Rising Sun

Rising Sun
21 Voldermon



Terdengar jeritan yang cukup nyaring. Aku mengenali suara milik Magitha. Beberapa Pria keluar dengan membawa senjata tajam dan obor. Kami terus berlari. Rasa takut menyergapku.


"Pangeran Riana...Putri Yuki" Kami berbalik dan mendapati Pangeran Arana bersama pasukan kepercayaannya datang. Tampaknya Mereka baru saja tiba. Tampak para penduduk terkejut mendengarnya. Mereka saling berpandangan dengan wajah kebingungan.


"Pangeran Arana"


"Ibu memintaku menyusul kalian. Sepertinya Perdana Menteri Borendo sudah mencium persembunyian kalian dan merencanakan sesuatu yang buruk"


Riana tidak menjawab. Dia makin mempercepat langkahnya.


Saat Kami tiba. Pagar halaman masih tertutup rapat. Riana bersama Xasfir berusaha mendobrak pintunya. Pangeran Arana yang tidak mengerti situasi memandang dengan keheranan. Aku mendekati Yuki untuk melindunginya jika terjadi serangan yang tidak diduga. Pintu akhirnya terbuka.


Aku melihat Magitha terbaring di tanah. Tubuhnya koyak. Bahkan dadanya terbuka lebar menampakan organ dalamnya. Darah segar mengalir. Sementara itu Asry merangkak susah payah didekatnya menghampirinya. Tubuhnya penuh darah segar. Yuki berteriak histeris.


Aku segera menghampiri Magitha. Memeriksa denyut nadinya. Dia sudah tidak bernyawa. Terdengar Arana memanggil Magitha. Beberapa penjaga menahannya yang hendak mendekat.


"Asry..Kau baik-baik saja" Tanya Riana menarik Asry ke pangkuannya. Nafas Asry terengah. Dia memandang Kami dengan tatapan bersalah.


"Aku tidak dapat menyelamatkannya" Bisiknya lirih


"Diamlah. Kami akan menyelamatkanmu"


"Tidak..Riana...Dengarkan Aku.." Asry memegang Riana dengan pandangan memohon. Satu Tangannya mencekal tangan Magitha. "Dengarkan permohonanku..."


"Diamlah Asry"


"Aku sudah berjanji untuk bersamanya. Aku menjanjikan itu padanya. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri seperti ini Riana" Asry melirik ke arah Magitha. Wajahnya tampak sedih dan terluka. "Dia begini karena Aku tidak mampu melindunginya. Sampai Akhir Dia masih mempercayaiku. Istriku yang cantik"


Asry memegang lengan Riana kuat. Menatap Riana penuh tekad. Yuki berjalan gotai mendekat. Air mata mengalir di pipinya. "Demi pertemanan Kita. Aku memohon padamu Riana. Biarkan Aku bersamanya"


"Asry" Teriak Riana keras.


"Lakukanlah demi pertemanan Kita Riana. Demi Aku"


Aku mengepalkan tanganku kuat. Riana menatap Asry. Dia mencoba membaca pikiran Asry. Kemudian...Riana menarik belati di pinggangnya dan langsung tanpa peringatan menusukan belati itu tepat di jantung Asry. Dia menusuknya sekuat tenaga. Tanpa keraguan.


Asry tersentak kebelakang. Darah keluar dari mulutnya. Namun Dia tetap tidak melepaskan tangan Magitha. Asry menatap Magitha penuh ketenangan. Seolah berkata kepada Magitha bahwa Dia akan menyusulnya sesegera mungkin.


Riana membantu Asry mendekati Magitha. Wajah pasangan itu sangat dekat. Asry membelai pipi Magitha, Tangannya bergetar sesaat sebelum akhirnya terkulai. Jatuh tak bertenaga.


Aku mundur.


Riana menunduk kuyu di dekat Mereka berdua. Perlahan hujan turun dengan derasnya. Membasahi Kami dengan cepatnya. Terdengar teriakan kemarahan Riana yang mengema ke seluruh hutan.


Aku masuk ke dalam rumah. Perasaanku terasa kosong. Di bawah para penduduk membantu untuk mengurus tubuh Asry dan Magitha. Aku tidak memiliki kekuatan untuk membantu. Yuki duduk ditengah tangga. Merenung. Wajahnya tampak kuyu. Air mata mengalir di pipinya.


"Seharusnya Aku mengajaknya ikut bersama" Kata Yuki ketika Aku menyusul duduk di dekatnya. Aku merangkulkan tanganku di bahunya. Mencoba menenangkannya.


"Ini sudah takdir. Jangan menyalahkan dirimu lagi"


"Aku tidak bisa menjaganya dengan baik" Yuki menggelengkan kepala. Menolak perkataanku. Dia selalu menyalahkan dirinya karena kematian orang lain. Kadang hal ini sangat menjengkelkan.


"Tidak ada yang menduga hal ini akan terjadi Yuki. Semua mengira Magitha dan Asry akan aman di sini. Tidak ada yang tahu kalau Borendo telah menemukan Kita dan merencanakan hal ini"


Yuki terdiam sesaat.


"Dimana Pangeran Arana" Tanyanya lirih.


"Dia berada di kamar. Xasfir sedang berusaha menenangkannya"


Arana sangat terpukul akan kematian Magitha. Ini sangat wajar mengingat Mereka adalah saudara kembar. Dia kehilangan dua saudaranya dalam jarak waktu yang begitu dekat.


"Aku akan ke sana" Yuki beringsut hendak berdiri. Aku segera menahannya. Dia menatapku kebingungan.


"Aku akan membantu Xasfir menghiburnya. Kau pergilah ke Riana"


"Ada apa ?" Tanyanya tidak mengerti.


"Dia mengurung diri di kamar. Dia membutuhkanmu saat ini Yuki"


Yuki terdiam sejenak.


"Baiklah. Tapi Jika Kau butuh bantuan panggil saja Aku" Yuki berdiri dari duduknya. Kali ini Aku tidak mencegahnya. Dia Mengusap air mata di pipi. Berusaha bersikap tegar. Wajahnya sembab karena menangis.


"Aku akan mengantarkanmu sampai kamar" Kataku akhirnya. Aku tidak berani meninggalkan Yuki seorang diri. Aku khawatir Borendo akan kembali menyerang. Malam hari saat yang bagus untuknya menjelma menjadi monster.


Kami berjalan menuju lorong. beberapa prajurit Argueda baru menaiki tangga. Wajah mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Yuki berjalan pelan. Menepi membiarkan para Prajurit lewat. Aku mengikutinya dari belakang dalam diam.


Pikiranku terus berkelana. Rasanya semua ini memberiku pukulan yang cukup keras.


Aku berpikir. Jika tadi Yuki bersama Magitha. Kami akan mendapatkan keduanya sudah menjadi mayat. Borendo tidak mengetahui bahwa Yuki adalah seorang Ciel. Pendeta suci menutupi kekuatan Yuki. Borendo berpikir Magitha lebih berharga dibunuh. Karena akan menggoncangkan Raja dan Ratu juga Arana. Dengan begitu rencana Dia untuk memuluskan jalannya mengulingkan Raja Jafar akan semakin besar. Dia belum mengetahui bahwa Yuki tengah mengandung anak Sera dan identitas Yuki sebagai ciel. Namun jika melihat bagaimana Borendo, Cepat atau lambat Dia akan menyelidiki mengapa Yuki dipilih oleh pendeta suci untuk mengalahkan Iblis keluarga Dalto. Dia pasti akan menghubungkan kekuatan keluarga Dalto dengan Yuki.