Sewindu

Sewindu
11



Sudah setahun lebih pernikahan ku dengan Daeshim, kami sudah semakin dekat, seiring berjalannya waktu, aku semakin mengenalnya, dia pria yang hangat,baik,selalu ceria, dan dewasa seperti kata mama. dia juga sangat bijak dan perhatian. Sebulan setelah menikah, dia memberiku kartu kredit, katanya untuk membeli keperluan ku, awalnya aku menolak, aku juga sadar diri belum sepenuhnya menjadi istrinya, dan lagi aku masih mampu dan punya pekerjaan, tidak sepertinya yang sampai sekarang aku tidak tau apa pekerjaannya selain dia anak pengusaha sukses di Eropa.


Diulang tahun pertama pernikahan kami, Daeshim memberiku hadiah sebuah rumah di kawasan elit ibu kota. rumah mewah bergaya eropa dengan dua lantai, luasnya dua kali lipat dari rumah mama. aku menduga rumah itu pemberian mommy suzy.


Disini rasanya aku bagaikan ratu yang naik tingkat, aku sudah jadi ratu di rumah mama, tapi disini aku bahkan lebih dari ratu, aku hanya makan dan tidur, semua yang aku butuhkan sudah disiapkan Daeshim. dia mempekerjakan 25 asisten rumah tangga, ini lebih dari dua kali lipat asisten rumah mama yang hanya berjumlah 10 orang.


Setiap hari Daeshim hanya akan mengantarkan ku kemanapun aku pergi, termasuk jika ada


pemotretan di luar kota. katanya hanya itu yang dia minta dariku, aku mengiyakannya, toh tidak merugikan bagi karierku.


Setelah kembali ke rumah dari menjadi sopir pribadiku, Daeshim akan langsung menuju ke ruangan yang katanya ruang kerja, aku juga tidak tahu, apa yang dia kerjakan di sana selama berjam-jam, bahkan tak jarang dia tidur di sana.


ketika aku tidak ada jadwal pekerjaan dan malas keluar rumah, Daeshim akan keluar rumah sendiri, katanya untuk berjalan-jalan sebentar. tapi terkadang ketika dia mengatakan hanya sebentar, itu bisa jadi seharian, dari pukul 7 pagi sampai pukul 9 malam baru kembali ke rumah, saat sudah seperti itu, aku benar-benar marah kepadanya, aku juga tidak tahu alasan sebenarnya aku marah, aku hanya merasa di khianati, dibohongi, dan merasa tidak adil. aku kemana-mana selalu bersamanya, sedangkan dia pergi kemana aku tidak tahu, jika sudah begitu, dia akan mencoba merayu lalu meminta maaf, dengan hati yang sudah lemah terhadapnya, aku dengan muda memaafkannya.


Kali ini lebih parah, dia bahkan pulang pagi.


"Selamat pagi" sambil tersenyum Daeshim yang baru pulang duduk di samping ku, kali ini aku tidak akan marah, aku hanya akan mendiamkannya.


"hei kenapa diam?" dia masih saja bersikap seolah-olah tidak bersalah. cepat-cepat aku menghabiskan sarapan dan meninggalkannya sendirian di meja makan.


Hari ini aku ada shooting pagi, aku tidak akan mau diantar Daeshim.


"halo sel, kamu dimana?" aku menelfon selin meminta untuk menjemput ku.


"tolong jemput aku sekarang sel, bisakan?"


"loh suamimu kemana?, bukannya dia yang biasanya antar jemput kamu?"


"dia lagi sibuk, udah gak usah banyak nanya, kalau mau bilang iya, kalau tidak, aku menyetir sendiri" selin pasti menjemput ku, dia tidak akan membiarkan aku menyetir sendiri.


"baiklah baiklah, tunggu aku di depan ya, aku tidak mau masuk dan ikut terbakar api rumah tanggamu"


"maksud kamu apa!"


"tidak apa-apa" selin langsung memutuskan sepihak telponnya.


"dasar selin!"


"ada apa dengan selin?" Tiba-tiba Daeshim sudah berdiri dibelakang ku. aku masih harus mode hening.


"Aku minta maaf, semalam aku tidak bisa pulang karena ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan" seperti biasa, dia akan meminta maaf, lalu aku akan memaafkannya?, tidak untuk kali ini!. aku menganggapnya tidak ada, aku bersikap Seolah-olah hanya aku sendiri di kamar ini. aku harus bersiap, sebentar lagi selin akan datang menjemput ku.


tapi tunggu, kenapa sepi sekali?, apakah dia menyerah dan pergi begitu saja?, dasar bocah!. saat aku berbalik...