Rising Sun

Rising Sun
10 Yuki



Aku merasakan nyeri di dahiku. Disusul ada warna kemerahan mengalir membasahi pelupuk mata. Aku mengerjap.


Tercium aroma darah yang sangat kuat.


Belum sempat Aku mencerna apa yang terjadi. Kembali batu seukuran kepalan tangan orang dewasa di lemparkan ke arahku. Menghantam bahuku dengan cukup keras. Aku melihat tatapan penuh kemarahan dari Penduduk yang hadir di sekitarku. Kebencian tampak jelas di Mata Mereka.


"Wanita pembawa sial..Mati saja Kau"


"Kau pembunuh...Kau pembunuh"


"Rajam Mati saja Wanita sialan itu. Gara-gara Dia pangeran Kami harus mati"


Terdengar teriakan dan caci maki yang saling sahut menyahut. Di tujukan padaku.


Kembali batu besar di lemparkan ke arahku. Gererou langsung menyuruh prajurit penjaga untuk menghalau Para penduduk. Sementara Perdana Menteri Borendo memandang dengan nyaman di atas Kereta Kudanya.


Selain Batu, Mereka juga melempariku dengan air berbau busuk dan sampah. Kericuhan terjadi. Para penduduk berusaha meraihku. Tangan Mereka jelas sangat gatal ingin sekali membunuhku. Aku hanya Diam. Berdiri di tempatku.


"Minggir Kalian semua...Minggir" Teriak Gererou berusaha melerai.


Karena desakan dari Para penduduk, Aku terdorong hingga pinggir barisan. Seseorang berhasil menarik rambutku dengan kasar. Hingga Aku terjerab di tanah. Sebuah tinju melayang keras di kepalaku. Dengan tangan terikat ke depan Aku tidak bisa banyak melindungi diri sendiri.


Para penduduk semakin merangsek maju untuk mencari kesempatan memukuliku.


Saat semua pukulan terasa di sekujur tubuhku. Sebuah teriakan yang cukup familiar terdengar. Seseorang menarikku. Menahanku di dadanya. Ketika Mendongak, Aku melihat Pangeran Riana. Aku tidak percaya. Dia mengikutiku sampai kemari. Tidakah Dia memikirkan bahayanya.


Dengan di bantu beberapa Prajurit dan teman-teman Bangsawannya, Pangeran Membantu Gererou mengamankan para penduduk. Namun lemparan batu dan benda-benda lain masih tidak berhenti. Terus mengiringi langkah Kami.


Pangeran mendekap kepalaku di dadanya. Melindungiku dari serangan yang di arahkan kepadaku. Menjadikan dirinya tameng yang melindungiku dari benda-benda yang di lemparkan ke arahku. Saat situasi semakin genting terdengar teriakan yang cukup nyaring. Derap langkah Kuda menimbulkan kegaduhan sendiri.


Para Prajurit Argueda yang baru saja datang dari arah berlawanan merangsek maju. Membentengi para penduduk. Beberapa bahkan menahan penduduk yang masih nekat mencoba menyerangku.


"Siapa yang Memerintahkan Kalian bertindak seperti ini" Teriak Perdana Menteri Borendo Marah sembari turun dari kudanya.


"Aku..Aku yang memerintahkan Mereka"


"Pangeran..Ratu memerintahkanku untuk membawa Putri Yuki dan Pangeran Sera kembali. Harap anda mengerti" Kata Perdana Menteri Borendo dengan suara manis namun mengandung ancaman.


"Benar, Ratu memerintahkanmu membawanya. Tapi tidak dengan cara yang tidak


hormat seperti ini" Sahut Putri Margitha kesal


"Tugas Saya adalah memberikan yang terbaik untuk keluarga kerajaan"


"Perdana Menteri, Anda sudah sangat berpengalaman dalam urusan kerajaan jauh melebihi Kami. Tentu seharusnya Anda juga paham bahwa Walaupun Kakak sudah meninggal, Tapi Putri Yuki masih istri sahnya. Dia adalah keluarga kerajaan seperti Kami. Statusnya lebih tinggi daripada anda" Ujar Pangeran Arana lantang. "Saya harap Anda tidak lagi lancang dan melewati batasan Anda"


Perdana Menteri Borendo mengedipkan mata. Wajahnya tanpa ekpresi. Hal ini justru lebih menyeramkan. Tidak ada yang tahu apa yang di pikirkannya.


"Tunggu apa lagi, Lepaskan Putri Yuki sekarang." Perintah Pangeran Arana lantang.


Tali yang mengikatku di lepas. Aku merasa lemas. Pangeran Riana langsung membopongku di dadanya.


"Pangeran, Silahkan ikut Aku ke istanaku" Kata Pangeran Arana dengan nada sopan. Pangeran Riana menganggukan kepala. Kami pergi meninggalkan Rombongan Perdana Menteri Borendo.


Aku selesai mandi dan berganti pakaian. Pakaian yang kukenakan pakaian kain biasa tapi bahannya lebih baik daripada pakaian yang diberikan padaku sebelumnya. Putri Margitha datang dengan meminta maaf sembari memberiku pakaian itu. Ratu masih bersedih akan kematian Pangeran Sera. Hal yang wajar mengingat juga Pangeran Sera adalah anak kesayangannya. Dia masih marah dan menyalahkanku akan kematian Pangeran Sera sehingga memerintahkan untuk mencabut status keputrianku. Aku tidak diperkenankan memakai pakaian Kerajaan sebagai seorang Putri ataupun mendapat pelayanan layaknya keluarga kerajaan. Ratu memerintahkanku untuk memakai pakaian kain biasa untuk mempersiapkan diri mendampingi Pangeran Sera di alam baka nanti.


Aku merasa Putri Margitha dan Pangeran Arana sedikit bergesekan dengan Ratu karena Aku. Membuatku merasa tidak enak.


Terdengar suara ketukan pintu kamar ketika Aku baru saja duduk di depan cermin, Bersiap untuk mengobati luka-luka di tubuhku. Aku berdiri, Meletakan kotak obat di pangkuanku. Berjalan membuka pintu dan terkejut mendapati Pangeran Riana sudah berdiri di sana dengan tenang.


"Ada apa ?" Tanyaku ketika melihatnya. Aku tidak menyangka Dia akan berani datang kemari. Terlihat luka di tubuhnya akibat melindungiku yang sudah di obati. Pangeran tidak mengatakan apapun. Dia mendorongku untuk masuk ke dalam kamar. "Mau apa Kau kemari ?" Tanyaku cemas.


Sangat tidak baik jika ada yang melihat Kami berada berdua di dalam kamar. Mengingat posisiku yang sedang tidak bagus di mata kerajaan Argueda. Aku tidak ingin terjadi masalah apapun. Tapi sepertinya Pangeran Riana tidak mengerti kecemasanku.


Pangeran terus mendorongku hingga Aku duduk di pinggir tempat tidur. Aku berusaha memberontak ketika Dia menarik kursi di depanku. Dengan cekatan Dia menahan kakiku, duduk di depanku. Mengapitnya kedua kakiku di pahanya. Aku berusaha melepaskan diri namun gagal.


"Apa yang Kau lakukan" Kataku kesal. "Lepaskan Aku dan pergilah ke kamarmu"


Pangeran masih tidak menjawab. Dia membunhkuk ke arahku. Aku mundur. Memejamkan mataku ketika Dia mendekatiku.