
"Pikirkan baik-baik Yuki. Situasimu sekarang tidaklah aman. Kau bisa kehilangan nyawamu" Kata Pangeran Riana seolah dapat membaca apa yang kupikirkan. Dia menentang keras keinginanku untuk pergi ke Argueda. Dia tahu kemungkinan Aku akan selamat sangatlah kecil.
Kerajaan Argueda menginginkan kematianku. Mereka ingin Aku di kubur hidup-hidup bersama Pangeran Sera untuk menebus segala dosaku bersamanya. Aku tidak berniat melakukan pembelaan apapun. Nyatanya memang Pangeran Sera meninggal karena Aku.
"Pangeran sendiri yang mengatakan padaku jika kehidupan kerajaan itu akan sangat berat. Aku bisa merasa seolah sendiri tanpa siapapun di tengah keramaian. Setiap saat Aku menghadapi bahaya dari berbagai arah yang bisa membunuhku sewaktu-waktu. Tidak ada ruang gerak. Kau tidak tau apakah temanmu atau musuhmu yang berada bersamamu. Taukah Pangeran...Sekarang Aku mulai memahami ucapanmu itu" Kataku lirih.
"Bagus Kau memahaminya" Pangeran menyentuh rambut Nara dan mengusapnya lembut. "Kau cukup yakin Aku bisa menjaga Nara, Tapi Kau salah Yuki. Aku tidak bisa menjaga Nara seorang diri meskipun banyak Pelayan dan pengawal yang kuberikan padanya"
Pangeran menatapku dengan ketegasan yang tidak terbantahkan. "Akan ada banyak bahaya dalam hidupnya sampai Dia cukup bisa menjaga dirinya. Dia hanya akan mempunyai kedua orang tuanya. Kau tidak boleh mengabaikan fakta ini"
"Jangan gunakan Nara untuk memanipulasiku" Kataku kesal.
"Memanipulasi ?, Sekarang lihat Nara..Lihat Dia....dan tanyakan pada hatimu, Apa Kau bisa meninggalkannya ?"
"Hentikan" Tolakku. Nara bergerak dalam dekapanku. Dia tampak terkejut dengan perkataanku yang cukup keras. Kembali terdengar tangisannya. Aku menepuk Nara mencoba menenangkannya.
"Kau tidak bisa hanya memikirkan dirimu sendiri. Sekarang Kau seorang ibu. Aku hanya memintamu menyadari hal itu"
Pangeran menepuk kepala Nara pelan, Dia kemudian berjalan pergi dan tidak berbalik lagi.
Aku memeluk Nara. Perkataan Pangeran membuatku marah. Alasannya adalah apa yang Dia katakan mengandung kebenaran. Aku tahu Pangeran benar, Nara membutuhkanku sebagai seorang Ibu. Tapi, Bagaimana Aku bisa menjalani hidup dengan rasa bersalah yang harus ku tanggung ini. Aku harus bertanggung jawab terhadap Argueda.
Aku merasakan dilema. Di satu sisi ada Nara di sisi lain ada Rasa bersalah yang bercongkol dalam di hatiku. Menjadi racun yang mempengaruhi hidupku sedemikian rupa.
"Maafkan Mama...Maafkan Mama" Bisikku pada Nara. Isak tangisnya terdengar jelas di telingaku. Aku mengendong Nara sedikit jauh agar Bisa melihatnya. Nara tertawa. Aku menyukai senyumnya. Bagiku Dia adalah Bayi tertampan di dunia. Dia menjadi penghiburku yang mampu mengalihkan kesedihanku.
Besok Aku harus mengikuti Pangeran Sera ke Argueda. Lekky masih belum sadarkan diri tapi Pendeta Suci menjamin keselamatannya di sini. Nara Akan pergi di kawal oleh Cicilia, Istri Lazzar untuk kembali ke Garduete bersama Ferlay. Aku lebih tenang jika Nara bersama Cicilia. Setidaknya Dia berada di tangan yang aman.
"Kau anak mama yang paling tampan." Senandungku ringan. Aku menimang Nara. Memeluknya hangat sembari menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya.
"Silahkan Putri Yuki duduk" Aku duduk di seberang Meja yang bersebrangan dengan seorang lelaki tua. Namun walaupun Dia sudah berumur dengan badan ringkih, Aku bisa melihat Dia masih memiliki otak yang pintar untuk berpikir. Orang itu menatapku dengan kilat licik yang berusaha disembunyikan olehnya. Curly berada di belakangku. Dia membisikkan semua hal yang di pikirkan lelaki itu padaku.
"Saya turut berdua atas kematian Pangeran Sera, Suami Putri"
"Terimakasih" Kataku berhati-hati.
Pangeran Sera sudah beberapa kali mewanti-wantiku dengan orang ini. Pangeran tidak menjelaskan banyak mengenainya namun Dia mengatakan dengan jelas bahwa orang ini sangat licik seperti ular.
"Terimakasih perdana Menteri Borendo"
Perdana Menteri Borendo adalah orang yang mempunyai pengaruh besar dikalangan prajurit kerajaan. Dia seorang Panglima perang yang tangguh sebelum beralih jalur sebagai seorang perdana Menteri. Memiliki otak yang pintar, Hanya sayangnya tidak digunakan di jalan yang benar.
Dia sangat bernafsu untuk meningkatkan kekuasaannya di Argueda. Berharap dapat masuk dalam anggota kerajaan. Dengan begitu Dia bisa mengendalikan dan menggeser Raja-raja yang tidak disukainya.
Dia adalah otak utama yang mempengaruhi Putri Alena (baca Morning Dew series "Win Direction") Untuk membunuhku. Demi kekuasaannya Dia tega memanfaatkan rasa cinta Keponakannya. Membuat keponakannya gelap mata akan kecemburuannya sehingga bertekad untuk merencanakan pembunuhan terhadapku.
Sayangnya saat Putri Alena di tangkap, Perdana menteri Borendo masih melegang bebas karena Pangeran tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menuduhnya. Dia mengorbankan kemenakannya untuk mati di peradilan kerajaan.
"Sudah lama Aku sebenarnya ingin bertemu dengan Putri. Putri secantik seperti apa yang di bicarakan orang-orang"
"Orang terlalu melebihkan apa yang di lihat dan didengarnya sehingga menimbulkan persepsi yang salah bagi yang lain. Untuk hal seperti ini, Aku yakin anda sangat paham dengan apa yang kumaksud" Sindirku mencoba mengingatkannya akan kasus Putri Nadira.
Perdana Menteri Borendo tersenyum. Aku sangat tidak nyaman berada di dekatnya. Ada sesuatu yang menurutku salah darinya.
Dia seperti gabungan antara Putri Marsha dan Rafael (Baca Morning Dew series : Water Ripple). Seorang pendendam, Licik dan sadis.
"Selain cantik anda juga pintar Tapi Saya mempunyai saran untuk anda Putri" Perdana Menteri bersandar sembari menatapku dengan tatapan melecehkan. "Jangan sampai kepintaran anda membawa mara bahaya bagi anda sendiri. Terutama ucapan yang keluar dari mulut Putri. Sebaiknya di jaga sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan"