Rising Sun

Rising Sun
11 Yuki



Aku membuka mata ketika ternyata Pangeran menjauhiku. Di tangan Pangeran ada kotak obat yang kuletakan di Meja.


"Aku bisa melakukan sendiri. Pangeran tolong..Kembalilah ke kamar"


Tapi Pangeran menarikku mendekatinya. Dia mengusap rambutku dan menyelipkan di belakang telinga.


"Diam" Perintahnya ketika Aku hendak menjauhinya.


Pangeran memeriksa luka di keningku. Aku meringis saat Dia mulai membersihkannya. Dia melakukannya dengan sangat berhati-hati. Setelah itu Dia selesai. Dia melanjutkan membersihkan luka di lengan dan lututku.


"Terimakasih" Kataku ketika akhirnya Dia selesai dan menutup kotak obat. Aku menurunkan kakiku. Pangeran berdiri. Tanpa mengatakan apapun Dia keluar kamar dan menutup pintunya.


Besoknya Aku mendengar Pangeran Arana dan Putri Margitha sedang berdebat dengan Raja dan Ratu. Membuatku semakin tidak enak. Mereka menentang keras keinginan Ratu untuk mengurungku bersama Pangeran Sera didalam pemakamannya.


Aku merasa sangat sedih ketika mengetahui pertengkaran Mereka.


Akhirnya setelah protes yang sangat panjang. Raja memutuskan untuk mencambukku dengan rotan sebanyak seratus kali. Jika saat itu Aku bisa selamat. Maka Aku akan diampuni.


"Bagaimana bisa Kau bertahan dengan cambukan seperti itu" Kata Bangsawan Voldermon saat menemaniku di dalam kamar. Seorang tabib yang dipanggil oleh Pangeran Arana kembali datang dan memeriksa kondisiku.


Bangsawan Voldermon tampak gusar. Di sebelahnya ada Bangsawan Asry dan Putri Margitha. Entah kenapa..Aku merasakan beberapa hari ini hubungan Bangsawan Asry dengan Putri Margitha menjadi dekat.


Mereka berusaha menyembunyikannya. Namun Aku dapat melihatnya dengan jelas. Semoga hubungan Mereka berakhir baik mengingat Aku mendengar Putri Margitha akan di nikahkan dengan anak sulung perdana Menteri Borendo.


Aku melihat Putri Margitha tidak menginginkan pernikahan ini. Dia merasa tertekan. Kematian Pangeran Sera membawa gejolak besar dalam kerajaan. Perdana Menteri Borendo memiliki banyak kesempatan untuk mengulingkan Raja. Hal ini membuat Pangeran Arana sangat sibuk.


Sebab jika sampai itu terjadi, Maka dipastikan Pangeran Arana akan dibunuh begitu juga dengan Raja dan Ratu. Lalu nasib Putri Margitha pastilah akan sangat menderita.


Tabib selesai memeriksa kondisiku. "Putri harus terus menjaga kesehatan. Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi semoga besok hasilnya akan keluar"


"Aku merasa sehat" Kilahku menolak pemeriksaan dari tabib.


"Benar Putri. Syukurlah kalau Putri Merasa sehat" Kata Tabib tenang. Namun Aku bisa merasakan ada sesuatu yang coba di sembunyikannya. Tabib berdiri.


"Aku akan berbicara dengannya sebentar" Kata Putri Margitha saat Tabib itu akan pergi.


"Besok adalah hari yang berat untukmu. Istirahatlah" Kata Bangsawan Voldermon tidak mampu menyembunyikan kegusarannya. Aku menganggukan kepala.


Aku sendiripun merasa cemas. seratus cambukan rotan. Apakah Aku sanggup menahannya ?. Ini sama saja menyiksaku sampai mati.


Raja dan Ratu sama sekali tidak berniat melepaskanku. Jadi Mereka mengajukan syarat yang sulit. Pada dasarnya hanya kematianku yang Mereka inginkan.


"Jika Kau bisa bertahan di seratus cambukan, Aku akan melepaskanmu" Kata Raja Jafar dengan suara lantang. Aku menatap cambuk yang digunakan dan merasa ngeri. Dua orang penjaga menarikku secara kasar ke bawah tiang. Aku meronta berusaha membebaskan diri lb MBM Riana muncul bersama teman-teman Bangsawannya. "Aku yang akan mengantikannya. Lepaskan Dia"


"Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan kerajaan Kami Pangeran" Ujar Raja Jafar sinis.


"Aku juga turut andil dalam kepergian Sera. Izinkan Aku mengantikannya menerima hukuman" Kata Pangeran tenang namun tegas. Terlihat tekad yang kuat di dalam dirinya. Tidak ada keraguan sedetikpun.


"Baik. Tapi jika di pertengahan jalan Kau tidak kuat maka Putri Yuki akan tetap menjalani sisanya. Dan satu lagi, Ini adalah kemauanmu sendiri. Jika terjadi sesuatu padamu jangan salahkan Kami"


"Tidak perlu. Yang Mulia Saya bisa menanggungnya seorang diri" Kataku cepat.


"Yuki" Panggil Pangeran Riana tegas. "Diam" Perintahnya lagi dengan nada tak terbantahkan.


Ikatan tanganku di lepas. Aku di tarik mundur menjauhi tiang. Pangeran maju. Melepaskan pakaiannya hingga bertelanjang dada. Dia membiarkan dirinya di ikat di tiang.


Seorang penjaga di belakangnya memegang cambuk dari rotan.


"Katakan jika Kau ingin berhenti. Kami akan segera menggantikanmu dengan Putri Yuki" Kata Raja Jafar lantang.


Lalu...


Teriakan Pangeran terdengar seiring cambuk yang di lecutkan ke arahnya. Aku melihat kulit punggungnya memerah. Mengeluarkan darah.


"Hentikan...Aku mohon..Pangeran katakan berhenti" Kataku tidak tahan dengan apa yang kulihat. Prajurit terus mencambuk tanpa henti. Air mataku mengalir keluar melihatnya.


Dia tidak seharusnya melakukan hal ini untukku.


Bangsawan Voldermon memegang tanganku kuat. Menahanku agar tidak berjalan maju. Rahangnya terkatub rapat menahan amarah yang ada di dalam dirinya.


Saat cambukan yang ke tujuh puluh Pangeran sudah tidak menjejakan kakinya ke tanah. "Sudah hentikan...Biarkan Aku yang mengantikannya. Cukup...Aku mohon Raja"


"Yuki..Diamlah" Kata Pangeran Riana masih bersikap keras. Seolah luka-luka di punggungnya sama sekali tidak memiliki arti.


"Lanjutkan" Kata Pangeran Riana.


Kembali Cambuk di lecutkan. Aku berpaling tidak mampu melihat. Saat Akhirnya seratus cambukan di lewati. Bangsawan Xasfir langsung maju. Mendorong Prajurit yang memegang cambuk menjauh. Di bantu Bangsawan Asry, Dia melepaskan ikatan Pangeran Riana.


"Bagaimana Raja Jafar Apa Kau sudah puas" Tanya Pangeran lirih. Namun belum sempat Raja Jafar membalas ucapan Pangeran, Pangeran Riana sudah lebih dulu tidak sadarkan diri.