
Aku memastikan Yuki berada di kamar bersama Riana. Yuki menghampiri Riana. Riana langsung menerima pelukan Yuki. Dia lebih dibutuhkan oleh Riana saat ini ketimbang siapapun.
Yuki dan Riana saling membutuhkan, Mereka sebenarnya tidak bisa hidup satu sama lain. Namun sayangnya Keduanya juga saling menyakiti. Yuki dengan ke plin planannya. Dan Riana dengan sifat Kakunya.
Aku menutup pintu perlahan. Berjalan menuju kamar sesuai janji yang kukatakan pada Yuki. Namun, Aku melihat Lekky duduk dengan tenang di teras. Dia sedang merokok. Sejak kapan ******** itu datang. Lekky berpaling seolah mendengar panggilanku.
"Kau terlambat datang" Kataku menghampirinya. Lekky tersenyum. Dia mematikan rokok dengan menekannya di asbak.
"Aku tidak punya kewajiban untuk ikut campur dengan masalah Negara kalian"
"Jika Kau membunuh Borendo dari awal, Semua ini tidak akan terjadi" Kataku kesal. Dia seharusnya bisa melakukannya dengan mudah.
"Apa untungnya bagiku membunuh Borendo ?" Tanya Lekky datar. "Apa gunanya ratusan ribu pasukan Argueda jika tidak bisa menangani satu pria tua sepertinya ?"
"Apa sekarang Kau sudah puas"
Lekky menyandarkan kepalanya. Dia memandang ke atas. Pikirannya tampak tidak bersama tubuhnya. Masih ada bekas luka yang telah mengering di tubuhnya.
"Untuk apa Kau ke sini Lekky ?" Tanyaku lagi melihatnya hanya diam.
"Kemanapun Aku itu bukan urusanmu"
"Bisakah Kau membiarkan Yuki tetap bersama Kami"
"Percayalah Dia tidak menginginkan kehidupan seperti yang Kalian jalani"
Aku sudah menduga. Lekky ke sini untuk membawa Yuki pergi. Jika itu terjadi, Kami tidak akan bisa menemukannya lagi. Dia akan kembali menghilang.
"Yuki pernah bilang Jika Kau bukan kakaknya, Kau pasti akan jatuh cinta padanya...Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Jika Yuki bukan adikmu Kau pasti sudah membawanya pergi dan tidak membiarkan Kami menemukannya"
Lekky melirik ke arahku sekilas. Ada sorot aneh terpancar di matanya. Aku mengepalkan tanganku.
"Perasaanmu pada Yuki bukan lagi seorang Kakak kepada Adik" Lanjutku lebih tegas.
"Kau terlalu banyak bicara Vold"
Lekky berdiri. Dia meloncat turun dengan tiba-tiba keluar cendela. Sebuah hantaman keras terdengar. Aku membeku sesaat. Pintu kamar di buka. Xasfir keluar bersama Gererou. Arana berada di belakangnya.
"Ada apa ?"
"Aku juga tidak tahu" Aku melongok ke cendela. Di depanku ratusan mahkluk berwarna hitam dengan mata bersinar merah mengepung rumah. Mereka merayap di tanah seperti seekor laba-laba. Sementara itu Lekky sudah membunuh satu Mahkluk yang berusaha menyerangnya.
"Dia bersama Riana"
Aku mengikuti Xasfir dengan memutari Arana. Borendo ingin membunuh satu-satunya perwaris tahtah Argueda atau menyerang Yuki. Apakah Dia sudah tahu jika Yuki adalah Ciel ?. Kali ini Kami tidak boleh kecolongan lagi.
Kami mengawal Arana menuju ruang keluarga. Terdengar setiap dinding berderak. Seperti ada sesuatu yang merambat dengan cepat.
"Sebenarnya kekuatan apa yang di gunakan tua bangka itu" Kata Xasfir kesal.
Pintu kamar terbuka. Riana muncul memegang tangan Yuki di dekatnya. Mereka tampak waspada. Yuki memegangi perutnya, Perut Yuki sudah lebih besar. Usia kandungannya sudah lima bulan. Dia tidak akan bisa bertempur dengan leluasa tanpa mencendari dirinya. Riana menyadari hal itu sehingga Dia tidak melepaskan Yuki di sisinya. Aku melihat Riana tidak mempermasalahkan anak dalam kandungan Yuki. Tapi Yuki tidak mempercayai Riana. Dia khawatir Garduete akan membunuh anaknya.
Riana pernah melakukan kesalahan sehingga kehilangan Yuki. Aku yakin kali ini Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dia hanya harus membuat Yuki mempercayainya. Aku masih belum mengerti kenapa Riana belum menyerahkan cincin kawin milik Sera kepada Yuki. Permintaan terakhir Sera agar Yuki bersedia menikah dengan Riana. Apakah Sera sudah menduga Borendo akan mencari masalah setelah kepergiaannya ?, Sehingga Dia memutuskan jika bersama Riana Yuki akan lebih aman.
Sera sudah mempersiapkan segalanya untuk melindungi Yuki. Bahkan setelah kematiannya. Baik saat Dia harus menghadapi kerajaan Argueda maupun sekarang.
Sebuah geraman terdengar. Atap ambruk disusul Beberapa mahkluk turun dan mulai menyerang Kami. Aku mengangkat pedangku. Berusaha melumpuhkan mahkluk itu. Seperti dugaanku Dia mengincar Yuki dan Arana.
Curly muncul membantu Riana mengamankan Yuki. Aku jadi lebih bisa fokus membantu mengamankan Arana.
"Mereka tidak ada habisnya" Kataku ketika Kami baru saja melumpuhkan mahluk-mahluk yang menyerang. "Kita akan kalah jika begini caranya"
"Yuki.." Riana memegang pergelangan tangan Yuki. Yuki berteriak saat Riana mengiris ujung jari Yuki. Aku nyaris menghampiri Mereka. Tapi Xasfir melarangku. Darah segar mengalir di tangan Yuki. Riana tanpa keraguan menghisap darah itu.
Riana mengusap bibirnya. Dia menarik kain dan membebat tangan Yuki. Lekky masuk ke dalam. Menatap tidak suka pada Riana.
"Kita tidak butuh pertingkaian yang lain di sini" Kataku mengingatkan keduanya.
"Kita harus berpencar" Kata Yuki mencoba membantu meredakan situasi. "Lekky kali ini tolonglah Kami" Bujuknya dengan matanya yang bulat besar. Dengan mata dan ekpresi yang sekarang, Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan dariku dengan mudah. Dan tampaknya Lekky juga memiliki nasib yang sama denganku. "Aku mohon.." Bisik Yuki.
Lekky berpaling. Tapi Aku sangat yakin Dia akan membantu kali ini.
"Aku dan Xasfir akan membawa Arana" Kataku cepat.
"Curly kita disini dan bersenang-senang sebentar" Kata Lekky disambut geraman Curly.
"Esok pagi kita bertemu di Pinggir Kota" Kata Arana yang disetujui semua orang. "Aku harus menghadapi Borendo secepatnya sebelum Dia membunuh semua keluargaku"
"Kami akan membantumu" Jawab Riana menenangkan.
"Terimakasih"