Sewindu

Sewindu
17



pagi-pagi sekali aku bersama Daeshim pergi ke Danau Paniai lewat jalur udara, awalnya Daeshim ingin lewat jalur darat tapi aku menolak karena dari cerita pemandu wisata jalanannya terjal dan berkelok.


Daeshim membawa makanan lumayan banyak, jika hanya kami yang memakan itu, pasti tidak akan termakan semua. aku terus bertanya-tanya dalam hati, untuk apa cemilan sebanyak itu, tapi bibirku rasanya begitu berat bahkan untuk sekedar bertanya.


"Akhirnya sampai juga. indah sekali" Daeshim begitu terpukau dengan keindahan danau disini, aku pun sama takjub nya, rasanya terbayarkan perjalanan kemari yang sangat menguras tenaga dan memakan waktu yang tidak sedikit.


"Ayo" Daeshim menggandeng tanganku menuju tempat yang lumayan ramai, di sana banyak orang yang beraktifitas di pinggir Danau, banyak pula anak-anak yang mungkin mereka ikut membantu orangtuanya. tiba ditempat keramaian, Daeshim memanggil anak-anak itu, lalu membagi makanan yang dia bawa tadi.


ku dekati Daeshim, lalu berbisik


"Apa makanannya sudah kamu bagikan semua?"


"tenang saja, bagianmu sudah kusimpan didalam tas".


Seharian kami menikmati berwisata di Danau ini, kami menyewa perahu lalu memancing, berjalan ke perkampungan yang tidak jauh dari Danau. aku sudah sangat lelah berjalan, Daeshim menyuruhku menunggu di salahsatu rumah penduduk untuk beristirahat, dia kemudian pergi berjalan sendiri keliling kampung. aku tidak mencegahnya walaupun sebenarnya tidak nyaman ditinggal sendiri ditempat asing, tapi aku tahu, Daeshim sangat suka berjalan-jalan, diawal menikah dan tinggal di jakarta, hampir setiap hari dia selalu berjalan ke pasar yang pastinya tidak seindah tempat ini.


Sore hari aku dan Daeshim kembali ke kota enarotali. setelah membersihkan diri kami makan malam di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap, lalu kembali ke kamar untuk beristirahat, rasanya sangat lelah, ingin segera berbaring lalu menyelam ke alam mimpi.


"apa sih, ganggu orang tidur aja" sedikit kesal aku kembali bangun.


"jangan tidur dulu dong, kita kesini kan mau bulan madu, tidurnya nanti sama-sama" Daeshim menggoda dengan muka mesumnya


"bulan madu itu ketempat romantis, udah ah, aku capek, mau tidur" aku pun kembali berbaring hendak tidur.


pagi hari saat bangun kulihat disampingku sudah tidak ada Daeshim, aku tidak tahu kemana dia sepagi ini ditempat asing. cuaca disini begitu dingin, membuatku ingin tidur kembali didalam selimut hangat, tapi aku tidak boleh bermalas-malasan, aku datang juah-jauh untuk berwisata. aku segera bergegas ke kamar mandi, selesai membersihkan diri, aku keluar hanya memakai handuk kimono, pikirku Daeshim pasti belum pulang, tapi ternyata dia sudah duduk di tepi tempat tidur, matanya tertuju padaku yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"balik badanmu atau keluar dulu, aku mau pakai baju" aku berhenti didepan kamar mandi, aku tidak akan melangkah kalau Daeshim masih ditempatnya, tapi dia bergeming, matanya terus saja tertuju padaku, membuatku sedikit salah tingkah, biasanya tanpa disuruh pun dia akan keluar kamar.


"Daeshim!" aku membentak tapi bukannya keluar dari kamar dia malah mendekat dan semakin dekat hingga jarak diantar kami tinggal sejengkal. dia sedikit membungkuk hingga wajah kami sejajar, hembusan nafasnya sangat terasa, saat hidung mancung nya menyentuh hidungku, segera kupalingkan wajah dan mundur.


"Daeshim, aku lagi tidak ingin becanda" aku kembali mendekat lalu sedikit mendorong tubuh lelaki didepanku ini. bukannya keluar atau pun marah, dia malah tersenyum lalu mendekat dan memelukku sangat erat.