
"Mbak Yona, di depan ada yang mencari mbak" aku masih diruang ganti, salah satu kru datang memberitahuku.
"siapa mas?" tanyaku penasaran.
"katanya suami mbak" what? kenapa dia sudah datang, masih ada satu adegan lagi. lagipula alamat nya belum ku kirim, dari mana dia tau tempat ini?
"dimana dia mas?"
"ada diruang tunggu mbak"
"sampaikan sebentar lagi aku akan ke sana, aku masih ada satu adegan lagi"
"iya mbak".
"acting kamu bagus" ternyata Daeshim sudah ada disini, sejak kapan?
"pria yang tadi memberitahuku kalau kamu masih shooting, jadi aku ijin masuk, ternyata diijinkan" dia sepertinya bisa membaca apa yang kupikirkan, buktinya aku belum bertanya dia sudah menjawab.
"hmm. aku ganti baju dulu, baru kita pulang"
"baiklah, aku tunggu di sana" dia menunjuk kursi kosong tak jauh dari tempat kami berdiri.
Aku hendak menghampiri Daeshim, tapi dari jauh aku melihat nenek lampir duduk di samping nya. aku bisa menebak pasti wanita gatal itu mencoba merayunya. walaupun tak ada perasaan cinta diantara aku dan Daeshim, tapi bagaimanapun dia suamiku, yang berarti milikku, aku tidak sudi kalau wanita gila itu merayunya, dan lebih tidak terima lagi kalau Daeshim sampai tergoda. dengan langkah cepat, aku menghampiri mereka.
"sayang, ternyata kamu disini, ayo kita pulang" kulihat Daeshim terperangah dengan sikapku, tapi sepertinya kali ini dia peka.
dalam perjalanan pulang kami jadi canggung.
"sorry ya soal tadi" bagaimanapun aku yang memulainya.
"walaupun cuma sesaat, tapi itu menyenangkan" apanya yang menyenangkan.
"maksud kamu apa?" aku sungguh tidak mengerti apa maksud nya.
bukannya menjawab, dia mala menepikan dan menghentikan laju mobilnya, lalu memposisikan tubuhnya menghadap ke arah ku. digenggam nya kedua tanganku, aku ingin menepis nya, tapi sisi lain tubuhku membiarkannya, sementara mulutku terkunci, intinya aku tidak bisa menolak perlakuannya.
"Yona. aku paham kamu belum menyukai ku. tapi bisakah kita mencoba membuka diri?, bersikaplah biasa saja, tidak harus hangat jika kamu belum bisa, tapi bukan berarti kamu harus bersikap dingin, apalagi sikap itu kamu tunjukkan kepadaku yang notabene nya adalah suamimu. aku tahu, banyak kekurangan pada diriku, selain karena usiaku yang cukup jauh dibawah mu, mungkin aku juga bukan tipe mu, atau mungkin ada alasan lain. pandangan ku terhadap mu tidak perlu aku ungkapkan, yang penting aku berusaha membuka diri untukmu, dan aku mengharap kan sebaliknya " baru kali ini aku mendengarkan Daeshim berbicara cukup panjang, dan itu sangat mengesankan. aku terpana, ternyata benar kata mama. dari semua itu, aku sangat menyukai suara berat khas miliknya. jika aku jatuh cinta padanya, maka aku akan jatuh cinta karena suara nya.
"apa yang kamu lakukan?" aku menepis pelan tangannya, aku cukup gugup diperlakukan seperti itu.
"maaf, tapi kita suami istri, jadi kurasa tidak salah jika aku memegang tanganmu"
"iya, tapi... " aku kehabisan kata-kata, biasanya aku tidak pernah kalah jika berdebat kecuali dengan mama.
tanpa banyak bicara lagi, Daeshim kembali menyalahkan mobilnya. dalam perjalanan pulang, kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"aku akan ke ruang kerjaku, tidurlah duluan" tanpa dia suruh pun aku akan tidur, ada atau tidak adanya dia.