Sewindu

Sewindu
18



Aku tidak mengerti lagi apa maunya lelaki ini, aku marah pun percuma, jadi kubiarkan saja dia memeluk tubuhku, mungkin setelah ini dia akan kembali bersikap seperti biasanya.


"Apa kamu ingin berpisah?" dengan suara lirih dia mengatakannya sambil membelai rambutku.


"kenapa kamu bertanya seperti itu?" aku mencoba tetap tenang meski sebenarnya aku terkejut dengan pertanyaan Daeshim.


"aku ingin mendengar jawabanmu atas pertanyaanku"


"kalau kita berpisah, bagaimana mama dan mommy, apa yang harus kita katakan kepada mereka berdua" aku hendak melepaskan diri dari pelukan Daeshim, tapi dia malah memeluk semakin erat.


"berarti kamu tidak ingin berpisahkan?"


"hm"


Daeshim melepas pelukannya, lalu menuntunku ke tempat tidur, kami duduk saling berhadapan, mata tajamnya menatap dalam mataku, dan tangannya Menggenggam erat tanganku.


"Yona, sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh hati padamu, mungkin kamu tidak akan percaya tapi itulah kenyataannya, apalagi setelah hidup bersama selama hampir 2 tahun, perasaanku semakin... "


"Daeshim..."


"Yona. aku mencintai dan menghormatimu, aku mengerti karirmu sangat penting bagimu, tapi aku mohon, sisakan sedikit ruang dihati dan pikiranmu untukku untuk keluarga kita. aku ingin hidup bahagia bersama dalam waktu yang lama, aku ingin kamu bisa melahirkan anak-anak kita, aku ingin melihatmu tersenyum dengan tulus kepadaku, aku ingin..."


"Daeshim" aku memeluknya, selama ini bukan aku tak menyukainya, dari awal bertemu pun aku sudah tertarik padanya, tapi ada hal pada diri Daeshim yang tidak bisa aku terima, selain karena karirku, juga umurnya yang terlampau mudah, aku juga kurang menyukai sikapnya yang terkadang kekanakan menurutku, walaupun dia baik dan lumayan perhatian. aku sadar, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi salahkah jika aku menginginkan pasangan yang sesuai harapan ku?.


"Yona"


Daeshim melepas pelukannya, dia menatap dalam mataku, membelai pipiku lembut, perlahan mendekatkan wajahnya hingga benda kenyal itu menempel di bibirku, *******, terus melakukannya dan berpindah ke bagian tengkuk, tangannya juga ikut bergerak perlahan namun pasti, menyusuri bagian-bagian tubuhku yang memberikan sensasi menuntut lebih.


Daeshim begitu lembut, dia memanjakanku hingga aku benar-benar lemah tak berdaya.


Daeshim menanggalkan pakaiannya satu persatu tanpa melepas Pagutannya. sedangkan aku, mudah saja baginya melepaskan handuk kimono yang belum sempat aku ganti.


aku ingin berontak dan menghentikan aktifitas kami sekarang, tapi entah apa yang merasuk ke dalam jiwaku, aku seperti terbuai dalam mimpi yang begitu indah, perlahan namun pasti, kami akhirnya menyatu layaknya pasangan suami istri.


ini pengalaman pertama bagiku, mungkin juga untuk Daeshim.


Aku terbangun dari lelahnya tubuh selepas melakukan aktifitas ranjang, kulirik jam di atas nakas, ternyata sudah pukul 2 siang, pantas saja rasanya sangat lapar, aku belum mengisi perut dari pagi hingga sekarang, hanya rahimku yang mungkin saja sudah penuh dengan benih Daeshim, dia melakukannya berkali-kali hingga aku hampir kehilangan kesadaran.


perlahan aku bangkit dari ranjang, memungut kembali handuk kimono yang tergeletak di lantai, memakainya, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari peluh akibat penyatuan, kulihat Daeshim masih sangat nyenyak dalam tidurnya, mungkin dia sudah sempat mengisi perut saat keluar pagi tadi. tegah sekali dia membiarkan aku kelaparan.


selesai mandi dan berganti pakaian, Daeshim belum juga bangun, aku berinisiatif memanggil pelayan hotel dan meminta tolong dipesankan makanan apa saja yang penting cepat dan aku bisa segera mengisi perut.


aku sudah kenyang, tapi Daeshim belum juga sadar. aku kembali ke tempat tidur dan ikut bermimpi indah bersama Daeshim.