Rising Sun

Rising Sun
15



"Putri Magitha" Kataku binggung dengan sikapnya.


"Apakah Kakak yang meminta Putri untuk membawaku pergi" Tanya Putri Magitha lagi.


"Ya...Dia mencemaskanmu"


"Aku tidak bisa Putri. Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku apalagi dalam kondisi begini"


"Tidak ada yang bisa meninggalkan keluarganya. Tapi mengertilah, Ini semua demi kebaikanmu" Kataku mencoba memberinya pengertian.


"Jika Aku tidak menikah dengannya, Kakak tidak akan punya kekuatan untuk melawan Perdana Menteri Borendo"


"Jika Kau menikah dengannya, Kau akan hidup sengsara. Apa Kau sadar inilah yang di cemaskan kakakmu"


"Aku sudah kehilangan Kakakku. Aku tidak ingin kehilangan lagi yang lain"


Aku tertegun menatap Putri Magitha. Dia melepaskan tanganku. Bibirnya bergetar menahan kesedihan. Rasanya Aku ingin memeluknya dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan.


"Aku adalah Putri Negeri ini, Sudah kewajibanku membantu Raja dan Ratu menjaga negeri ini meskipun harus mengorbankan kebahagiaanku Putri"


"Aku mengerti apa yang Kau maksud. Aku mengerti dengan apa yang Kau rasakan. Kau adalah saudara kembarnya. Seharusnya Kau sangat mengerti Pangeran Arana" Aku mencoba membujuknya kembali. Aku telah berjanji pada Pangeran Arana untuk mengamankan Putri Magitha. Aku yakin Pangeran Riana sendiri akan membantu Pangeran Arana jika terjadi kekacauan. "Jika Dia tidak yakin Dia mampu mengatasi semuanya, Tidak mungkin Pangeran Arana akan memintaku membawamu pergi"


Putri Magitha terdiam. Tampak kebimbangan jelas terasa di wajahnya.


"Pangeran Arana tidak ingin Kau berada dalam pernikahan yang tidak sehat. Dia ingin Kau pergi supaya Dia sendiri bisa fokus menghadapi Perdana Menteri Borendo" Aku mencoba terus menyerang sisi lemah Putri Magitha agar mau mengikutiku. "Pikirkan Putri, Jika Kau jadi menikah, Itu akan membuat situasi semakin sulit. Pangeran Arana tidak akan leluasa bergerak jika Perdana Menteri Borendo memanfaatkan hubungan keluarga kalian. Ini akan melemahkan Pangeran Arana dan menjadi senjata makan tuan tersendiri untuk kalian"


"Tapi..."


"Kau boleh tidak percaya padaku. tapi percayalah pada Pangeran Arana"


Putri Magitha tersentak.


Kemudian ada keputusan yang dibuat. Tampak jelas di matanya.


"Putri benar. Terimakasih sudah mengingatkanku"


"Ayo kita segera berangkat. Tidak ada waktu lagi"


Putri Magitha melepaskan semua perhiasan yang dipakainya. Aku memberinya pakaian pelayan. Dia menghapus make up. Sekarang orang nyaris tidak mengenalinya tanpa riasan wajah.


"Kalian akan pergi"


Aku berbalik dan terkejut. Ratu Warda masuk ke dalam kamar seorang diri. Aku tidak menyangka Dia akan berada di sini. Setahu Aku, Pangeran Arana tidak memberitahukan rencana ini kepada siapapun termasuk Raja dan Ratu karena khawatir Mereka akan menolak bahkan menghalangi rencana Kami.


"Ibu.." Panggil Putri Magitha lirih.


"Tapi Ibu.."


"Magitha !!"


Kami berdua terdiam. Aku merasa binggung jika harus menghadapi Ratu Warda. Dia menutup diri dariku semenjak Pangeran Sera meninggal. Membuat batas yang jelas terlihat di antara Aku dan Dia.


"Ibu...Maafkan Aku...tapi Aku mempercayai Kakak. Jika Aku tidak membantunya siapa lagi yang akan menolongnya ?" Kata Putri Magitha lirih.


Ratu diam. Menatap Putri Magitha.


"Kau dan Putri Yuki akan dianggap sebagai pengkhianat kerajaan. Apa Kau siap untuk itu"


"Ya.."


Ratu menghela nafas. Dia berjalan mendekati Putri Magitha dan memeluknya. "Jangan khawatirkan Kami. Kau tunggu Kami sampai Kami mengalahkannya"


"Terimakasih Ibu" Putri Magitha membalas pelukan Ratu erat.


"Sudah tidak ada waktu lagi. Ayo kalian segera pergi dari sini"


Ratu melepaskan pelukannya. Dia memandangku dengan pandangan memohon. "Tolong jaga Putriku dan Cucuku"


"Baik Ratu. Saya berjanji menjaga Mereka berdua dengan baik"


Aku masuk ke dalam pintu rahasia diikuti Putri Magitha yang terisak karena perpisahan ini. Ratu diam berdiri mematung, Mengawal kepergian Kami.


Aku mebgikuti jalan yang telah kuhafal sebelumnya. Kami berakhir di gorong-gorong istana. Baunya sangat tidak enak. Pangeran Arana telah meminta Gererou dan Pendeta Naru untuk mempersiapkan kepergian Kami.


Jika Kami sampai ketahuan. Perdana Menteri Borendo pasti akan langsung menghukum Kami karena telah dianggap berkhianat kepada perintah Raja.


Akhirnya Kami sampai diluar istana. Hari masih sangat larut. Kami terus berjalan, bersembunyi dari satu bangunan ke bangunan lain dengan berhati-hati. Di atas Kami kembang Api masih terus menghiasi langit malam. Sesampainya di tempat yang di tunjuk Pangeran Arana. Kami kembali berganti pakaian dengan pakaian rakyat biasa. Menaiki kereta penuh berisi keranjang sayuran kosong yang di tarik oleh Seekor sapi untuk mengelabui para Prajurit yang mengejar Kami.


Suara gemeletak roda kereta terdengar di bawah Kami. Putri Magitha duduk dengan bersandar di dua lututnya. Pikirannya menerawang. Tidak berada di sini. Dia memikirkan Ibunya, Ayahnya dan Kakaknya. Keluarganya yang akan menanggung resiko atas pelarian ini. Aku meraih tangan Putri Magitha. Menggengamnya erat.


"Semua akan baik-baik saja. Percayalah" Kataku menghibur. Sebenarnya dalam hati Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Pangeran Arana memintaku untuk segera membawa Putri Magitha karena Dia tidak yakin bisa mengatasi masalah ini. Jika sampai terjadi sesuatu pada kerajaan Pangeran Arana berharap Putri Magitha akan selamat.


"Aku harap seperti itu Putri" Kata Putri Magitha tersenyum penuh arti. Membuatku sadar, Dia mengetahui kebohonganku. Dia tau kerajaan sedang diujung tanduk. Tapi Dia tetap pergi demi Kakaknya.


Tiba-tiba terjadi goncangan yang keras. Kereta berhenti tiba-tiba. Aku berpegangan pada pinggir kereta sampai goncangan mereda. Beberapa keranjang berjatuhan.


Kami berdua saling menatap kebingungan.


Jelas ada sesuatu yang salah didepan Kami.