
Aku menaiki kuda bersama Pangeran Riana menyusuri hutan yang gelap. Langit tertutup mendung. Tidak ada bulan ataupun bintang sama sekali. Gelap gulita. Kami hanya berdua. Kuda yang Kami naiki terus melaju, memecah kesunyian malam. Bangsawan Voldermon bersama Bangsawan Xasfir ikut mengawal Pangeran Arana. Sementara Lekky mengalihkan perhatian pasukan hitam milik Perdana Menteri Borendo di desa. Kami sengaja berpencar untuk memecah fokus Perdana Menteri.
Tadinya Aku ingin ikut rombongan Pangeran Arana tapi Dia menolak.
Pangeran Arana bilang lebih baik Aku bersama Pangeran Riana. Dari Pangeran Arana Aku akhirnya mengetahui, Ternyata sampai saat ini Perdana Menteri Borendo masih mengira anak yang kukandung ini adalah anak Pangeran Riana.
Mungkin karena hal ini Aku selamat darinya. Dia tidak mungkin berniat untuk mencari masalah dengan Garduete sebelum Dia menguasai Argueda. Akan terlalu beresiko baginya jika pada akhirnya Pangeran Arana mendapat bantuan penuh dari Garduete.
Aku tidak menyalahkannya jika Dia salah paham mengingat bagaimana Pangeran Riana yang beberapa kali terus menamengkan diri untuk melindungiku. Sikapnya seperti seorang suami yang berusaha melindungi istri dan anaknya.
Apa yang sebenarnya di pikirkan Pangeran Riana. Dia jelas tahu Aku sama sekali tidak berniat untuk kembali padanya. Tapi Dia bersikap tidak peduli. Dia terus mengikutiku dan mengatakan dengan lantang bahwa Aku ini adalah istrinya.
Aku ingat tadi sore. Ketika Aku kebingungan akan sosok lain dari Perdana Menteri Borendo yang terus mengikutiku. Dia meloncat ke sana kemari. Berusaha menggiringku. Tapi tak jelas kemana. Aku hanya berputar-putar di tempat itu. Sampai akhirnya Pangeran Riana datang.
Perdana Menteri Borendo langsung mundur dan menghilang. Saat itu Aku langsung memikirkan Magitha.
Kami sudah berlari. Tapi dengan kondisi badanku Aku tidak bisa berlari begitu kencang. Aku juga tidak membawa Gulf begitupun dengan Pangeran Riana. Ketika Kami akhirnya sampai di rumah.
Aku telah kehilangan Magitha.
Aku merasakan kembali perasaan bersalah yang mengangguku. Aku telah gagal menjaganya.
Saat Aku sedang melamun. Pangeran Riana tiba-tiba menghentikan kudanya.
"Apa yang Kau lakukan" Kataku terkejut saat Pangeran tiba-tiba menutup wajahku dengan kain panjang berwarna coklat yang dibawanya. Aku segera menarik kain itu lepas dari wajahku.
"Berusaha menutup wajahmu" Jawab Pangeran tenang menanggapi reaksiku.
"Aku tidak mau menutup wajahku" tolakku sembari menghentakan kain itu. Tapi Pangeran kembali menariknya.
"Sebentar lagi Kita akan tiba di desa pengelana. Akan ada banyak perompak di sana. Jika Mereka melihat wajahmu, Mereka pasti akan menginginkanmu, tidak peduli Kau sedang hamil atau tidak. Apa Kau ingin menjadi istri dari seluruh penduduk di sana ?"
Aku mencembik mendengar perkataan Pangeran. Pangeran melilitkan kain kembali di leherku. Aku berteriak memprotes saat kain itu nyaris mencekikku. Pangeran meletakkan kain sembari menghela nafas. Mungkin Dia sedang menahan emosi menghadapiku. Aku meraih Kain itu untuk menatanya agar menutupi wajah dan rambutku.
"Dan mulai sekarang panggil Aku P_sha"
"Tidak mau" Tolakku cepat. P_Sha adalah nama yang sering digunakan seorang istri untuk memanggil suami yang dihormatinya. Apa Aku harus memanggilnya dengan sebutan itu. Apa yang sebenarnya di pikirkannya. "Kita bukan suami istri. Dan lagi nama itu terlalu dekat untuk Kita. Aku tidak mau orang salah paham mengenai hubungan kita. Lebih baik Aku memanggilmu Nae". Nae adalah panggilan bagi sahabat Pria.
"Jangan menguji kesabaranku Yuki. Kau tahu benar Aku tidak ingin menjadi Nae mu. Sekarang turuti apa yang kukatakan agar Kau dan anakmu selamat. Apa Kau mengerti"
"Baiklah..Lepaskan Aku" Pintaku berusaha melepaskan cengkramannya.
"Katakan.."
"P_Sha lepaskan Aku"
Pangeran melepaskan cengkramannya. Aku memegang pipiku.
"Kau surah selesai ?" Tanya Pangeran lagi. Aku menutupi rambut dan wajahku dengan selendang. Pangeran langsung memacu kudanya saat Aku tidak siap. Membuatku nyaris tersentak ke belakang.
Kami memasuki sebuah gerbang desa. Walaupun hari sudah sangat larut. Tapi Desa ini begitu ramai. Bar-Bar desa berjajar Rapi di jalan utama. Terdengar dentang suara gelas dan bunyi dadu yang bergeletak di atas meja. Diiringi tawa dan suara musik yang saling bersahutan satu sama lain.
"Kita akan kemana ?" Tanyaku kepada Pangeran ketika Kami menyusuri jalan utama. Pangeran tampak tenang. Dia bersikap seolah Dia adalah bagian dari penduduk desa.
"Kita akan ke penginapan"
"Apa..Tapi Kita sudah janji berkumpul di titik pertemuan"
"Perdana Menteri Borendo bukan orang yang bodoh Yuki. Jika Kita sekarang berkumpul Dia akan lebih mudah melancarkan aksinya"
"Tapi.."
"sekarang juga tutup mulutmu. Jangan sampai ucapan dan tindakanmu membunuhmu kita"
Pangeran membawaku ke sebuah penginapan kecil. Penginapan biasa yang khas untuk para pengelana. Pangeran menambatkan kudanya.
"Bersikaplah sebagai istri yang baik" Katanya sembari memegang lenganku. Aku menepisnya. Berjalan mendahuluinya. Namun Pangeran malah merangkul pundakku dari belakang dengan kuat. Kami menaiki tangga penginapan. Ruangan ini temaram. Seperti ruangan yang juga biasa digunakan para pasangan yang hanya singgah untuk bersenang-senang. Aku tidak membayangkan diriku akan memasuki ruangan seperti ini bersama Pangeran Riana. Bukan artinya Aku tidak biasa di lingkungan seperti ini. Saat menemani Lekky berkelana, Kami bisa tidur di mana saja yang Kami temui. Tapi Dia adalah kakakku. Berbeda dengan Pangeran Riana.
"Satu kamar untuk Kami" Kata Pangeran Riana kepada seorang penjaga yang duduk di balik meja dengan wajah setengah mengantuk. Pangeran meletakkan uang di meja. Penjaga itu memberikan kunci.
"Kamar di lantai dua paling ujung"