
Aku duduk di pinggir tempat tidur. Menunggu Pangeran Riana sadarkan diri. Luka-luka di punggungnya sudah di obati. Di tidur tengkurap. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana guliran luka di tubuhnya. Bekas terkoyak dan lebam berwarna merah saling tumpang tindih membentuk pola acak di sana.
Hari sudah semakin larut. Aku memperhatikannya sambil berpikir. Berpikir mengenai anak ini. Apa yang sekarang Aku lakukan. Setelah sekian lama Aku mengerti bahwa hidup di kerajaan itu sangat berbahaya. Aku tidak bisa membawanya ke Garduete.
Jika Kerajaan mengetahuinya, Aku khawatir anak ini akan di bunuh olehnya seperti yang lalu. Namun, Jika Aku tinggal di Argueda. Situasinya tidak lebih baik sama sekali. Raja dan Ratu sudah mulai memahami alasan Pangeran Sera. Mereka sudah tidak menuntutku untuk menemani Pangeran Sera sampai ke dalam liang kubur.
Namun Perdana Menteri Borendo lah yang jadi masalah. Dia sekarang sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengulingkan kerajaan. Jika Dia sampai mengetahui kehamilanku, Aku khawatir Dia akan merencanakan hal buruk pada anakku. Mau bagaimanapun anak ini adalah anak dari Pangeran Sera. Pangeran Sera telah meletakan tahtahnya sebagai perwaris tahtah kerajaan tapi, Kerajaan belum menerima dan memutuskan permintaannya secara sah. Sehingga otomatis anak ini adalah anak calon penerus tahtah selanjutnya.
Aku tidak tahu kenapa Dewa memberiku takdir seperti ini.
Aku teringat akan para putri duyung. Bagaimana dengan yakinnya Jasmine, Salah satu Putri duyung itu mengatakan bahwa Aku akan bertemu dengannya lagi dalam waktu dekat. Apakah untuk ini ?. Untuk menanyakan masa depanku dan anak-anakku.
Lekky sudah sadarkan diri. Dia sedang dalam masa pemulihan. Aku berharap Aku segera bertemu dengannya.
Pangeran Riana bergerak sedikit. Dia terbatuk. Aku menunduk untuk menyentuh dahinya. Dia agak panas. Luka-luka itulah penyebabnya. Perlahan Pangeran membuka matanya.
"Apa Kau baik-baik saja" Tanyaku ketika Dia sudah cukup sadar untuk diajak berbicara. "Kau ingin minum ?"
Pangeran beringsut bangun. Dia mengerang ketika punggungnya tertarik. Dengan susah payah Dia mengubah posisinya tidur menyamping. Aku membantu membenahi selimut dan membiarkan punggungnya tetap terbuka.
"Bagaimana perasaanmu ?"
"Cukup baik" Jawab Pangeran Riana sembari menahan sakit. Satu tanganku di genggam olehnya.
"Untuk apa Kau melakukan ini semua ?"
"Apa Kau sanggup melakukannya seorang diri ?" Tanya Pangeran membuatku terdiam. Aku menggelengkan kepala akhirnya. Membayangkan bagaimana rotan itu merobak kulit pangeran pada akhirnya membuatku ngeri. Aku pasti sudah mati di cambukan ke tiga puluh.
"Tidak..Tapi Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini"
"Kau adalah wanitaku"
"Aku bukan wanitamu" Bantahku langsung. "Hubungan kita sudah lama berakhir Pangeran. Aku harap Pangeran mengerti" Aku harus segera pergi meninggalkannya sebelum Dia mengetahui bahwa Aku telah hamil anak Pangeran Sera. Aku tidak ingin Dia membunuh anak ini seperti dulu.
"Lalu untuk apa Kau berada di sini Yuki"
"Hutang budi" Jawabku lirih.
"Itu sudah cukup untukku. Aku akan terus melindungimu sampai Kau tidak mampu membayar hutang budimu dan terus berada di sisiku"
"Kau memerluhkan orang kejam sepertiku untuk bertahan hidup Yuki. Akuilah itu"
Aku memalingkan wajah. Berharap Dia tidak melihat kecemasan di dalam diriku.
"Terimakasih sudah banyak membantuku" Kataku kepada Pangeran Arana ketika Kami berjalan berdua menyusuri lorong. Aku mengenakan pakaian serba putih. Begitu juga dengan Pangeran Arana. Pemakaman Pangeran Sera baru saja selesai. Wajahku masih sembab karena menangis saat melihatnya di masukkan dalam liang lahat. Namun Aku harus tegar. Aku memegang amanat penting darinya.
Anaknya.
"Aku sudah mendengar semua kisah Putri dan Kakak. Alasan kalian menikah ?. Apa yang dilakukan kakak pada kandungan Putri dan juga Bagaimana Putri sampai bisa mengandung anak dari Pangeran Riana. Maafkan Aku selama telah salah paham dengan Putri"
Aku menggelengkan kepala. "Semua yang sudah berlalu ada baiknya tidak perlu di bahas lagi"
"Jadi apa rencana Putri ?"
Aku memegangi perutku. Berpikir. "Aku harus menyelamatkan anak ini"
"Benar" Kata Pangeran Arana tenang. "Putri mengerti kondisi di istana sedang tidak stabil. Akan berbahaya jika Putri berada di sini dengan kehamilan Putri"
"Bagaimana dengan kalian ?"
"Aku harus mempertahankan keluargaku. Membantu Raja dan Ratu menghadapi Perdana Menteri Borendo"
Pangeran Arana mengatupkan rahangnya. Jelas Dia sedang memikirkan sesuatu. Matanya tertuju di bawah. Memperhatikan langkah kaki Kami dalam diam. Aku menunggu. Dia seperti berusaha meyakinkan diri untuk mengatakannya.
"Ada apa ?" Tanyaku akhirnya setelah Kami terdiam cukup lama. "Apakah ada sesuatu yang salah ?"
"Jika dalam pertempuran ini Kami salah melangkah sedikit saja. Kami bisa kehilangan segalanya termasuk nyawa Kami. Putri bantulah Kami untuk menjaga anak yang ada dalam perut Putri dan Magitha"
"Putri Magitha ?" Aku tau Dia akan menikah dengan anak Perdana Menteri Borendo. Pernikahan demi negara.
"Ya..Aku tidak ingin Dia menjalani pernikahan hanya untuk menyelamatkan negeri ini. Andaikan Kami kalah dalam pertempuran. Pernikahan inipun tidak menjaminnya hidup bahagia. Aku ingin Dia pergi dari sini sampai Aku bisa mengatasi segalanya. Dia tidak perlu berkorban apapun. Apakah Putri dapat mengabulkannya ?" Tanya Pangeran Arana sembari menatapku dengan pandangan penuh harap. Aku menghela nafas.
Aku mengerti bagaimana rasanya menikah karena terpaksa. Namun Aku berakhir bahagia karena suamiku adalah Pangeran Sera.
Berbeda dengan apa yang akan dialami Putri Margitha. Dia akan menikah dengan anak Perdana Menteri Borendo. Sementara Perdana Menteri Borendo saja bisa mengorbankan keponakannya untuk kepentingannya. Apalagi Putri Margitha.