
"Apa yang di bicarakan orang tua itu" Tanya Bangsawan Voldermon begitu Aku keluar dari ruangannya. Dia mengawalku menemui Perdana Menteri tapi ketika Kami sampai di depan pintu, Prajurit menolak keras Bangsawan Voldermon untuk masuk ke dalam bersamaku. Karena tidak ingin menimbulkan perselisihan Aku akhirnya meminta Bangsawan Voldermon menunggu di luar.
"Besok Aku akan ke Argueda"
"Kau yakin ?"
"Ya...Jika Aku terus berada di sini nyawa kalian semua termasuk Nara akan ada dalam bahaya"
"Ada yang lain yang Dia ucapkan ?"
"Ya.." Kataku lirih.
"Apa itu ?"
"Sedikit ancaman"
Bangsawan Voldermon menghentikan langkahnya. Dia mengernyit menatapku. Menilai reaksiku. Aku membalas tatapannya dengan keteguhan hati. Aku sudah memikirkan semua ini baik-baik.
Bohong jika Aku tidak merasa hancur atas kepergian Pangeran Sera. Tapi, Aku harus bertahan untuk melanjutkan hidup. Pangeran Riana benar, Aku mempunyai Nara. Aku kini seorang Ibu yang harus melindungi anak-anaknya. Perbincanganku dengan Perdana Menteri Borendo seketika membuka wawasanku. Akan banyak orang yang akan menyakiti Nara untuk memperoleh Tahtahnya. Jika sampai Nara celaka Dia akan kehilangan segalanya termasuk nyawanya. Aku harus melindungi Nara semampuku.
Dia anakku. Hartaku yang paling berharga. Demi Nara, Pangeran Sera sampai mengorbankan nyawanya untuk melindungiku dan Nara. Aku tidak mau menyia-siakan pengorbanannya.
Perdana Menteri Borendo jelas ingin menguasai Argueda dengan menggulingkan kerajaan yang sah sekarang. Jika itu sampai terjadi maka Raja dan Ratu, Putri Margitha dan Pangeran Arana akan mendapat hukuman mati Aku harus mencegahnya. Sebagai penebusanku kepada Pangeran Sera.
"Bagaimana dengan Nara" Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. Bangsawan Voldermon mendesah. "Dia sudah di bawa pergi ke Garduete. Kau tenang saja"
Pangeran sibuk sekali pagi ini untuk mempersiapkan keberangkatan Nara. Memastikan Nara aman sampai di Kerajaan. Akhirnya Bangsawan Voldermon yang menemaniku pergi menemui Perdana Menteri Borendo.
Aku kembali ke kamar. Mempersiapkan keperluanku menuju Argueda. Aku tidak tahu apa yang akan menimpaku di sana. Dengan Ratu yang mungkin kini begitu membenciku. Posisiku akan sangat sulit. Pangeran Riana mengatakan akan menemaniku menuju Argueda meskipun Aku menolak. Aku tidak ingin melibatkannya akan masalah ini.
Selain itu, Aku tidak ingin ada salah paham, Aku tidak berniat untuk kembali padanya. Walau sekarang Pangeran Sera sudah tiada. Aku hanya akan menikmati kesendirianku dengan membesarkan Nara.
Aku ingin berhubungan dengan Pangeran Riana hanya sebatas teman yang bersama mengurus Nara.
Keesokan paginya. Aku telah siap. Empat orang pelayan datang membawakanku pakaian dari Kain Katun. Mereka diperintahkan Ratu untuk melepaskan segala atribut Putri. Mengenakan pakaian yang diperuntukan untuk tawanan.
Setelah selesai, Aku dikawal ketat bersama satu pasukan bersenjata lengkap. Pangeran Riana dan teman-temannya terlihat berselisih karena dihalangi ketika akan mengikuti Kami. Beberapa orang berbisik ketika melihatku. Ada tatapan melecehkan dan ada juga yang merasa iba. Peti Jenazah berisi Pangeran Sera di tarik oleh Kereta khusus kerajaan. Konon Tubuh Pangeran diawetkan sedemikian rupa oleh Pendeta Suci sehingga memperlambat pembusukan. Hari ini untuk pertama kalinya Aku bisa melihat Pangeran Sera. Sebelumnya kerajaan melarang keras Aku untuk mendekati ruangan tempat Pangeran di letakan.
Bagiku, Dia masih terlihat sama seperti saat Aku melihatnya hidup. Hanya wajahnya yang terlihat pucat. Luka-lukanya sudah dibersihkan. Pangeran seolah sedang tidur tidak meninggal. Ada senyum tersungging di bibirnya. Suatu ketenangan tampak jelas di dalam dirinya.
Air mataku kembali mengalir. Aku sangat merindukannya. Lebih dari apapun. Lebih dari siapapun.
Andaikan waktu bisa di putar, Aku tidak ingin meninggalkannya waktu itu jika tahu Kami akan berakhir seperti ini. Aku telah banyak melakukan kesalahan padanya Sekarang Aku sangat menyesalinya. Aku dinaikan ke dalam kereta bersama dengan Peti Jenazah Pangeran Riana. Gererou mengawalku dari samping. Berjalan mengendarai kuda di dekat Kereta.
"Kau harus belajar bagaimana rasanya di dalam kuburan bersama Suamimu nanti" Kata Perdana Menteri Borendo dengan wajah sumringah. Aku diam. Pintu ditutup dengan keras. Terdengar suara gemeletak saat pintu di kunci dari luar. Aku Duduk bersandar pada Peti jenasah. Memperhatikan Pangeran yang terlihat di dalam sana. Dia meninggal akibat benturan keras yang mematahkan tulang lehernya ketika Bersama Lekky. Sementara Lekky sendiri luka di sekujur tubuh akibat ledakan yang terjadi. Suatu keajaiban menemukan Pangeran Sera dengan utuh seperti ini. Terdengar suara gemeletak roda ketika Rombongan mulai berangkat.
Kami terus berjalan menuju Argueda. Aku tidak dizinkan keluar kereta kecuali untuk membersihkan diri dan buang air. Mereka memperlakukanku seperti seorang tahanan. Seseorang menyelipkan sepiring makanan dengan lauk ala kadarnya dan segelas air putih. Aku mengambil nya. Perhitungan waktuku kacau. Aku tidak tahu sudah berapa lama Kami melakukan perjalanan ini. Selain itu, Aku sangat gelisah memikirkan Nara. Apakah Dia sudah tiba dengan selamat sampai tujuan ?.
Aku merindukan Nara.
Aku sedang meringkuk kedinginan ketika Pintu kereta di buka. Tanpa peringatan, Aku di tarik keluar dengan kasar. Kedua tanganku diikat kebelakang. Tampak Gererou mengernyit hendak memprotes. Tapi Perdana Menteri Borendolah yang memimpin rombongan. Aku mengelengkan kepala pelan pada Gererou. Berharap Dia tidak melakukan suatu tindakan yang berbahaya. Di depanku, Sudah banyak Rakyat berkumpul di sepanjang jalan. Mereka tampak bersedih menyambut kepulangan Pangeran Sera.
Aku melangkahkan Kaki. Dengan di kawal penjaga kerajaan ketika sebuah batu dilemparkan mengenai pelipisku.