itu dia menuju sekolah nya sendiri.


...oOo...


"Sonya! Nya, Nya, Nya lo harus liat grub sekolah sekarang juga" heboh Bela sambil mengatur nafasnya. Dia bersama Cleo dan Thea berlarian dari lantai dua begitu melihat kedatangan Sonya.


"Iya Nya cepetan pokonya lo harus liat!" Desak Thea.


"Ini super hot Nya" Cleo ikutan heboh membuat Sonya tersenyum miring.


Dia sudah tau apa yang di maksud ketiga temannya, bahkan Sonya tau lebih dulu sebelum video itu menyebar.


Tapi Sonya berpura-pura saja dia seolah-seolah kaget melihat video yang Bela tunjukkan. Di sana terlihat Alya yang sedang melayani para pelanggannya dalam bentuk berupa video. Jadi sudah dipastikan jika itu seratus persen real.


"Gila selain kriminal ternyata dia juga ngejob jadi ******" Thea menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang Alya lakukan di dalam video itu.


"Kira-kira sekali open buka harga berapa ya?" Tanya Bela mendapatkan toyoran dari Cleo.


"Goblok, ya murahlah" bayar Cleo santai lalu mereka tertawa bersama-sama.


"Kan gaada harganya" Bela dan Cleo bertos ria membuat Sonya dan Thea tercengang menatap mereka. Sepertinya Cleo dan Bela puas sekali melihat video tak senonoh Alya tersebar.


"Bahagia banget kalian?" Tanya Thea heran.


"Emangnya lo ga bahagia?" Tanya Cleo balik.


"Gak— gak mungkin gak bahagia" ralat Thea tertawa puas.


"Ahahahahha eh bagiin yuk, kalau bisa sampe kesebar sama sekolah lain" ide gila Thea di setujui oleh yang lainnya.


Bela dan Cleo ikut menyebarkan video itu agar tersebar semakin luas, mereka bahkan memasukkan nya ke akun tiktok samaran dan mentions Alya. Mereka yakin gadis itu akan bertambah malu setelah ini, Alya pasti tidak memiliki muka untuk tampil di depan umum.


Salahkan saja kejahatan nya pada Sonya, Alya pantas mendapatkan itu. Bahkan ini belum seberapa dibandingkan apa yang telah Alya lakukan.


Ketiga gadis itu tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya sedangkan Sonya hanya diam tanpa mengeluarkan ponselnya sejak tadi.


Dia malas membuang-buang tenaga biarkan teman-temannya yang melakukan.


"Sonya!" Bentak Revan dari kejauhan.


Mereka menatap pasukan pentolan sekolah dan ****** ****** yang juga ikut bersama. Ternyata Alya masih memiliki muka untuk menunjukkan dirinya yang menjijikkan itu di depan umum.


Semua siswa-siswi berbisik-bisik melihat kedatangan Alya, gadis itu terus menunduk diantara Stella dan Risa yang melindunginya.


"Apa sih? Berisik!" Tekan Sonya memutar bola matanya.


"Video itu pasti lo dalangnya kan?" Tuduh Revan membuat teman-teman Sonya tidak terima.


"Lo jangan asal nuduh dong!" Bentak Cleo.


"Tau dari mana lo, cih nuduh tanpa bukti sama aja dengan fitnah" ucap Thea.


Sonya tersenyum smirk melihat Revan yang terdiam, "well, sekarang gue tanya. Lo punya bukti Revan?"


Revan terdiam membuat semua orang menyorakinya.


"Argh ini udah pasti ulah lo, lo selalu gak pernah suka sama Alya. Lo iri sama dia" ucap Revan prustasi di pojok kan.


"Heh Sonya baru dateng ya, dia gatau apa apa" sembur Bela menatap tajam Revan.


"Halah maling mana ada yang mau ngaku" sambung Stella memanas-manasi.


"Jangan nyambung lo kaya tiang listrik" cerca Bela membuat Stella bungkam.


"Sonya, jawab!" Bentak Revan geram.


Sonya terkekeh kecil, terdengar sangat merdu. Namun tersirat rasa seram bagi siapapun yang mendengarnya.


"Jawab Sonya!" Ulang Revan dengan wajah memerah menahan amarahnya. Jika Sonya bukan perempuan mungkin sejak tadi Revan sudah menghabisi nya.


Sonya menghentikan tawanya dan menatap Revan datar.


Semua tercengang dengan perubahan ekspresi gadis itu yang ekstrem.


"Lo mau jawaban gue? Enak nunggunya?" Tanya Sonya meremehkan mereka semua.


Biarkan mereka merasakan apa yang dia rasakan kemarin. Sonya adil bukan? Membalas dengan cara yang sama namun lebih kejam dari apa yang mereka lakukan.


"Jadi bener ini semua ulah lo?"


"Lo jahat banget Sonya" ucap Yugo terlihat kecewa.


Sonya mengangkat bahunya acuh, "gue bilang gue baik siapa? Jangan berharap sama manusia, gak selamanya mereka sebaik ekspetasi lo"


"Minta maaf sama Alya!" Tekan Revan.


"Minta maaf? Lah gue gak salah ngapain minta maaf, lawak lo" bantah Sonya ogah-ogahan.


"Sonya gue tau ini perbuatan lo, minta maaf sama Alya sekarang" titah Genta.


Syut... Syut... Syuttt...


Sonya mengangkat jari telunjuknya ke udara, sebagai kode untuk menyuruh Genta diam.


"Ketos abal-abal diem aja, urusin organisasi lo sono" balas Sonya membuat Genta mengepalkan tangannya.


"Sonya!" Bentak Revan masih menunggu gadis itu.


Sonya melirik Alya sebentar lalu menatap Revan, "gue gak mau!" Ucapnya penuh penekanan.


"Jangan nguji kesabaran gue Sonya!"


Sonya tersenyum smirk lalu berjinjit di sebelah Revan dan membisikkan sesuatu yang membuat cowok itu menegang, "jangan paksa gue kalau lo gamau fakta lo yang sebenarnya anak ****** tersebar seantero Xaverius"