Sewindu

Sewindu
08



cukup lama aku berendam dengan air hangat, rasanya tubuhku kembali fresh. aku sangat beruntung, gaunnya bisa ku lepaskan tanpa bantuan orang lain. tak lupa sebelumnya aku sudah menyiapkan baju ganti, jadi bisa sekalian berganti pakaian. saat keluar dari kamar mandi, ku lihat Daeshim sudah terlelap di atas tempat tidur, di kamar hotel ini tidak ada sofa yang bisa dijadikan tempat untuk berbaring, aku harus tidur dimana?, tidak mungkin kan aku tidur dilantai.


"ranjangnya cukup besar untuk 2 orang, tidurlah". suara Daeshim mengejutkan ku. ternyata dia belum benar-benar tertidur.


"iya" aku menjawabnya singkat, lebih baik aku bersikap dingin saja kepadanya, jadi jika nanti aku meminta untuk berpisah, dia tidak akan keberatan. tidak punya pilihan lain, dan sudah terlalu lelah, aku akhirnya tidur disampingnya,2 buah guling ku jadikan pembatas diantara kami.


kulihat Daeshim sedang termenung di balkon kamar, aku hendak bertanya atau sekedar berbasa-basi dengannya, tapi niat itu aku urungkan, mengingat aku sudah bertekad jika lebih baik kalau aku bersikap dingin saja kepada nya.


tadi pagi setelah sarapan bersama, kami kembali ke rumah dan tante suzy kembali ke negaranya, setelah pulang dari mengantarkan mommynya, Daeshim belum mengeluarkan satu katapun, dia seperti anak kecil yang lagi merajuk kepada ibunya, mogok bicara, kenapa tidak mogok makan saja sekalian.


"kamu ingin kita tinggal disini, bisakah kamu menyediakan satu ruangan khusus untukku bekerja?" selalu saja seperti itu, mengejutkan. baru beberapa detik yang lalu aku melihat nya masih di balkon, tiba-tiba saja dia sudah berdiri dibelakang ku.


"di samping kamarku ada ruangan kosong, itu bisa kamu gunakan" aku menjawab dengan posisi masih membelakangi nya.


"kalau begitu aku akan mengurusnya".


malam hari Daeshim kembali ke kamar.


"ruangannya sudah siap, jika kamu mencari ku, carilah aku di sana".


cepat juga dia menyiapkan ruang kerjanya, kupikir akan butuh waktu berhari-hari, tapi ternyata.., ah bodoh amatlah, lebih baik aku tidur, besok aku harus kembali bekerja.


entah sudah pukul berapa, aku merasakan ada gerakan di sampingku, sepertinya Daeshim baru akan berbaring. melihat sikapnya, dia tidak akan berani macam-macam, jadi biarkan saja dia tidur di ranjang ku, lagipula dia tidak akan bisa tidur di sofa, kakinya terlalu panjang.


pukul 9 pagi aku baru turun untuk sarapan, rumah sudah tampak sepi.


"bi, mama kemana?" aku bertanya sama bi ina yang lagi bersih-bersih di dapur.


"eh non Yona, ibu sudah berangkat ke kantor dari tadi non"


"tumben mama berangkat lebih awal"


"iya, katanya ada meeting penting non"


"Tuan muda juga sudah berangkat, bahkan lebih pagi dari ibu".


mau kemana dia sepagi ini, yang aku tahu, dia tidak punya teman dekat di kota ini.


" pergi kemana dia bi?"


"kata Tuan Muda, mau jalan-jalan ke pasar tradisional". buat apa dia ke pasar?, ah terserah lah, aku harus buru-buru berangkat.


"eh pengantin baru cepat bangat bulan madunya. ups lupa, nikah dijodohkan, jadi gak perlu bulan madu, toh sama aja, iya kan Yon?" baru datang sudah disambut sama si nenek lampir, aku mau ikut menggila tapi ini masih pagi, kenapa juga aku harus selalu satu proyek sama dia.


"celsi!" selin mencoba menegur celsi, tapi tentunya tidak akan berhasil, dari dulu dia selalu iri, aku selalu jadi pemeran utama, sedangkan dia hanya bisa jadi pendamping, kebanyakan jadi protagonis, sesuai lah sama sifat asli dia.


"ngomong-ngomong suamimu boleh juga," celsi tersenyum penuh arti, aku tahu dia pasti iri lagi tentang Daeshim, setiap ada pria yang mencoba dekat sama aku, dia akan berusaha untuk merampasnya dengan segala macam tipu muslihat nya. sayangnya para pria itu semuanya masuk perangkapnya. aku? tidak peduli sama sekali, apalagi harus sakit hati, dan hal itu membuat celsi makin menggila.


"drrrt drrrt" Daeshim menelfon, mungkin dia sudah kembali dari pasar


"kenapa?" aku langsung bertanya saja, tak perlu basa basi.


"maaf, aku tidak tahu kamu bekerja hari ini, lain kali aku akan mengantarmu" kedengaran nya dia benar-benar menyesal, siapa suruh pagi-pagi sudah keluar rumah.


"oo iya tidak apa-apa" aku masih mode dingin.


"kirimkan alamat mu bekerja, nanti aku akan menjemputmu"


"tidak perlu, nanti selin akan mengantarku pulang" aku tidak mau jika harus dijemput sama dia.


"kalau kamu tidak mengirim alamat mu, nanti aku minta sama mama Yora saja" berani-beraninya dia mengancam ku.


"baiklah" dengan terpaksa aku harus mengiyakan. tidak apa-apa, untuk kali ini saja.


dia tipe pria yang tidak peka, aku harus mencari waktu untuk memberitahunya kalau pernikahan ini hanya sementara.