
disepanjang perjalanan menuju Bogor, aku dan Daeshim lebih banyak diam tenggelam dalam pikiran masing-masing, namun saat sudah dekat dengan tempat tujuan Daeshim mulai membahas yang tidak sama sekali aku sukai.
"Yona, apa masih belum bisa kamu menerima pernikahan kita sepenuhnya?" suaranya sangat lirih tapi masih bisa kudengar dengan baik, aku menoleh kearahnya, tapi dia enggang memalingkan pandangan dari jalan didepan, harusnya dia menatap mata lawan bicaranya jika mempertanyakan perasaan seseorang, bukan seperti sopir yang bertanya kepada penumpang, ingin turun dimana.
"Aku tidak ingin membahas itu sekarang"
"Bagaimana jika kita ke Bali atau luar negeri?, kita belum pernah pergi kemana-mana berdua kan?, anggap saja bulan madu" aku menyukai ajakannya tapi aku sungguh benci caranya
"kamu atur sajalah" aku menjawab sekenanya
"Aku bisa saja mengaturnya jadi besok, tapi kamu masih ada pekerjaan"
sepertinya dia sangat ingin pergi liburan, aku merasa bersalah jika menolaknya lagi.
"minggu depan aku sudah selesai shotting"
"Baiklah kalau kamu maunya minggu depan"
kenapa jadi aku?
"aku bilang minggu depan sudah tidak shotting lagi" aku mulai berang, disini seakan-akan aku yang kebelet ingin pergi liburan dengan Daeshim, padahal dia yang mengajak ah bukan lebih tepatnya membujuk, intinya dia yang lebih dulu membahas soal bulan madu.
Aku tidak sadar kalau kami sudah sampai di Bogor, larut dalam kekesalan dari ulah Daeshim.
Hari ini aku dan Daeshim terbang ke Papua. kupikir dia akan mengajakku ke Paris atau Korea atau paling tidak ke Bali, seperti yang dia katakan sebelumnya, tapi semua tidak sesuai harapan.
kurang lebih 5 jam perjalanan kami tempuh lewat udara akhirnya sampai juga di kota Jayapura, lalu melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Paniai, salah satu kabupaten di provinsi Papua. Di sepanjang perjalanan, Daeshim menceritakan sedikit tentang wisata tujuan kami yaitu danau Paniai, letaknya berada di pedalaman papua berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Di Sana ada tiga Danau yang ditemukan oleh seorang pilot dari Belanda, yang kemudian dikenal dengan nama wisselmeren berasal dari Bahasa Belanda.
Tiba di kota enarotali ibu kota kabupaten Paniai, kami segera menuju penginapan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Daeshim. hari sudah senja, jadi kami memutuskan untuk beristirahat saja, besok baru akan melanjutkan berwisata di tempat ini.
Tenagaku cukup terkuras dalam perjalan kemari, aku tidak terbiasa menempuh perjalanan yang penuh tantangan, biasanya aku terbang dengan fasilitas yang baik di first class, sampai ditempat tujuan pun fasilitasnya VIP. tempat kami menginap sangat sederhana dan sempit, padahal yang aku lihat dalam perjalanan kemari, masih ada penginapan yang kelihatannya lebih baik, entah kenapa Daeshim malah memilih tempat ini.
"Kamu kenapa mukanya seperti itu?, apa kamu sudah lapar?, sebentar lagi makanan akan sampai, aku sudah pesan setengah jam yang lalu" Daeshim mengira aku lapar, mana mungkin, disepanjang perjalanan aku terus makan, bahkan di koperku masih ada banyak makanan yang ku bawa dari rumah.
"apa tidak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini?" dengan muka masam aku bertanya lebih tepatnya mengeluh kepada Daeshim.
"menurutku tempat ini sudah cukup baik, yang paling penting bersih"
"tapi aku... "
"sudah. lebih baik kamu mandi biar segar, setelah itu kita makan" Daeshim memotong ucapanku, biasanya aku tidak akan mudah menurut apalagi jika sedang kesal, tapi aku tidak punya pilihan lain selain patuh.