Sewindu

Sewindu
05



sudah 1 minggu berlalu pertunanganku dengan Daeshim. selama sepekan terakhir, sosok pria muda itu terus menari-nari di pikiranku. setelah bertunangan, dia tak pernah sama sekali memberi kabar, padahal, benih-benih rindu rasanya sudah mulai tumbuh. apakah aku menyukainya? sepertinya tidak, ini hanya rasa kagum saja. dia memang tampan seperti kata mama, wajahnya campuran asia Timur dan Asia Tenggara. kurasa hanya itu, titik.


"tok tok tok" suara pintu diketuk


"non, ini bibi"


"masuk saja bi, pintunya tidak dikunci"


"ada apa?" aku langsung saja bertanya kepada bibi.


"itu non, dibawa ada Tuan Muda Shim mencari non"


"apa? siapa bi?" aku memastikan, aku tidak salah dengar.


"itu Tuan Muda Daeshim ada dibawa, ingin bertemu non Yona"


"benarkah bi?


"iya non"


"katakan kepadanya, aku dikamar mandi"


"tapi non"


"katakan saja seperti itu, aku harus ganti baju dan sedikit berdandan, butuh waktu, bibi paham kan?"


"iya iya non".


tak sampai 30 menit aku sudah selesai.


" sudah lama?" pertanyaan ku benar-benar pertanyaan bodoh, jelas aku sudah tau dia sudah lama menunggu.


"baru saja".


apa katanya, baru saja, sepertinya dia suka berbohong.


"aku kesini ingin meminta nomor handphone mu, bolehkan?".


meminta nomor handphone, jadi dia tidak memberi kabar karena tidak punya nomor handphoneku.


"Boleh, sebentar ya. ini kartu namaku, disitu ada nomor ponselnya"


"baiklah. terimakasih. kalau begitu aku pamit pulang" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"tapi kan.. " aku ingin mencegahnya, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia buru-buru menjawabnya.


"aku pulang ya". pamitnya setelah selesai mengobrol dengan entah siapa.


" iya" dengan senyum terpaksa. aku sudah menghabiskan waktu hampir 30 menit untuk bersolek, taunya dia kesini cuma minta nomor. dasar bocah.


"ini aku, Daeshim" isi pesan. dari si bocah rupanya.


"o ok" aku membalas pesannya. semoga dia peka.


"besok pagi aku mau ke Thailand". ternyata dia tidak peka


" o ok" semoga kali ini dia paham.


"dari Thailand aku mau ke afrika, lalu pulang ke Indonesia. sampai ketemu bulan depan, semoga pernikahan kita lancar".


Ya Tuhan dia benar-benar tidak peka. saat aku mau membalas pesannya lagi, dianya sudah tidak aktif.


dasar bocah.


satu hari, dua hari, satu minggu, aku menjalani rutinitas ku lagi sebagai aktris, hari ini aku ada syuting iklan. bagaimana dengan Daeshim, aku tidak akan memikirkannya lagi. kata mama, meskipun umurnya baru 22 tahun tapi dia dewasa. menurut ku sama sekali tidak dewasa. aku tidak akan luluh hanya karena dia tampan. seperti kata selin, aku akan menikah dengannya, lalu suatu hari nanti aku akan meminta ceria, tidak lupa minta gono gini, kata mama, dia kaya raya.


"Na, gimana Daeshim". mood ku tiba-tiba jadi rusak gara-gara selin menyebut nama si bocah.


"ya begitu lah" jawabku malas


"begitu gimana".


selin ini Lama-lama jadi bawel dan cerewet kayak mama. tapi aku lagi malas memaki apalagi harus bertengkar.


"dia lagi diluar negeri"


"dimana?"


"entah Thailand atau Afrika"


"jadi yang mana yang benar?".


"entah"


"maksud... " ucapan selin terpotong.


"sudah sudah, diam, ayo kita pulang, aku capek".


aku baru mau masuk ke dalam rumah, mama sudah menodong ku dengan pertanyaan.


"Yona, apa kabar Daeshim?".


ya Tuhan, tadi selin, sekarang mama.


" Yona capek mah, besok saja ya kita bicara".


aku cepat berlari ke kamarku di lantai dua, dari jauh aku masih mendengar suara mama yang mengomel seperti biasa.