Rising Sun

Rising Sun
14



"Aku berjanji akan menjaga Putri Magitha dengan baik" Kataku akhirnya. Pangeran Arana tersenyum lega.


Aku melihat beban besar di pundaknya. Beban yang sama yang pernah dibawa Pangeran Sera.


"Maafkan Aku dan Pangeran Sera. Karena Kami Kau harus mengalami hal seperti ini" Kataku menyesal.


"Tidak masalah" Ujar Pangeran Arana tenang. Dia terlihat letih. Tidak seperti ketika pertama kali Aku bertemu dengannya dulu.


Kami melanjutkan perjalanan. Aku memegangi perutku. Berpikir. Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku tidak mungkin kembali ke Garduete. Tapi Aku merindukan Nara. Aku merasakan pergolakan batin yang hebat. Bagaimana caraku membawa Nara bersamaku. Aku tidak rela jika harus berjauhan dengannya. Dia anakku. Sembilan bulan lamanya Dia berada di dalam diriku. Aku tidak mungkin bisa jauh darinya.


"Kapan Putri akan pergi, Apakah Putri akan pergi ke Garduete"


Aku menggeleng pelan. Masih terlihat binggung. "Entahlah...Di sana ada Nara anakku. Tapi jika Aku di sana....Aku khawatir.." Aku tidak melanjutkan ucapanku. Aku menunduk memegangi perutku. Saat ini Aku berada di antara dua pilihan. Bersama Nara atau melindungi anak ini. Keduanya sangat penting bagiku. Aku merasa binggung.


"Ada suatu tempat yang ingin ku kunjungi terlebih dahulu. Mungkin dengan berada di sana Aku bisa menemukan jawabannya" Aku berjalan pelan. Melihat ke depan dengan pandangan yakin.


"Tempat apa itu ?" Tanya Pangeran Arana dengan kening berkerut.


"Ramalan Putri Duyung"


"Di sana sangat berbahaya. Lekky masih belum pulih. Bagaimana Putri akan ke sana" Tanya Pangeran terkejut saat mendengar jawabanku.


"Aku akan baik-baik saja" Kataku meyakinkan. Namun Aku mengakui Aku seperti masuk ke dalam mulut buaya jika berada di sana seorang diri. Bagaimana jika para Putri duyung tergoda memakanku. Tidak ada yang bisa menyelamatkanku.


Situasi kerajaan Argueda semakin genting. Bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya melambung tinggi. Rakyat mulai mengajukan protes bahkan beberapa orang yang mungkin telah ditunggangi kepentingan tertentu mulai mengerahkan massa untuk mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Pangeran Arana dan kerajaan. Perlahan nama Perdana Menteri Borendo di elu-elukan.


Aku curiga Perdana Menteri Borendo sengaja menyuruh antek-anteknya untuk menimbun bahan makanan dan merusak pertanian warga agar harga melonjak naik.


Dia melakukan banyak permainan berbahaya untuk mendapatkan tahtahnya. Aku harap Pangeran Arana tidak terpancing.


"Putri Yuki...Aku sudah tidak bisa membendung situasi. Aku mohon bawa Magitha pergi" Kata Pangeran Arana saat berkunjung ke kamarku.


Saat itu Aku baru saja menghubungi Lekky. Kondisi kesehatannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada luka permanent. Tapi pendeta suci belum mengizinkannya untuk pergi. Namun tampaknya Lekky akan tetap pergi dalam waktu dekat entah pendeta suci mengizinkannya atau tidak.


Besok adalah hari pernikahan Putri Magitha. Upacara telah di persiapkan jauh hari. Aku melihat kesedihan di mata Putri Magitha. Suatu ketidakbedayaan yang pernah kurasakan dulu. Di lain pihak Bangsawan Asry mengurung diri. Dia tampak tertekan. Dugaanku jika mereka berdua memiliki hubungan khusus tampaknya benar.


"Kapan ?"


Aku memandangi Pangeran Arana. Jelas Dia sedang kalut. Aku mengerti akan hal itu.


"Malam ini. Tapi Aku meminta bantuanmu.."


Genderang pernikahan terus di bunyikan. Malam telah larut. Aku berjalan dengan tenang menyusuri lorong istana Raja. Di sana sini tampak hiasan pernikahan yang di pasang di setiap sudut istana. Mengingatkanku akan pernikahanku dulu.


Setelah berbelok di lorong kedua. Aku memasuki sebuah kamar kosong. Pangeran Arana telah memberiku peta yang memperlihatkan jalan-jalan rahasia di istana. Aku telah mempelajarinya sore ini sebelum menghancurkan peta yang telah Dia berikan di perapian.


Aku membungkuk di sebuah dinding yang terletak di sisi utara. Meraba-raba tombol rahasia yang membuka pintu penghubung. Akhirnya setelah beberapa menit mencari, Aku menemukan apa yang kucari.


Terdengar suara tembok bergeser disusul suara klik yang cukup keras. Pintu kecil yang hanya bisa di lewati satu orang terbuka. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam dan menutup kembali ruangan itu.


Suara langkah kakiku terdengar bergema di dinding. Aku dapat mendengar suara orang mengobrol di ruangan yang ku lewati. Aku berjalan menaiki tangga kecil yang terbuat dari batu. Ketika sampai di anak undakan teratas Aku menarik tuas yang ada di sana. Sebuah pintu lagi terbuka. Aku maju. Merapatkan badanku bersembunyi.


Putri Magitha duduk di pinggir tempat tidur. Air mata memenuhi wajahnya. Dia tampak bersedih..Pakaian pengantinnya basah oleh air mata. Malam ini Putri Magitha menjalani ritual pernikahan yang tidak memperbolehkannya keluar Kamar. Raja telah menyiapkan beberapa pengawal untuk berjaga di luar.


Tampaknya Raja mengetahui bahwa Putri Magitha sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Namun Raja tidak mempunyai pilihan lain untuk menyelamatkan rakyatnya.


Aku melihat ke sekeliling. Memastikan Putri Magitha seorang diri di dalam kamar. Setelah cukup yakin Aku beringsut keluar. Putri Magitha tampak terkejut saat melihatku. Dia langsung mengusap matanya yang sembab.


"Putri apa yang sedang Putri lakukan di sini"


"Ssttt...ayo ikut Aku" Aku menarik Putri Magitha untuk berdiri. Suara lonceng kakinya bergemerincing ketika berjalan. Membuatku berhenti dan melepaskannya sebelum para Prajurit menyadarinya.


"Putri akan membawaku ke mana ?, Kenapa berpakaian pelayan"


"Aku akan membawamu pergi. Kita akan meninggalkan Argueda"


"Tidak" Tolak Putri Magitha tegas. Membuatku terkejut akan reaksinya. "Aku tidak akan pergi kemanapun"