
"aku minta maaf sudah membuatmu marah" Tiba-tiba saja Daeshim memelukku, aku cukup terkejut dengan sikapnya ini, selama lebih setahun menikah dengannya, dia memang selalu bersikap lembut, tapi belum pernah dia sampai memeluk ku seperti ini.
"apa yang kamu lakukan" aku mencoba melepaskan diri.
"jangan banyak bergerak, jika tidak..."
"jika tidak kenapa?, lepaskan! aku susah bernafas jika dipeluk seperti ini" awalnya aku merasa nyaman tapi lama kelamaan aku merasa sesak, pelukannya makin kuat.
"kubilang jangan banyak bergerak"
"lepaskan! jika tidak aku akan mati" uhuk uhuk uhuk saking sesaknya aku sampai terbatuk
"maaf" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"sudahlah, aku mau berangkat" aku masih susah mengatur nafas. aku ingin marah, tapi aku harus segera bergegas, takut selin sudah ada dibawa.
"ayo aku antar" tawarnya
"tidak perlu, selin yang akan mengantarku mulai hari ini"
tanpa menunggu lagi aku segera meninggal kan dia di kamar, dari jauh kudengar dia masih memanggilku, tapi aku tidak peduli. siapa suruh membuatku marah.
"ada apa sih, kok kusut gitu mukanya?" sampai di mobil selin langsung menodong ku dengar pertanyaan.
"tidak ada apa-apa, jalan aja".
malam ini aku pulang cukup larut, aku sengaja, semoga saja Daeshim sudah tidur. saat masuk ke kamar, tidak ada siapapun. tapi aku mendengar suara bunyi gitar dan suara orang bernyanyi, sepertinya suara itu berasal dari balkon kamar. saat hendak melihatnya, ternyata itu Daeshim.
"kamu sudah pulang, aku menunggumu"
"iya, tadi aku shooting diluar kota" aku berbohong, tidak mungkin aku bilang sengaja pulang larut malam.
"oh, lain kali beritahu kalau kamu pulang terlambat"
"hmm" dia tidak sadar kalau dia juga tidak memberi kabar kemarin.
"aku minta maaf soal kemarin" aku kira dia sudah lupa kesalahannya.
"hmm, aku masuk, mau bersih-bersih, ngantuk mau tidur".
Aku sudah berbaring cukup lama, tapi belum juga bisa tertidur, Tiba-tiba aku merasakan ada tangan yang melingkar di perutku.
"aku merindukanmu" Daeshim berbisik di telingaku, aku pura-pura tidak mendengarnya.
tangannya mengusap lembut perutku, itu membuatku tidak nyaman, refleks aku menyingkirkan tangannya tanpa mengubah posisiku yang membelakanginya.
"ternyata kamu belum tidur"
"jangan lakukan itu lagi, aku merasa tidak nyaman"
aku kembali memejamkan mata. berharap pagi segera datang.
"kamu istriku, bolehkah jika aku menginginkanmu malam ini? " ini kesekian kalinya dia meminta haknya, aku selalu beralasan capek atau sedang datang bulan, kali ini apa lagi alasanku agar bisa menolaknya. aku mengubah posisi tidur, memperhatikan wajahnya di cahaya remang lampu tidur, dapat kulihat kecemasan diwajahnya akan penolakan.
"maaf" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. kulihat ada kekecewaan dimatanya, tapi dia selalu pintar berpura-pura tersenyum.
"baiklah, aku tidak akan memaksakan"
"maaf"
"iya tidak apa-apa, ayo kita tidur".
Aku benar-benar tidak bisa tertidur dengan baik tadi malam, paginya aku terlambat bangun. kulihat di sampingku sudah kosong.
"Bi, Daeshim dimana?"
"Tuan pagi-pagi sekali sudah keluar nyonya, Tuan berpesan kalau nyonya sudah bangun diminta untuk menelfon nya"
"Dia bilang mau kemana bi? aku penasaran kemana lagi dia pergi kali ini.
" Tidak, Tuan hanya berpesan untuk nyonya menghubunginya"
"itu saja?"
"oiya tadi bibi lihat, Tuan pergi dengan membawa sebuah koper"
"koper?" dia akan pergi kemana dengan koper, apa dia marah karena semalam aku menolaknya?, tapi biasanya juga tidak marah, paginya dia akan bersikap seperti biasa.
"baiklah, nanti akan saya hubungin".
Aku kembali ke kamar untuk memeriksa baju-bajunya yang ada di lemari, ternyata memang berkurang lumayan banyak.
Tapi aku tidak terlalu mengambil pusing, mungkin dia pulang karena merindukan mommy nya, nanti juga akan kembali sendiri.