Sewindu

Sewindu
20



"Kamu darimana saja? tadi aku telfon mama katanya kamu tidak ada disana" baru juga aku membuka pintu, Daeshim sudah menodong ku dengan pertanyaan.


"Aku mampir dulu ke rumah temanku sebelum ke rumah mama"


"harusnya kamu beritahu sebelumnya supaya... "


"sudahlah, akukan sudah pulang, aku capek mau tidur" aku hendak meninggal Daeshim tapi dia mala menarik tanganku.


"hei tunggu dulu, duduk dulu sini" dengan terpaksa aku menurutinya


"ada apa sih?"


"ini aku punya hadiah kecil untukmu, semoga kamu suka" Daeshim mengeluarkan kotak kecil dari sakunya


"apa ini"


"kamu buka saja, lihat sendiri apa isinya". saat aku membuka kotak itu, ternyata isinya sebuah kalung berlian yang sangat cantik dan mewah, kalung ini sudah lama aku inginkan, harganya cukup fantastik, 2 milyar lebih, hampir mencapai 3 milyar.


"apa ini asli?" aku kurang yakin jika Daeshim memberiku benda semahal ini


"ya asli lah, sini aku pasangin" Daeshim merebut kalung itu dari tanganku lalu memasangnya di leher


"baru tahu kalau aku cantik"


"maksud aku kalungnya, cantik". baru juga aku ingin berterima kasih tapi Daeshim sudah membuat moodku hilang, kenapa dia hanya memuji kalungnya, apa salahnya memujiku sekalian. dengan rasa kesal aku meninggal kan Daeshim tanpa berkata-kata lagi. saat selesai membersihkan diri dan hendak tidur, Daeshim tiba-tiba memelukku dari belakang, ia meminta maaf dan aku memaafkannya, yang penting dia sudah menyadari kesalahannya, berharap lain kali tidak bersikap seperti itu lagi. selanjutnya kami kembali melakukan penyatuan sebagai suami istri, menyelami nikmatnya surga dunia.


Pagi hari aku tidak lupa meminum Pill kontrasepsi yang telah aku beli di apotik. Bagaimana pun aku belum siap hamil, aku takut nanti akan gendut dan penampilan tubuhku tidak menarik lagi.


aku merahasiakan ini dari Daeshim, usianya masih sangat muda, kurasa tidak mengapa jika aku menunda kehamilan.


Daeshim sangat bersemangat di ranjang. aku sampai kewalahan mengimbanginya.


"Aku berharap kamu segera hamil" tiba-tiba Daeshim membisikkan Kalimat itu di telingaku kala kami telah selesai dengan aktifitas ranjang. mengecup kening dan perutku. aku jadi merasa bersalah.


aku hanya memberi kan senyuman terbaikku padanya lalu aku memeluk dan bersandar di dada bidangnya yang kokoh. aku sangat suka wangi tubuhnya. Dilihat dari umur, dia lebih pantas menjadi adikku tapi dadanya yang lebar sangat mampu melindungi tubuh kecilku.


Usia pernikahan ku dengan Daeshim sudah hampir lima tahun. tentu saja aku belum hamil, pil KB masih setia aku minum setiap harinya. beberapa kali hampir saja Daeshim menemukan pil itu di laci atau di tasku, setelah itu aku pun mengganti tempatnya dengan botol vitamin untuk berjaga-jaga.


Kini usia Daeshim makin matang, baru beberapa hari yang lalu kami merayakan ulang tahunnya yang ke 27. aku memberinya kado terbaik menurutku. sebuah mobil keluaran terbaru, kulihat dari matanya sepertinya dia kurang suka dengan hadiah pemberian dari istrinya ini, tapi Daeshim tetaplah Daeshim, lelaki yang 8 tahun lebih mudah dariku ini sangat pandai menyembunyikan perasaannya, dibalik senyuman manisnya yang memabukkan, belakangan ini aku dapat melihat ada ketidaksukaan dibaliknya, terlambat memang memahami diri nya. bertahun-tahun aku menganggap senyumannya itu menandakan dia bahagia, dia menyukai sesuatu, namun belakangan aku tahu ada sesuatu dibalik senyumannya, sesuatu yang tidak ingin mengecewakan siapapun