Sonya

Sonya
Trauma Alya



Pagi ini Sonya berangkat sendiri menggunakan mobilnya, Sonya bersikeras menolak di antar jemput Air lagi karena ia merasa itu akan sangat merepotkan Air. apalagi sekolah mereka berbeda, akan memakan waktu jika Air harus mengantarkan Sonya dan cowok itu pasti akan terlambat.


awalnya Air menolak namun karena Sonya memaksa sebagai gantinya Air tetap mengikuti Sonya dari belakang agar gadis itu aman. ia tak mungkin meninggalkan amanah Arga dan Bima begitu saja, dan Air ingin memastikan keamanan Sonya dengan mata kepalanya sendiri.


*Drett... Drett...


"halo*"


"kok ngikutin gue sih Air? allahu kalau gitu apa bedanya sih" omel Sonya mematikan mesin mobilnya lalu turun.


"biar aman"


"besok pokonya gue gak mau lagi ya di kawal gitu, lo biar terlambat Air"


"kenapa? khawatir gue di hukum ya, cie perhatian banget Nya" Air terkekeh di luar sekolah, sementara di dalam sekolah Sonya berjalan di koridor menuju kelasnya.


"dasar pd, tau deh Air. pokoknya lo gausah khawatir, gue aman bisa jaga diri sendiri okey?"


"gak janji"


"Airaksa Kean Nerando!" Sonya berdecak kesal karena hanya mendapati tawa Air.


"gue cabut, yang rajin sekolah, jangan bolos. gue pengen nanti anak-anak gue pinter kaya ibunya"


"ih Air apaan sih ngomongnya anak-anak"


tut.


"ngeselin banget sih tu cowok, main matiin telpon. dasar kebiasaan" gerutu Sonya menatap kesal layar ponselnya.


jadi untuk apa sebenarnya guna dia membawa mobil sendiri? Air benar-benar berlebihan. Sonya kan niatnya suapaya Air tidak semakin repot dan terlambat, tapi cowok itu malah membuntuti nya dari belakang. ah— sudahlah... lalu Sonya menyimpan ponselnya di saku seragam.


brug


"aduh, jalan pake mata dong!" bentak Sonya mengusap jidatnya, ia yakin pasti keningnya itu semakin bertambah lebar karena bertubrukan dengan dada keras seseorang.


"sorry"


Sonya menatap kesal Arkan, "tadinya gue mau maafin, tapi setelah tau yang nabrak itu lo—" Sonya menunjuk Arkan dengan menggunakan jari telunjuknya.


"gue gak jadi maafin" lanjut Sonya berdesis sinis kemudian pergi melewati Arkan begitu saja.


perlakuan Revan dan teman-temannya kemarin masih tidak bisa di terima oleh Sonya. untung hanya sampai ke tangan Air dan para sahabat lelakinya, jika tersebar ke publik? Sonya tidak yakin mereka akan selamat dari Arga.


tapi sikap mereka membuat Sonya kecewa, jelas-jelas bukti sudah ada ditangannya. tapi mereka sama sekali tidak mau mengaku.


dan yang awalnya Sonya tidak ingin melibatkan teman-teman Revan kini dia berubah pikiran.


namun sekarang dia harus fokus pada satu objek yang menjadi misinya dengan Air. Sonya tidak akan melepaskan Revan dan Alya, kedua saudara tiri yang benar-benar licik. dia salah telah cemburu pada Alya dulu, mengira jika Revan menyukai adiknya sendiri? huh tapi sekarang Sonya tidak sebodoh itu.


sudah cukup dia di permainkan oleh mereka semua, kini saatnya Sonya membalas beribu-ribu kali lipat dari apa yang sudah mereka lakukan terhadap dirinya.


...oOo...


"masih pagi Nya, ditekuk amat mukanya" sindir Thea menatap kedatangan Sonya.


namun tidak dihiraukan oleh gadis itu, Sonya hanya diam tanpa membalas ucapan Thea membuat gadis itu kesal.


"gue perlu bantuan kalian guys" ucap Sonya to the poin.


Thea, Cleo, dan Bela langsung berubah menjadi mode serius.


"lo perlu bantuan apa?" tanya Cleo menatap Sonya.


"iya, bilang aja Nya. kita siap bantu kok apalagi soal pbb itu" ucap Bela menggebu-gebu.


"video apaan?" Tanya Thea kepo.


"syut! nanti kalian juga tau. dan bantuin gue awasin pbb"


Thea, Cleo, dan Bela mengangguk paham, "oke" balas mereka serentak.


...oOo...


"Alya, kamu kenapa gak sekolah sayang?" tanya Rini menatap khawatir anaknya.


Alya menggeleng lemah, terlihat jelas kantung matanya yang menghitam karena kurang tidur semakin membuat Rini cemas.


