
"Yuki kemana ?" Tanya Riana ketika Aku sedang membelah kayu di halaman belakang. Aku meletakan kapak di samping. Melirik ke langit. Hari belum begitu sore. Tadi Yuki berpamitan akan memetik sayuran di area kebun untuk di masak besok. Dia baru saja pergi belum ada satu jam. Dia pergi sendiri, Magitha tidak bersama Yuki karena baru saja Aku melihatnya sedang mengangkat jemuran di belakang rumah.
Entahlah..kehidupan disini lebih sederhana dari yang biasa Kami alami di istana namun terasa sangat nyaman. Aku merasa Yuki sendiri mengalaminya. Dia lebih tenang berada di lingkungan seperti ini. Aku sering menemukannya bangun lebih pagi. Bersenandung kecil di sepanjang rumah sembari membuka semua cendela. Dia mengatakan aroma pagi hari di sini membuat badan lebih segar. Aku menyetujui pendapatnya.
"Dia berpamitan memetik sayuran di kebun, Sebentar lagi Dia akan kembali. Bagaimana buruanmu ?" Tanyaku sembari mengumpulkan Kayu yang telah Aku belah sebelumnya. Riana tidak menjawab. Dia melemparkan bungkusan ke arahku. Baunya anyir.
"Aku akan menyusulnya"
Riana tampak tegang. Aku dapat melihat dari gelagatnya. "Ada apa ?" Tanyaku akhirnya.
"Ditemukan mayat seorang gadis tercabik di tengah hutan. Penduduk desa sebelah"
"Binatang buas ?"
"Aku berharap seperti itu" Riana mengambil busur panahnya dan meletakan di bahu. "Tapi melihat jejak kakinya, Ini suatu yang lain. Seseorang menggunakan kekuatan hitam untuk merubah dirinya menjadi monster. Aku khawatir..."
"Siapa ?"
"Borendo"
"Perdana menteri itu ?" Tanyaku tak yakin. Orang tua ringkih yang licik. Yang berjalanpun sudah susah. Namun masih saja bermimpi menjadi seorang penguasa.
"Aku dapat merasakannya ketika berdekatan dengannya. Dia menganut aliran hitam. Dia memburu Yuki dan Magitha. Jika Dia mengetahui identitas Yuki yang sebenarnya. Aku khawatir Kita harus menghadapi iblis lain lagi"
Aku terdiam mendengar penjelasan Riana. Satu iblis saja nyaris memusnahkan seperempat penduduk di dunia ini. Kami semua sedang masa pemulihan. Tidak akan siap menghadapi kedatangan iblis yang lain.
"Kenapa Lekky tidak membunuh Borendo"
"Lekky mempunyai dendam tersendiri pada Argueda. Dia menikmati apa yang sedang terjadi di negeri itu"
"Tapi Sera adalah suami Yuki"
"Sekarang Dia hanya berfokus pada Yuki. Bukan Argueda. Lekky tidak peduli apakah Argueda akan hancur atau tidak"
Riana berjalan turun. Aku memandang punggungnya terpekur. Aku tidak terkejut mengetahui Riana terobsesi dengan Yuki. Namun yang membuatku terkejut Riana mampu membunuh wanita dengan dinginnya. Marsha dan Claira. Mereka berdua mati di tangan Riana karena bermasalah dengan Yuki. Semua orang mengira Sera Madza yang paling terobsesi dengan Yuki. Tapi nyatanya Rianalah yang lebih terobsesi padanya. Dia mampu melakukan apapun di luar kebiasaannya. Riana sama sekali tak segan membunuh demi Yuki.
Aku menghela nafas. Mengangkat kayu dan menyusunya di tempatnya. Xasfir baru saja datang dari kota membawa beberapa belanjaan. Dia membantuku membersihkan buruan Riana. Hari sudah mulai gelap. Tapi Yuki dan Riana belum juga kembali. Aku berdiri di teras menantikan kedatangan Mereka. Apakah telah terjadi sesuatu ?.
"Ini sudah terlalu lama Mereka pergi. Lebih baik kita mencari Riana" Kataku akhirnya. "Xasfir ikut aku. Asry Kau jaga istrimu dan kabari jika Mereka telah kembali"
"Kalian berhati-hatilah" Kata Asry. Magitha melingkarkan tangan di lengan Asry. Aku melihat Mereka berdua sangat serasi. Akhirnya Asry menemukan pasangan yang tepat.
Aku memasukan belati ke sarung di pinggang. Mengambil busur panah. Xasfir membawa dua buah obor yang belum di nyalakan.
"Kenapa Kau mengatakan hal itu ?" Tanya Xasfir tidak mengerti.
"Aku yang paling lemah diantara Kalian"
"Kau punya banyak hal yang Kami tidak punya. Sebaiknya Kau masuk ke dalam dan berhenti mengatakan sesuatu yang aneh"
"Jaga diri kalian"
Asry menutup pintu di belakang Kami.
Kami berjalan menjauhi rumah. Meskipun hari belum begitu petang. Tapi rumah-rumah sudah tertutup pintu dan cendelanya. Nyaris tidak ada orang yang keluar. Pemandangan ini membuat perasaanku tidak nyaman. Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Aku mempercepat langkahku menuju kebun.
Di tengah jalan Kami berpapasan dengan Riana dan Yuki yang berjalan tergesa-gesa. Mereka tidak melihat kehadiran Kami. Aku bergegas mengejar Mereka. Yuki berteriak saat Aku menepuk bahunya. Refleks Riana langsung menarik Yuki dan menodongkan pedang ke leherku.
"Hey ini Kami" Kataku mengangkat tangan ke depan. Riana memandangiku sesaat. Dia kemudian menurunkan pedangnya. Tampak lega.
"Kalian mengagetkanku" Kata Yuki dengan wajah ketakutan.
"Apa yang terjadi ?" Tanyaku melihat ketegangan di wajah Riana.
"Borendo sudah menemukan Yuki. Beruntung Aku datang di saat yang tepat" Jawab Riana cepat.
"Tapi Dia hanya menakut-nakutiku. Dia mengejarku tapi tidak menangkapku"
"Jika Dia menangkapmu Kau pasti sudah mati saat Aku menemukanmu"
Yuki mengantupkan rahang mendengar ucapan Riana yang cukup keras didengar.
"Sudahlah kalian, Hentikan pertengkaran kalian, Kita harus segera pergi dari sini" Kata Xasfir melerai.
"Dimana Magitha dan Asry" Tanya Riana tiba-tiba.
"Mereka berdua di rumah"
Sontak Aku melihat ketakutan di wajah Yuki. Ada suatu pemahaman terlintas di kepalaku. Borendo menjelma menjadi monster untuk menakut-nakuti Yuki. Dia tau Yuki berada di kebun seorang diri. Jika Dia ingin membunuh Yuki, Dia pasti sudah melakukannya dari awal. Dia membuat Yuki tertahan sehingga membuat Kami menyusulnya. Dan meninggalkan Magitha di rumah sendiri.
"Sial" Kata Riana sembari berlari cepat menuju rumah. Yuki mengikuti dari belakang. Aku berlari di belakang Yuki untuk berjaga-jaga.
Jantungku berdebar kencang. Firasat buruk menghantuiku.