
seharian shooting membuat aku lupa menelfon Daeshim, dia yang akhirnya menghubungi ku lebih dulu.
["apa kamu sudah bangun?"] isi pesan dari Daeshim beberapa jam yang lalu.
["sekarang aku mau tidur, kamu kemana?"]
["maaf tadi aku lupa menelfon mu"]. lama aku menunggu balasan pesan dari Daeshim, tapi sampai aku tertidur dia belum juga membuka pesanku.
Pagi hari saat membuka benda pipih ku, yang pertama muncul dilayar notifikasi pesan baru dari Daeshim, ada sekitar 10 pesan dari nya
["aku lagi di Madagaskar"] pesan pertama dari Daeshim.
["kemarin aku buru-buru jadi tidak menunggumu bangun"]
["maaf tidak memberitahu mu sebelumnya, dulu, aku sering pergi ke beberapa negara, termasuk Negara tempatku saat ini, ada beberapa hal yang aku kerjakan di negara-negara tersebut"]
["sudah lama aku tidak mengunjungi teman-temanku, sekarang aku merindukan mereka, aku harus segera berangkat karena ada urusan mendesak, aku berharap kamu mengerti.] ada beberapa pesan lagi yang belum aku baca. intinya dia lagi berada di luar negara, hanya itu yang perlu aku tahu.
Tidak terasa sudah 3 bulan Daeshim berada di luar negeri, sesekali dia menghubungiku, kuakui aku sedikit merindukannya, seperti malam ini.
[kamu lagi apa?] aku mencoba menghubunginya lewat pesan teks.
[aku lagi di jalan menuju pulang ke rumah]
[benarkah?] aku sangat senang, besok Daeshim akan ada di rumah. aku buru-buru memejamkan mata agar pagi segera datang.
pagi, aku bangun dari tidurku, merenggangkan badan sebentar lalu melihat ke samping, ternyata sudah ada Daeshim di sana, aku tersenyum melihatnya, tidak ku sangka secepat itu dia sampai, tadi malam saat membalas pesanku mungkin dia sudah ada si Indonesia.
"hei kamu sudah bangun?" aku sedikit terkejut, aku terlalu fokus memandang wajahnya yang sudah lama aku tidak melihatnya secara langsung, hingga aku tidak sadar dia sudah membuka mata.
"eh iya, kamu pulang jam berapa" sedikit gugup aku menjawabnya.
"aku sampai di rumah sekitar jam 3 subuh, kamu terlalu pulas tidur jadi aku tidak tega mengganggumu, tenang saja, sebelum tidur disini aku sudah membersihkan diri" dia masih sama, selalu tersenyum padaku meskipun mukanya masih terlihat sangat mengantuk.
"ooo ya sudah, kalau kamu lelah tidur aja lagi"
"hm, mataku masih sangat berat"
"Bibi tolong siapkan sarapan ya, aku mau antar ke kamar buat Daeshim"
"Tuan sudah pulang non?" terlihat sekali asisten rumah tangga ku ini senang mengetahui Tuannya sudah pulang.
"iya.segera bi ya"
"baik non akan bibi siapkan".
"kamu sudah bangun?" kulihat Daeshim sudah rapi dengan baju santainya
"iya, aku baru mau kebawah sarapan"
"ini aku bawakan sarapan"
"iya terima kasih, aku sarapan dibawah aja, ayo kebawah" aku ingin mulai hari ini bersikap lebih baik padanya, tapi baru di garis start dia sudah mematahkan semangatku.
kembali aku membawa nampan berisi roti dan susu, Daeshim ikut dibelakang ku. setidaknya kalau tidak mau sarapan dikamar, dia yang membawa nampan ini kembali, bukannya sibuk dengan ponsel ditangannya, awas saja kalau kesandung di tangga, aku tidak akan mau menolong nya.
"Bi tolong buatkan kopi hitam"
"baik Tuan".
"aku ingin sarapan dimeja makan karena ingin minum kopi, bukan susu"
"kenapa tidak bilang dari tadi, aku bisa menggantinya"
"tidak perlu, aku masih sehat, jadi bisa sarapan di meja makan".
malas berdebat, aku memilih diam.
"kenapa cemberut?, aku benar-benar tidak suka sarapan di kamar jika tidak terpaksa. oiya hari ini kamu mau kemana, biar aku yang mengantarmu"
"jam 10 aku mau ke Bogor, aku ke kamar mau siap-siap" ku tinggalkan dia sendiri di meja makan, aku masih agak sedikit dongkol sarapanku ditolak.