"ada apa sayang? cerita sama ibu" Rini menghampiri Alya di pinggir ranjang, mengusap rambut panjang putrinya dengan penuh kelembutan.


hati Rini tidak tenang melihat keadaan Alya yang seperti ini, putrinya seperti kehilangan semangat. dia sebagai ibu tentu saja sedih, dan Rini harus tau apa penyebab putrinya seperti ini.


"Alya jangan diam aja, ibu khawatir nak" air mata Rini meleleh, dia menangkup kedua pipi Alya dan menatap dalam putrinya.


"ibu telpon kakak kamu ya? siapa tau Revan tau penyebab kamu sampai bisa seperti ini" ucap Rini hendak berdiri namun tangannya segera ditahan oleh Alya.


Alya menggeleng lemah, "Kak Sonya, semua karena dia. gara-gara dia aku dibully sama semua siswa di sekolah" teriak Alya menggila.


Rini terkejut melihat putrinya, dia langsung memeluk Alya.


"Alya, Alya sayang kamu tenang ya. ini ibu telpon kakak kamu, sebentar ya ibu telpon Revan" ucap Rini lalu berlari keluar kamar Alya dan menelpon putra bungsunya.


Rini langsung masuk kembali setelah mengabari Revan, katanya dia sedang dalam perjalanan menuju ke sana.


Pyar


"astaga Alya!" teriak Rini mendorong putrinya ke atas kasur.


Rini menatap tajam Alya dan beling pecahan gelas, "apa-apaan kamu Alya, sadar!" bentaknya memeluk Alya.


Rini kembali menangis, "kamu kenapa nak, jangan seperti ini. kamu buat ibu sedih Alya" tangis nya semakin menjadi, Rini tak tahu apa yang akan terjadi jika dia terlambat sedetik saja. bayangan Alya yang mengarahkan pecahan kaca itu ke nadinya berputar-putar di kepala Rini.


"hiks, hiks, Alya cape bu. Alya gamau hidup hanya untuk dibenci semua orang hiks, semua orang nganggap Alya jahat, padahal Alya gak sengaja bu" isak Alya pilu.


Rini memeluk putrinya erat, tanpa sepengetahuan Alya gigi wanita itu ber-gemeletuk. mendengar cerita putrinya, Rini tak tahu selama ini jika Alya di bully disekolah nya. Alya tak pernah bercerita dan Revan pun tidak memberitahu nya.


"sumpah Alya gak sengaja dorong kak Sonya. itu karna kak Sonya bilang yang enggak-enggak tentang ibu, Alya gak suka kak Sonya bilang gitu, ibu gak seperti yang dia bicarakan"


"syut... sayang kamu tenang ya, mereka cuma salah paham. kak Revan gak akan biarin kamu terus di perlakukan buruk sama mereka, kakak kamu pasti akan melindungi kamu Alya" ucap Rini menenangkan putrinya.


selama ini dia tak pernah melihat Alya sampai seputus asa ini, putrinya selalu ceria dan Sonya. anak itu telah membuat Alya sampai sehancur ini, Rini tidak akan membiarkan Alya terus terpuruk. dia sebagai ibu merasa sakit melihat putrinya yang hancur.


"ibu percaya kan sama Alya?" tanya Alya menatap Rini dengan mata sembab yang terlihat jelas.


Rini mengangguk dan tersenyum pilu, "ibu percaya sayang"


Rini memeluk Alya kembali, mengusap punggung putrinya agar sedikit lebih tenang. cara itu membuat Alya lama-lama terlelap. dan Rini langsung melepaskan Alya lalu keluar dari kamarnya.


"ma, Alya kenapa?" tanya Revan cemas, dia baru saja sampai lengkap dengan seragam sekolah nya.


air muka Rini langsung berubah menjadi serius dan sinis, "Sonya, anak itu lagi-lagi membuat adik kamu seperti ini Revan. mental Alya bisa terguncang, adik kamu itu dibully di sekolah dan kamu tidak memberitahu mama apapun?" Rini menatap tak percaya pada putra sulungnya, jelas dia sangat marah dan kecewa dengan Revan.


"maaf ma, Revan gak sempat bilang sama mama" Revan menunduk, sebagai seorang lelaki dan kakak sikapnya memang sangat tidak pantas dan mengecewakan. tapi apa boleh buat? dia juga terus-terusan diancam oleh Sonya. tidak hanya Alya yang tertekan disini tapi juga Revan yang berusaha melindungi adiknya.


"mama gamau tau Revan, kalau kamu gak mau bertindak bela adik kamu biar mama sendiri yang urus anak bernama Sonya itu"


"maksud mama apa?!" tanya Revan menatap Rini tajam.


"mama hanya tidak ingin adik kamu menderita sendiri Revan. mama akan membuat Sonya mendapatkan lebih dari apa yang Alya rasakan"