Sonya

Sonya
Rencana



Brak!


"What! Revan sama Alya saudara tiri?! Gimana bisa?!" Pekik Cleo heboh.


"Cle!" Tegur Rafi karena sekarang semua pengunjung cafe menatap ke arah mereka.


"Maaf-maaf" Cleo menunduk tak enak. Kedua kalinya ia berteriak di cafe yang sama.


"Lo serius Nya? Tau dari mana?" Tanya Vino juga ikut kaget.


"Kalian gaperlu tau dari mana gue dapat informasi itu, yang jelas gue gak ngizinin kalian bantu lagi sekarang karena masalah yang sebenarnya gak sesederhana itu" ucap Sonya membuat yang lainnya tidak terima.


"Eh gak bisa gitu dong" protes Lion.


"Kita harus bareng-bareng Nya, masalah lo masalah kita semua" kata Rafi solid.


Sonya tersenyum tipis, "tapi masalahnya rumit Fi, ini menyangkut persahabatan Daddy gue, papi Air, dan bokap Revan" jelas Sonya membuat mereka cengo.


"Kenapa tiba-tiba jadi ikutan bokap bokap kalian, dan dari mananya mereka sahabatan. Kok kita gak tau?" Heran Thea.


"Ya dari sananya" ucap Air ngasal mendapatkan tabokan dari Sonya.


"Aduh sakit Nya" keluh Air mengusap punggung tangannya.


"Serius dikit" peringat Sonya mendelik membuat Air misuh misuh sendiri di depannya.


"Emang apa hubungannya? Kita kan pengen bantu" tanya Bela polos.


Sonya menghela nafas, "ini gak cuman tentang gue koma kemarin Bel. Satu keluarga Revan terlibat dan berhubungan sama bisnis Daddy dan papi Air"


"Au ah pusing gue sama urusan besan lo berdua" celetuk Vino menyedot match latte milik Rafi.


"Minuman Gue" Rafi menatap tajam Vino.


"Hehe bagi Fi elah"


"Hih match genak, rasa racun" Cleo menggelengkan kepalanya menatap Vino yang terlihat menikmati olahan teh hijau itu.


"Yang gak suka matcha psikopat" ucap Vino membuat Cleo mendelik tidak terima.


"Justru sebaliknya kalian yang suka matcha psikopat"


"Syut! Udah dengerin Sonya dulu!" Tegur Lion menatap tajam Cleo dan Vino.


"Cleo duluan" adu Vino.


"Matcha gak enak!"


"Terserah"


"Ih kan harusnya gue yang bilang gitu"


Mereka menatap jengah Cleo dan Vino.


"Lanjut Nya" titah Rafi.


Sonya pun melanjutkan ucapannya panjang lebar membuat mereka akhirnya mengerti.


"Jadi dulu bokap lo, Air, sama Revan itu sahabatan. Terus mereka bangun bisnis sama-sama dan setelah sukses bokap lo sama Air ditipu sama bokap Revan" Sonya mengangguk membenarkan ucapan Lion.


"Gila sih" Thea tak menyangka.


"Terus rencana kalian gimana?"


"Gatau tanya Air deh soalnya dia otak yang nyusun rencana" jawab Sonya, mereka semua menatap Air yang meminum avocado float.


"Ape lu liat liat"


Mereka mendengus, "gedek gue sumpah, sehari aja serius napa Air" geram Cleo membuat Air cengengesan.


"Oh rencana itu, liat aja nanti. Kalian yah bisalah bantu tipis-tipis kalau terjun kelapangan langsung gak bisa biar gue sama Sonya aja"


"Modus lo bilang aja mau berduaan terus sama Sonya" cibir Lion menatap Air sinis.


"Gaboleh suuzon" peringat Air sok kalem.


"Sok kalem lo kaya lagi sama doi aja" celetuk Vino.


"Lah kan emang lagi sama doi, nih Sonya doinya Air" Air tersenyum masam, lengkap sudah dia di permalukan di depan Sonya. Rip images ganteng Air.


"Cie Sonya salting cie" goda Bela menekan-nekan pipi Sonya yang memerah.


"Ngesip nih gue Air sama Sonya" kata Vino senyam-senyum.


"Bentar lagi ada yang berlayar nich" Thea juga ikut-ikutan menggoda sahabatnya.


"Aduh ikut deh gue" timpal Cleo.


"Buruan siap-siap guys" titah Rafi semakin membuat Sonya dan Air malu-malu.


Habis sudah hari itu Sonya dan Air di goda oleh teman-temannya mereka. Air yang salting namun tetap mempertahankan gaya cool nya dan Sonya yang sudah memanas di tempat. Mereka semua merasa gemas dengan couple itu dan tak sabar mendapatkan traktiran secepatnya.


...oOo...


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam eh kalian udah dateng" kata Tania.


