Sewindu

Sewindu
14



"Silahkan masuk Tuan putri" baru saja aku tiba di depan rumah hendak masuk ke mobil, Daeshim sudah menyambut ku dan membukakan pintu. Tanpa menjawab aku langsung saja masuk dan duduk di samping kemudi.


"Kira-kira selesai jam berapa?" Daeshim memulai obrolan


"mungkin 2 sampai 3 jam. kenapa?"


"mommy mau datang besok, aku mau mengajakmu belanja setelah pekerjaan mu selesai"


"what?, kenapa kamu baru bilang" aku benar-benar tidak siap jika ibu mertuaku datang ke rumah besok, teringat beberapa bulan yang lalu, mommy menanyakan perihal cucu, ingin segera menimang cucu katanya.


"mommy juga baru memberitahuku barusan, kamu tenang saja, mommy tidak akan mengigitmu" Daeshim terlihat santai sekali, tidak sepertiku yang cemas memikirkan alasan apa yang akan ku sampaikan jika ibu mertua menanyakan kenapa aku belum juga hamil.


"kamu tidak perlu cemas, apa yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi, percaya sama aku" Daeshim seperti tahu saja apa yang aku pikirkan.


Kami sampai di rumah sudah pukul 9 malam, gara-gara kepikiran ibu mertua akan datang, aku jadi tidak fokus bekerja, jadinya banyak salahnya dan memakan waktu yang lama pula, untung masih sempat belanja dan sudah menghubungi bibi untuk membersihkan kamar tamu.


setelah membersihkan diri, aku langsung berbaringlah di kasur, ingin segera terlelap.


"Bagaimana kalau kita selesaikan kecemasanmu malam ini?".


seperti biasa aku selalu berbaring membelakangi Daeshim, dan dia akan mengajakku mengobrol sebentar, terkadang aku menanggapinya, tapi kebanyakan aku mengabaikan karena sudah sangat lelah dan mengantuk, seperti saat ini.


pagi-pagi sekali aku sudah bangun, membersihkan diri dan berdandan sebaik mungkin, aku tidak mau jika ibu mertuaku datang aku masih Awut-awutan.


"Tumben nyonya sudah rapi, padahal ini masih gelap" aku tahu Daeshim pasti menertawakanku, biasanya aku akan bangun jam 8 pagi, ini masih jam 05.30 aku sudah rapi. setengah jam lagi mommy suzy akan sampai, aku tidak ada waktu meladeni Daeshim, lebih baik aku segera kebawah.


"selamat datang mommy" kucium tangan dan kupeluk ibu mertuaku, masih wangi saja wanita paru baya ini, penampilannya pun sangat modis.


"Baik mom, ayo duduk"


"mama gak disambut nih" ternyata mama Yura juga datang.


"mama rumahnya dekat jadi tidak perlu disambut" candaku sama mama.


"tetap saja kamu harus menyambut mama, ibu mertuamu saja kamu salim" protes mama.


"iya iya, sini Yuna cium" ku hampiri mama hendak menciumnya, tapi langkah ku terhenti dengan kedatangan Daeshim, ternyata diapun mempersiapkan diri dengan baik, penampilannya cukup rapi dibanding biasanya.


"mommy apa kabar, Daeshim rindu sama mommy" Daeshim mencium dan memeluk mommy nya seperti anak kecil yang sudah lama berpisah dengan ibunya.


"kabar mommy baik nak"


"mama apa kabar, Daeshim belum sempat mengunjungi mama"


"kabar mama juga baik sayang, kalian berdua apa kabar, apa sudah ada bakal calon cucu buat mama dan mommy?" mama bertanya kepada Daeshim.


"tentu saja, kami selalu berusaha, mama dan mommy sabar aja, iya kan sayang?" Daeshim sangat santai menjawab mama, dia memang pandai berpura-pura.


"iya, mama dan mommy sabar aja" kalau acting memang pekerjaanku, jadi tidak akan sulit berpura-pura seperti yang Daeshim lakukan.


"baiklah kami akan selalu sabar menunggu kalian memberikan kami cucu, tapi jangan terlalu lama, iyakan jeng" kali ini mommy suzy.


"kalau begitu ayo kita sarapan dulu, mama dan mommy pasti belum sarapan kan?, kami juga belum sarapan" ku ajak mereka sarapan agar berhenti membahas cucu, semoga tidak berlanjut dimeja makan.