
Sonya telah selesai mengganti baju olahraga nya dengan seragam. Ia berjalan ke arah wastafel, membasuh kedua tangannya dan tak lupa mencuci muka.
Sonya menatap pantulan dirinya dari balik kaca, wajah yang selalu dipuja-puja banyak orang. Mata besar yang indah, alis tebal, hidung mancung, dan bibir tipis merah mudanya selalu menggoda.
Sungguh sempurna membuat orang tidak sanggup untuk tidak menatapnya. Sonya merasa bodoh karena dulu menyia-nyiakan dirinya untuk cowok brengsek seperti Revan. Padahal ada banyak lelaki di luar sana yang mengantri dan lebih pantas bersanding dengan nya, Sonya bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari Revan.
"Daebak! Lo sadar kan apa yang lo bilang sama Revan tadi?" Heboh Thea bersama Bela dan Cleo yang sudah selesai mengganti baju.
"Emang tadi gue merem?" Sonya melirik sinis Thea.
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ya, enggak sih"
"Jadi lo beneran udah move on?" Tanya Cleo.
"Lebih tepatnya benci setelah gue tau apa yang Revan lakuin" jawab Sonya menatap pantulan dirinya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
"Bagus deh, lega gue. Dari dulu gue selalu nunggu momen ini, akhirnya lo sadar dan terlepas dari Revan" ucap Bela polos mendapatkan pelototan dari Cleo dan Thea.
"Gue bilang bener kan, Revan tu gaada keren-keren nya selain wajah good looking dan pinter sih. Tapi siapa yang mau sama berandalan kasar kaya dia?" Bela memutar bola mata sambil merapikan rambut pirangnya.
"Bel" Cleo menyenggol Bela, dia takut Sonya akan tersinggung dan mengamuk karena pujaan hati nya dijelek-jelekkan. Ralat mantan pujaan hatinya.
Meski mereka bertiga tau sekarang jika Sonya sudah tak terpaku pada Revan lagi, tapi mengingat bagaimana dulu dia mengejar cowok itu Cleo dan Thea sedikit ragu.
Yah Sonya dulu sangat sensitif jika menyangkut Revan, apalagi jika ada yang berani menjelek-jelekkan cowok itu.
"Cle, The, yang Bela bilang bener. Kenapa gue harus nyakal fakta, mulai sekarang Revan dan satu gengnya masuk ke dalam black list" ucap Sonya membuat ketiga temannya mengangguk.
Mereka mengikut saja karena tidak ada satupun yang mereka sukai di geng Revan, apalagi Genta musuh bebuyutan abadi keempatnya sejak awal terpilihnya menjadi ketua osis.
...oOo...
"Gue duluan, Air udah nunggu didepan" pamit Sonya pada teman-temannya.
"Cie di antar jemput Air mulu nih, awas demen" goda Bela menaikturunkan alisnya.
Sonya memutar bola matanya malas, "best friend forever" tekan Sonya agar teman-teman tidak salah paham.
"Halah ntar juga jadian liat aja, percaya deh sama omongan gue" kata Thea membuat Sonya mendelik.
"Iya deh Iya, udah sana nanti gojek lo kelamaan nunggu nya" usir Cleo.
Sonya akhirnya pergi meninggalkan ketiga temannya di kelas. Gadis itu keluar dari area sekolah dan menemukan Air di depan gerbang.
"Kak Sonya tunggu!" Sonya berbalik dan menemukan Alya.
Sonya menatap dingin gadis itu, Alya maju dan menunduk tak berani menatap Sonya yang memberikan tatapan mengintimidasi padanya.
"Cepetan waktu gue gak banyak!" Sonya memberikan kesempatan walaupun sebenarnya dia malas.
Jarak beberapa meter Air mengawasi mereka, menatap gerak-gerik Alya. Dia menjaga Sonya dari jarak jauh, takut jika Alya berani macam-macam lagi dan mencelakai gadisnya. Eh?
"Kak Sonya maafin aku kemaren aku gak sengaja kak, sumpah kak Sonya jangan penjarain aku lagi" Alya bersimpuh di kaki Sonya dengan genangan air di matanya.
