Sewindu

Sewindu
19



Hari ini kami kembali ke jakarta, 3 hari di kota enarotali mengukir sebuah pengalaman yang begitu indah, sangat patut jika diulang kembali dikemudian hari. langit sudah hampir gelap ketika aku dan Daeshim sampai di rumah.


selepas makan malam bersama Daeshim, dia meminta ijin keluar, katanya ingin bertemu temannya di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari sini. kesempatan ini aku gunakan untuk menghubungi temanku yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit terkenal ibu kota.


"Halo Laras" sapa ku saat sambungan telepon mulai terhubung


"ya halo, ada apa Yon?, tumben kamu nelfon, kirain udah lupa". Aku memang sudah lama tidak menghubungi Laras, jadi wajar jika dia sedikit marah, tapi aku tahu, dia orangnya baik dan tidak pendendam.


" maaf Laras, belakangan ini aku sangat sibuk, jadi tidak sempat mengunjungimu"


"iya aku ngerti kok, aku cuma becanda aja. oiya apa kabar, dan ada apa malam-malam nelpon, sepertinya kalau aku tebak, sangat penting?".


" hm besok, apa kamu sibuk? aku mau ketemuan, ada hal yang harus aku sampaikan secara langsung"


"ada apa sih, bikin penasaran aja"


"besok aja aku kasih tahu, bisa kan?"


"iya. aku masih bekerja di rumah sakit yang lama, kamu bisa berkunjung kapan saja. besok waktuku luang"


"baiklah, Terima kasih sebelumnya Laras, sampai ketemu besok."


"iya Yon, Sama-sama"


kuakhiri sambungan teleponku dengan Laras dan segera bersiap untuk tidur, tidak sabar rasanya ingin menemuinya besok.


pagi-pagi sekali aku pamit pada Daeshim, aku memberikan alasan ingin pergi mengunjungi mama sekalian mengantar Oleh-oleh yang kami bawah dari kota Enarotali, untungnya dia sepertinya sibuk dengan ponselnya, jadi tidak meminta untuk ikut.


"Ada apa Yon, seperti urusanmu ini sangat penting" Laras langsung saja menodongku dengan pertanyaan, sepertinya dia sangat penasaran, sama seperti pembaca hehehe


"hm begini ras" lama aku berpikir, apa aku harus meminta ini kepada Laras.


"apa, ayo katakan, jangan membuatku tambah penasaran" Laras makin mendesak ku


"Aku ingin menunda kehamilan"


"maksudmu? apa kamu ingin ber KB?"


"Ooo kalau itu kenapa kamu ragu mengatakannya, kamu datang di tempat yang tepat, kamu kan tahu, aku dokter kandungan. kamu ingin ber KB dengan cara apa, implan, susuk, pil, suntik..."


"bukan begitu" cepat-cepat kupotong berkataan Laras


"Lalu? bukannya kamu mau ber KB?"


"maksud aku, beri aku obat agar janin yang ada diperutku tidak jadi"


"apa kamu hamil dan ingin menggugurkannya?" mata Laras membulat dan mulutnya mengangah, untung saja tidak ada lalat di ruangan ini.


"bukan begitu Laras!" ekspresi Laras belum berubah


"jadi apa maksudmu?" kali ini dia seperti ingin menerkamku


"diam dulu, dengarkan aku dulu. aku dan suamiku melakukannya, tapi kami tidak memakai pengaman, aku takut jika aku hamil"


"oo jadi begitu maksudmu" Laras kembali tenang, kali ini dia seperti menahan tawa.


"jadi bagaimana, apa kamu punya obat pencegahan"


"tenang saja, itu soal gampang, tapi kenapa kamu tidak ingin hamil?, bukannya itu bagus, suamimu pasti senang terutama tante Yora"


"aku bukan tidak ingin hamil, aku belum siap aja"


"umur kamu sudah Kepala tiga Yona, sebentar lagi 32 tahun, kamu ingin menunda berapa lama lagi?, nanti suamimu mencari anak dari wanita lain, apa kamu mau?"


"suamiku itu masih muda, dia baru 24 tahun, jadi kurasa diapun belum siap punya anak"


"tapi Yon... "


"Sudah Laras, aku kesini ingin meminta obatmu, bukan ceramahmu"


"Baiklah, baiklah, terserah kamu saja. aku akan buatkan resep, nanti kamu tebus di apotek".


aku pulang ke rumah dengan perasaan senang, masalah yang kututupi sendiri akhirnya menemukan solusi, tak lupa singgah di rumah mama mengantarkan Oleh-oleh.