
"Ada apa ?" Tanya Putri Magitha saat guncangan sudah mereda. Kami bertatapan sejenak. Aku memberikan tanda agar Putri Magitha tidak bergerak.
Tidak ada suara. Setelah seperkian detik Aku menunggu. Aku memutuskan untuk mengintip.
Di depanku kusir yang membawa Kami berbicara dengan seorang Putri. Aku melihat ada satu pasukan pengawal kerajaan di sekeliling Kami.
Aku berdecak ketika mengenali Putri itu. Itu adalah Claira. Mantan kekasih Lekky, Manusia setengah Peri yang menikah dengan salah satu panglima Argueda. Dia pernah menjebak Lekky demi hadiah besar yang ditawarkan kerajaan Argueda ketika Dia masih menjadi kekasih Lekky. Membuat Lekky nyaris kehilangan nyawanya. Beruntung Lekky menyadari semua di saat yang tepat.
Lekky tidak membunuhnya karena berharap Claira akan berubah menjadi baik. Tapi tampaknya kebaikan Lekky tidak di manfaatkan dengan baik oleh Claira. Dia masih saja serakah dan gila akan harta.
"Kusir itu berkhianat. Dia menyerahkan kita pada Claira"
"Claira ?" Kata Putri Magitha keheranan. Sejurus kemudian Dia tampak geram. "Onta betina itu. Aku tidak pernah menyukainya"
"Kita harus tetap tenang. Percayalah padaku. Kita akan baik-baik saja" Kataku pada Putri Magitha. Namun sebenarnya Aku hanya mencoba menenangkan diriku sendiri.
Pintu kereta di buka. keranjang-keranjang di singkirkan. Kami ditarik keluar.
Aku menatap geram pada kusir. Dia tampak acuh. Di tangannya Dia memegang satu kantung penuh uang. Dengan cepat Dia berlalu pergi.
Aku berdiri dengan di todong senjata. Begitu juga dengan Putri Magitha. Sementara itu Claira berjalan menuju ke arah Kami dengan pongahnya. "Sayang sekali. Kita harus bertemu dengan cara seperti ini Putri" Kata Claira kepadaku. Dia menatapku penuh kebencian.
"Ya..Patut di sayangkan, Padahal Aku sangat berharap kita bertemu ketika melihatmu berjalan di tiang gantungan" Sambutku dengan sikap tegar.
Putri Claira langsung menampar wajahku keras. Terdengar teriakan Putri Magitha.
Aku menatap tanpa rasa takut pada Claira. Aku bersyukur Lekky telah lepas dari iblis wanita sepertinya. Pipiku terasa panas. Bekas tamparannya.
"Kau masih saja angkuh Putri" Bisik Claira di dekatku.
"Lepaskan Dia" Teriak Putri Magitha dengan nada memohon. Tapi Tidak ada yang mendengarkannya. Semua seperti lupa bahwa Putri Magitha adalah Putri dari Raja dan Ratu kerajaan Argueda yang sah.
"Aku tidak punya alasan untuk merasa takut padamu"
Plak
lagi tamparan mendarat di pipiku yang lain. "Raja dan Ratu sangat bodoh dengan tidak mendengarkan Perdana Menteri Borendo untuk menghabisimu"
"Terimakasih" Balasku lagi.
Kami bertatapan sejenak. Kemudian Claira berbalik memunggungiku Terlihat jelas Dia menahan emosinya
"Pengawal" Teriak Claira.
Seorang Pengawal maju. Menyerahkan cambuk rotan pada Claira. Claira menerimanya dengan penuh semangat. Dia kembali menatapku. Kedua tanganku di pegangi kuat oleh dua orang Pengawal bertubuh kekar.
Aku melihat sirat sadis di mata Claira. Tidak ada yang akan menolongku kali ini. Pangeran Riana tidak mengetahui pelarian ini. Hanya Aku dan dan Pangeran Arana.
"Hamil ?, Bukankah itu makin menguatkan alasan supaya Dia mati. Perdana Menteri Borendo sedang tidak menginginkan adanya penambahan keturunan manapun dari keluarga Raja Jafar dan Ratu Warda" Kata Claira penuh semangat.
"Aku bersumpah, Kerajaan tidak akan mengampunimu" Kata Putri Magitha geram.
"Lebih baik Kau tutup mulutmu Putri. Aku akan mengurusmu nanti setelahnya" Kata Claira keras. Claira berjalan ke belakangku. Lalu...
Aku tersentak saat rasa sakit menghantamku. Sebuah cabukan keras bersarang di punggungku. Aku menutup bibirku rapat. Berusaha tidak berteriak.
"Hentikann !!" Jerit Putri Magitha histeris.
"Putri Magitha" Panggilku tegas. Putri Magitha diam. Kami bertatapan. "Jangan takut, Kita akan baik-baik saja"
"Kesombonganmu sangat kuat Putri Yuki. Bahkan untuk sekarang. Memang siapa yang akan menolongmu. Pangeran Sera sudah tidak ada. Lekky yang Kau banggakan masih terkapar jauh dari sini. Lalu Pangeran Riana...Kau mengelabuinya untuk lepas dari penjagaannya. sungguh bodoh sekali Kau ini"
Claira mendekatiku. Dia berbisik di telingaku.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah Putri Yuki. Kau akan memohon padaku untuk segera membunuhmu. Aku jamin itu"
"Aku tidak akan memohon pada orang sepertimu" Jawabku tegas.
"Kita lihat saja"
Sebuah lecutan kembali di arahkan ke punggungku.
Satu lecutan lagi
Terdengar teriakan Putri Magitha yang memohon untuk berhenti. Aku merasakan sakit yang hebat. Terasa kulitku robek akibat lecutan yang berulang kali.
"Hentikan kalian" Terdengar teriakan keras. Gererou datang dengan pasukan kecil. Rencananya Dia akan mengawal Kami bersembunyi dan melarikan diri ke kediaman Lekky. Mungkin Dia menyusul Kami karena Kami terlalu lama tidak datang.
"Satu pencundang lagi datang" Kata Claira mencibir. Aku terjatuh berlutut. Kedua tanganku masih di pegangi. Rasanya kesadaranku semakin menipis. Aku berusaha bertahan. Putri Magitha masih membutuhkanku. Aku harus menyelamatkannya.
"Beraninya Kalian terhadap Putri kerajaan" Kata Gererou marah.
Namun belum sempat Gererou mendekat. Satu pasukan lagi datang. Menghalangi langkah Gererou dan pasukannya. Panglima Aljan, Suami Claira muncul. Dia sama pongahnya dengan Claira. Seseorang yang haus akan kekuasaan dan uang.
"Kau seharusnya tau harus berada di pihak mana. Sayang sekali, Untuk apa Kau setia dengan Pangeranmu yang sudah mati itu" Kata Panglima Aljan mencela Gererou. Gererou mengeram marah.
"Setidaknya Aku tidak seperti Kau. Dasar ********"
"Bunuh siapapun yang mencoba menghalangi istriku" Perintah Panglima Aljan langsung.
Para Prajurit mengangkat pedang. Aku melihat jumlah Mereka yang tidak seimbang. Tapi tekad dan kesetiaan di mata Gererou begitu besar. Dia siap mati untuk Kami.