Sonya memutar bola matanya, malas sekali dengan drama yang di ciptakan Alya. Lagi, dia berakting seolah-seolah menjadi yang paling tersakiti dan berlagak menyedihkan. Membuat posisi Sonya menjadi kejam dan terlihat jahat disini.
"Bangun!" Titah Sonya.
Alya menggeleng, dia hendak mencium sepatu Sonya. Tentu gadis itu kaget dengan apa yang akan Alya lakukan.
Beberapa siswa dan siswi yang masih tersisa menonton mereka, namun tidak ada yang berani memotret ataupun merekam karena tatapan yang Air berikan pada mereka.
"Lo pikir dengan bersujud di kaki gue bakal maafin lo? Jangan mimpi! Urusan lo gak akan pernah selesai dan gue gaakan maafin lo sebelum mendekam di penjara" Sonya tersenyum sinis lalu menghampiri Air.
Meninggalkan Alya yang menangis menyedihkan di depan gerbang sekolah. Semua orang menatap gadis itu, namun tidak ada yang merasa kasihan satupun. Alya memang pantas mendapatkan itu, dia telah menyebabkan Sonya celaka sebelumnya.
Alya menatap nanar kepergian Sonya dan Air, tangannya terkepal kuat.
"Seharusnya kak Sonya maafin aku! Aku udah rela sujud dan menghilangkan rasa malu tapi kamu malah menginjak-injak aku" batin Alya berlari pergi dengan harga diri yang tersisa.
...oOo...
"Loh kok berhenti?" Tanya Sonya menatap cafe di depannya.
"Di kantin belum kenyang, temenin gue makan ya?"
Sonya mengangguk lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam cafe.
Air memilih meja paling pojok, mereka lebih suka di tempat yang sepi dan terhindar dari keramaian. Karena menurutnya keduanya akan lebih tenang dan damai tanpa terganggu oleh orang lain.
"Lo mau apa?" Tanya Air.
"Samain aja" jawab Sonya ketus.
Air sedikit heran dengan sikap Sonya yang tiba-tiba jutek. Ia pun segera memesankan makanan dan minuman yang sama pada pelayan.
Mereka menunggu pesanan dengan memainkan hendpone satu sama lain.
Kali ini Air memilih tempat yang berbeda dari cafe tempat mereka nongkrong biasanya. Sebab itu Sonya meminta makanan yang sama karena dia tidak tau menu apa yang enak di tempat itu.
Sonya melirik Air dengan pandangan kesal, sampai pelayan tadi pun datang membawakan pesanan mereka. Sonya melirik sinis ke arah pelayan wanita yang dengan terang-terangan menatap Air.
Dia paling benci ada perempuan lain yang menatap Air seperti itu, apalagi suaranya di lembut lembutkan. Cih rasanya Sonya ingin menggaruk wajah pelayan itu.
"Selamat menikmati mas" ucap Pelayan cafe itu tersenyum manis ke arah Air. Namun tak mendapat respon apapun, Air hanya mengangguk lalu menyerah kan makanan milik Sonya.
Air menatap heran Sonya masih terlihat kesal, "kenapa?"
"Gapapa" jawab Sonya jutek sambil matanya melirik sinis ke arah pelayan yang masih setia berdiri di meja mereka.
Air mengikuti pandangan Sonya dan terkekeh pelan menyadari penyebab di balik juteknya gadis itu. Tapi Air sama sekali tidak terganggu, dia sudah biasa mendapatkan tatapan seperti itu karena dia tahu dirinya tampan.
"Kalau di gatel di garuk Air" sindir Sonya menatap Air, membuat cowok itu heran.
"Hah? Gue gak ada di gigit nyamuk Nya"
Sonya memutar bola matanya dan kembali melirik pelayan tadi, dia langsung pergi meninggalkan meja mereka dengan wajah kesal.
Sonya tersenyum smirk, hanya sekali percobaan dan pelayan itu bisa menangkap maksudnya. Pintar juga, tapi sayang gatel.
"Lo kenapa sih?"
"Tadi ada lalat jelalatan sama lo" Sonya menyuapkan makanan ke mulutnya.
Air tidak mengerti maksud Sonya memilih mengabaikan dan mulai memakan makanannya.