Sewindu

Sewindu
04



POV YONA WILSON


Hari ini pertunangan ku dengan anak sahabat mama, aku sebenarnya belum benar-benar siap menjadi istri seseorang, tapi demi mama yang begitu gigih, aku akhirnya setuju. belum pernah sebelumnya mama seyakin ini dengan calon menantunya. ini kali ketiga mama menjodohkan aku dengan anak sahabatnya, dimulai saat usiaku 25 tahun, sekarang aku sudah berusia 30 tahun, dan entah mengapa kali ini mama mala menjodohkan ku dengan pria yang jauh lebih muda.


di tengah pemikiran yang masih bertanya-tanya, tiba-tiba kudengar suara mama memanggil


"Yona, ayo, nanti kita terlambat, tidak enakkan kalau pihak pria menunggu terlalu lama"


"iya mah" aku segera bergegas setelah mendapat panggilan dari mama.


"bagaimana, make up nya sudah bereskan?" mama bertanya kepada salah satu petugas MUA disampingku.


"iya nyonya" jawab petugas itu.


perjalanan ke gedung tempat acara berlangsung, ditempuh sekitar 20 menitan, dalam perjalanan aku hanya diam, begitu pun dengan mama, padahal biasanya mama sangat cerewet, hanya sopir yang sesekali bersuara untuk bertanya kepada mama, dan mama hanya menjawabnya singkat. dibelakang mobil yang kami tumpangi, juga turut ikut mobil dari keluarga mama dan almarhum papa.


saat tiba ditempat acara, masih sangat sepi.


"mah, ini benarkan tempatnya?" aku bertanya untuk memastikan mama tidak salah tempat.


"iya benar, ayo masuk" mama menjawabnya santai


"kenapa sepi sekali?" aku penasaran, tadi mama menyuruh kami cepat agar tidak terlambat


"2 jam lagi acara baru akan dimulai"


spontan aku dan keluarga yang mendengarnya kaget.


("yang ampun mama, sebegitu antusiasnya kah dirimu") tentu saja kalimat itu hanya aku ucapkan dalam hati. tak mau merusak suasana pesta terutama suasana hati mama. kulihat tante dari pihak almarhum papa sangat kesal, sementara omku, mereka hanya geleng-geleng kepala.


2 jam kami menunggu akhirnya acara akan segera dimulai. yang aku dengar, sahabat mama sudah tiba di parkiran bawah. sebentar lagi mereka sampai disini, walaupun pertunangan ini karena perjodohan, entah mengapa aku sangat gugup. aku belum pernah melihat bagaimana rupa bakal calon suamiku. mama tidak pernah memberikan fotonya, lagipula aku pun tidak peduli.


"itu mereka" ucap mama ketika segerombolan orang dengan setelan rapi memasuki ruangan. Kira-kira diantar mereka, yang mana calon suamiku. tentu saja pertanyaan itu hanya tersimpan dalam hati.


mama dan keluarga yang lain sudah menyambut mereka, sementara aku masih terdiam di tempat. Tiba-tiba mama memanggilku dengan isyarat tangan. aku seorang aktris, tentu saja sudah biasa tampil didepan umum, tapi kali ini aku sangat gugup. ini buka acting tapi ini nyata.


acara ini tertutup karena permintaan dari sahabat mama, jadi tidak ada satupun media yang bisa meliputnya.


"ini dia Putri saya jeng"


mama memperkenalkan aku dengan seorang wanita paru baya, aku yakin itu pasti sahabat mama, tante suzy.


"ini sahabat mama, tante suzy" ucap mama lagi


"Yona Wilson" kujabat tangan sahabat mama lalu menciumnya


"suzy, panggil saja mommy" ucap tante suzy. kesan pertama, seperti beliau orangnya ramah.


"oiya perkenalkan putra mommy" tante suzy memperkenalkan putranya yang tak lain adalah calon suamiku.


posisi pria itu menyamping, sepertinya dia lagi mengobrol dengan om Albert, adik papa. saking asyiknya, saat aku tiba, dia sama sekali tidak menoleh ke arahku.


"Daeshim" panggil tante suzy sambil mencolek lengan putranya. seketika pria itu langsung menoleh kearah kami


"iya mom"


"ini Yona, calon istrimu" tante suzy mengucapkan kata calon istri dengan suara lumayan keras, mereka yang mendengarnya hanya tertawa.


pria itu mengulurkan tangannya. aku yang begitu terpana dengan sosoknya, tiba-tiba merasa kaku, serasa dunia ini berhenti sejenak, kemudian mama menepuk pelan lenganku.


"Yona, Daeshim ingin bersalaman denganmu, kenapa mala diam"


spontan aku langsung menyambut uluran tangannya


"Yona Wilson" ucapku mantap, ini bukan diriku yang biasanya.


"Daeshim". pria itu mengucapkan namanya sambil tersenyum


"manis" tiba-tiba aku bergumam, mereka semua menatapku heran, aku merasa malu, tapi MC kemudian menyelamat hidupku.