
3 hari mommy dan mama menginap di rumah, mereka sudah pulang sejak siang tadi.
"Daeshim belum pulang bi?" tadi Daeshim pergi mengantar mama dan mommy.
"belum non" jawab bibi
"coba bibi telfon pakai telfon rumah"
"baik non"
Aku hendak makan malam, tapi mendadak nafsu makan ku hilang duduk sendiri di meja makan, makan siang tadi masih ada mama, mommy dan Daeshim pastinya. berbeda sekali rasanya.
"bagaimana bi"
"itu non, katanya Tuan singgah ke suatu tempat"
"suatu tempatnya itu dimana?" aku mulai jengkel jika sudah seperti ini
"maaf non, bibi tadi tidak sempat bertanya lebih jauh lagi, Tuan Buru-buru mematikan sambungan teleponnya"
"sudah, bibi ke dapur sana"
Aku tetap mengisi perut sedikit sebelum tidur.
Bangun pagi, di sampingku masih kosong, aku tidak tahu semalam Daeshim pulang atau tidak, usai membersihkan diri, aku menuju meja makan untuk sarapan. dari jauh kulihat Daeshim sudah duduk di sana, didepannya ada cangkir yang ku yakin berisi kopi hitam kesukaan nya, dia belum menyadari keberadaan ku, serius bermain ponsel membuatnya fokus. saat aku duduk di sampingnya, Daeshim terlihat terkejut.
"eh kamu sudah bangun" tanyanya.
"iya, kamu pulang jam berapa?"
"Aku pulang pagi" Dia menjawab tanpa merasa bersalah.
"ini sarapan aku buat khusus untukmu" Dia memberiku piring berisi pancake yang diatasnya disiram madu dan segelas susu berwarna coklat.
"Terima kasih"
"Hari ini kamu shotting dimana?" menyeruput kopinya lalu bertanya tanpa menoleh kearah ku
"Hari ini aku cuma bisa mengantarmu tapi tidak bisa menjemputmu, siang nanti aku mau ke Bandung" kali ini matanya fokus ke ponselnya.
"kamu ada urusan apa di Bandung?" aku cukup penasaran kegiatan apa yang dia lakukan beberapa bulan ini, setahun menikah dengannya, dia tidak banyak aktifitas di luar rumah, barulah setelah kembali dari luar negeri dia begitu sibuk. ini bukan karena aku sering menolaknya kan?. apa dia punya selingkuhan, ah tidak mungkin.
"disana ada pertemuan kumpulan pengasuh anak jalanan, aku baru ikut bergabung beberapa waktu lalu"
"anak jalanan? bergabung?" selama ini aku tidak peduli dengan orang-orang semacam itu, karena menurutku itu sudah ada penanggungjawabnya. apa dia benar-benar mau membantu anak-anak jalanan, atau itu cuma alasannya saja.
"Iya, sekarang aku sudah menetap di negara ini, apa salahnya aku ikut bergabung"
"cuma mendonasikan uang kan?" tanyaku sedikit ragu, takut salah
Daeshim mala tersenyum dan menatapku, padahal dari tadi walaupun mulutnya terus berbicara tapi matanya sangat fokus keponsel, sesekali berpindah ke cangkir kopinya
"itu salah satunya, kalau cuma menyumbangkan uang, namanya donatur, kalau pengasuh sama saja dengan orangtua angkat"
"orangtua angkat?" gumamku lirih. apa Daeshim sungguh sangat ingin punya anak sampai-sampai anak jalanan dia angkat jadi anaknya.
"apa kamu... sudah sangat ingin punya anak?" ragu aku bertanya, daripada penasaran
bukannya menjawab, Daeshim malah tertawa terbahak-bahak.
"kenapa kamu malah tertawa?" aku benci kalau sedang serius malah ditertawakan
"kamu lucu. aku punya banyak anak angkat yang lebih sering aku sebut sahabat, karena sebagian dari mereka seumuran denganku bahkan ada yang lebih tua, tapi mereka tidak tinggal di negara ini. Dulu ketika masih sendiri, aku sering menghabiskan waktu bersama mereka, sekarang tidak lagi, aku hanya membantu sedikit dengan uang" Daeshim menjelaskan dengan matanya yang sesekali menerawang jauh.
"sekarang tidak lagi kenapa?"
"kan sudah ada kamu sekarang, ya meskipun sepertinya mereka lebih menyayangiku"
aku segera berdehem meskipun tenggorokanku tidak gatal
"aku sudah terlambat, ayo kita berangkat sekarang".