Sonya dan Air menyalimi tangan para orang tua mereka.


"Aduh Sonya tante kangen banget, maaf ya kemarin gak sempat jengukin kamu" kata Dania merasa bersalah.


"Gapapa tante kan sekarang udah liat Sonya" Dunia tersenyum dan memeluk Sonya.


Setelah itu Sonya bergantian mencium punggung tangan Bima, "gimana keadaan kamu nak?" Tanyanya pada Sonya.


"Sonya udah sehat om" jawab Sonya menunjukkan jika dia sudah baik-baik saja, Bima mengangguk dan tersenyum senang mendengar ucapan Sonya.


Sonya duduk di sebelah Air, "mereka cocok ya" kompor Tania pada Dania.


"Cocok banget, kayanya kita beneran jadi besan deh Tan di masa depan" ucap Dania setuju.


Air menatap jengah kedua wanita itu, tak cukup teman-teman di cafe tadi sekarang mami nya dan Tania pun juga ikut-ikutan menggoda mereka.


"Pi gimana kalau kita jodohkan aja Air sama Sonya. Mereka cocok, aku juga pengen banget punya mantu kaya Sonya, cantik, pinter, ah idaman banget" Sonya tersenyum tertekan mendengar perkataan Dania.


"Ide bagus itu" ucap Bima menanggapi ucapan istrinya.


"Aku juga setuju" timpal Arga lalu mereka sibuk membahas perjodohan Sonya dan Air.


"Ini kita gak jadi bahas rencana awal keluarga Aldianta?" Tanya Air jengah.


"Ahahaha, Daddy lupa" kata Arga lalu mereka beralih ke mode serius.


"Ini beberapa bukti yang Air dapat, kasus pemasaran gelap Ringga Aldianta dan transaksi penjualan narkoba mantan istrinya" Air menyerahkan sebuah map yang langsung di buka oleh Bima.


"Aku juga ada bukti-bukti Revan yang menggunakan narkoba selama ini" Sonya menyerahkan bukti-bukti yang ada di handphonenya. Foto-foto Revan yang pergi bandar narkoba, sampai beberapa video cowok itu yang tak sadarkan diri akibat mengonsumsi obat-obatan terlarang.


"Kamu dapat ini dari mana sayang?" Tanya Arga kaget.


"Daddy gaperlu tau, tapi sekarang kita udah punya bukti-bukti yang kuat. Kita bisa memproses keluarga itu ke jalur hukum" jawab Sonya membuat mereka semua takjub.


"Gak semudah itu nak, Ringga punya banyak koneksi. Kita harus memikirkan matang-matang terlebih dahulu, walaupun kasus mereka terbilang berat" ucap Bima.


"Gue gak nyangka kalau Revan pake narkoba dan modelan dia yang lo kejar-kejar dulu?" Tanya Air tak habis pikir.


"Ih kan dulu, sekarang gue udah sadar" balas Sonya tak terima.


"Jadi kita harus ngambil langkah apa selanjutnya pi, om?" Tanya Air menghiraukan Sonya.


"Aduh ternyata masalahnya sampai separah ini, aku kira cuma anak yang celakain Sonya itu" kata Dania khawatir.


"Merembet ke persahabatan Arga, Bima, dan Ringga dulu Dan" ucap Tania, mereka karena tidak terlalu mengerti lebih memilih menyimak suami dan anak mereka.


"Ringga dan mantan istrinya serahkan sama kita, kamu dan Sonya tolong awasi terus pergerakan Revan dan Alya" perintah Arga. Jika sudah menyangkut mantan sahabatnya dengan Bima Arga tak bisa tinggal diam dan hanya membiarkan Sonya yang bergerak sendiri.


"Kenapa kita hukum mandiri aja sih om?"


"Jangan Air, kita gak boleh main hakim sendiri. Biarkan pihak berwajib yang akan memberikan mereka hukuman" jawab Arga serius, ia tak mau anaknya dan anak sahabatnya terlibat dengan cara-cara yang bisa mengotori tangan mereka. Biarkan kasus ini diproses oleh pihak hukum, mereka hanya tinggal mencari bukti agar gugatan selanjutnya menjadi kuat.


"Air kamu harus jaga terus Sonya ya nak, perasaan papi gak enak. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi" pesan Bima, entah kenapa ada yang mengganjal di hatinya melihat Sonya. Dia hanya takut hal seperti kemarin terulang lagi dan semoga saja perasaan nya hanya sebatas rasa khawatir.


"Iya, papi, om Arga, tante Tania, sama mama tenang aja. Air akan terus jaga Sonya" ucap Air menggenggam tangan Sonya lalu tersenyum tipis menatap gadis itu.


Sonya juga ikut tersenyum dan mengeratkan genggaman mereka.


"Thanks Air" ucap Sonya tanpa suara, hanya gerakan mulut yang dapat Air mengerti.