
Hari ini hari pernikahanku dengan Daeshim, tinggal menghitung menit jam atau bahkan detik, maka aku akan resmi menjadi istrinya. bagi kebanyakan wanita, umumnya hari pernikahan adalah hari yang sangat membahagiakan, bagaimana tidak, pada hari yang sakral, seorang wanita akan menjadi ratu sehari, bahkan ada yang sampai tujuh hari. disaat itu juga, wanita akan menyandang status barunya sebagai seorang istri untuk mendampingi pria yang ia cintai dan mencintainya. tapi aku tak merasakan itu, menikah dengan orang yang tidak aku cintai, dan lagi sebenarnya aku betul-betul belum siap untuk menikah, aku masih ingin menikmati status lajang ku, usiaku memang sudah kepala tiga, tapi aku merasa masih seperti gadis 17 tahunan, aku benar-benar belum siap lahir batin. ini bukan kisah baru bagi wanita, banyak yang mungkin sama atau hampir mirip denganku. rasanya aku ingin lari, tapi itu tidak mungkin disaat sudah sejauh ini. sedetik aku merasa ini hanya mimpi buruk, tapi detik berikutnya aku sadar ini nyata. lalu yang harus aku lakukan sekarang adalah menghadapi dan menjalaninya, lalu kedepan bagaimana? aku serahkan saja kepada Tuhan yang Maha Baik.
"Yona, ayo sayang, penghulunya sudah datang" suara mama menyadarkan aku dari lamunan panjangku.
"iya ma, ayo"
aku dan mama keluar dari tempat rias menuju ruang utama masjid, prosesi ijab qabul akan segera dimulai. dari kejauhan, aku melihat sosok Daeshim yang duduk berhadapan dengan lelaki paru baya yang ku yakin itu penghulu, dan disampingnya ada om Adam.
"Sah"
"Sah" suara orang-orang saling bersahutan. sekarang aku dan Daeshim sudah sah menjadi suami istri. mama dan tante Yuni segera menuntunku berjalan ke arah Daeshim. sampai disana, aku mencium tangannya yang dibalas dia mencium kening ku untuk pertama kalinya. acara ini diakhiri dengan foto bersama dari kedua keluarga.
sekarang sudah pukul 1 siang. aku baru saja selesai mengisi perut yang keroncongan, tadi pagi hanya diisi dengan segelas susu. tapi dari tadi aku tidak melihat suamiku, suamiku? aku sudah menikah?, pertanyaan konyol itu muncul lagi di kepalaku.
"Yona, dimana Daeshim?" mama bertanya yang pertanyaan itu juga ingin aku tanyakan.
"Yona juga dari tadi tidak melihat dia mah" aku menjawab mama apa adanya.
"iya mah" aku menuruti mama untuk mengecek keberadaan Daeshim di kamar ku. benar, dia memang ada dikamar, tertidur sangat pulas, aku jadi tidak tega untuk membangunkannya. tapi kata mama, aku harus menyuruhnya turun kebawah untuk makan. setelah berpikir, aku memang harus membangunkannya, dia harus makan dan aku ingin tidur di ranjang ku.
"hei" aku mencolek lengannya,
"hei" panggilan kedua dia belum sadar.
"hei, bangun" ketiga kalinya dia bangun juga.
"eh kamu, maaf aku tidur diranjangmu, aku benar-benar lelah dan mengantuk, tadi dini hari aku baru tiba di Indonesia, dan belum ada istirahat sampai acara akad tadi".
" o iya, tidak apa-apa, mama menyuruhmu kebawah" aku masih tidak bisa melupakan kejadian sebulan lalu, saat dia datang ke rumah cuma untuk minta nomor handphone lalu pergi.
"baiklah, aku kebawah dulu".
aku tidak Menyahuti nya lagi, aku masih merasa sedikit kesal. lebih baik aku tidur. saat berbaring di kasur, wangi parfum maskulin masih tercium. aku menyukai wangi parfum ini. wanginya menenangkan.