
"Bunuh Mereka semua" Perintah Ratu Warda nyaring. Pasukan Ratu Warda dibantu Pangeran Riana dan teman-teman bangsawannya maju. Claira menarik Putri Magitha. Tapi karena Putri Magitha terus memberontak. Dia malah menusukkan pedang ke Putri Magitha. Terdengar teriakan Ratu yang memanggil Putri Magitha dengan nada histeris.
Aku hanya bisa berbaring tak berdaya di tempatku menyaksikan Putri Magitha ambruk di tanah dengan pedang menancap di perutnya.
Pangeran Riana maju. Dia mendekati Claira.
"Apa seorang Pangeran terhormat sepertimu bisa membunuh seorang Wanita Pangeran ?" Kata Claira dengan wajah seolah tidak mengenal takut.
Tanpa di duga, Pangeran langsung Mendekati Claira tanpa keraguan dan langsung mencekik Claira dengan satu tangannya. Claira yang tidak menduga Pangeran akan bertindak seperti itu meronta. Mencoba melepaskan diri.
"Siapapun yang menganggu istriku, Aku tidak akan segan membunuhnya dengan tanganku sendiri meskipun itu seorang wanita"
Wajah Claira berubah menjadi biru. Pangeran berwajah datar saat mengangkat Claira dengan satu tangannya ke udara hingga kaki Claira tidak menyentuh tanah.
Kemudian, Aku melihat darah keluar dari hidung dan mulut Claira. Sejurus kemudian Dia diam. Tidak bergerak. Kedua tangannya terjatuh di sisi badannya. Matanya melotot namun tidak berjiwa.
Dia telah mati.
Pangeran melepaskan tangannya dari leher Claira yang sudah tidak bernyawa. Tubuh Claira terjatuh di tanah.
Pangeran Riana tidak menunjukan wajah menyesal. Dia menampangkan wajah tanpa ekpresi saat melihat Claira. Kemudian Pangeran berbalik dan segera mengangkatku.
Aku merasakan Aku telah aman.
Aku menyadarkan kepalaku di bahunya. Memejamkan mata saat rasa pusing menyerangku akibat kehilangan banyak darah. Sejurus kemudian Aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun dan mendapati diriku berbaring di atas tempat tidur dengan posisi menyamping. Pangeran Riana berada di sampingku. Dia tertidur di sebelahku. Satu tangannya menggengam pergelangan tanganku. Rasa sakit terasa di punggungku.
Di mana Aku.
Kami tidak berada di istana Raja maupun Istana Pangeran Arana. Kamar ini, adalah Kamar penduduk biasa. Dindingnya terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang di susun sedemikian rupa. Di ruangan ini semua perabotan terbuat dari kayu sederhana. Bahkan gelasnya terbuat dari tanah liat.
Aku mencoba bergerak. Namun hal itu malah membangunkan Pangeran Riana. Tangannya secara tiba-tiba mencekal pergelangan tanganku kuat sebelum Dia membuka matanya.
"Maaf telah membangunkanmu" Kataku lirih. Pangeran diam. Tidak menjawab. Dari ekpresinya Aku tahu Dia sedang marah padaku karena Aku telah melarikan diri dari istana tanpa sepengetahuannya.
Aku mencoba bangun. Dengan susah payah Aku duduk. Di luar sangat gelap. Hanya ada lampu minyak yang digantungkan sedemikian rupa di beberapa tempat. Di mana Kami sebenarnya berada.
"Apa yang terjadi" Tanyaku sambil menerima air yang di sodorkan Pangeran Riana.
"Kau pingsan setelah kehilangan banyak darah. Ratu mengirim kalian kemari untuk bersembunyi dari kejaran Perdana Menteri Borendo dan kerajaan"
"Kerajaan ?" Tanyaku tidak mengerti.
"Lekky telah membunuh Panglima Aljan. Dengan riwayat nya di Argueda yang kurang baik, Sekarang Dia menjadi buronan. Kau dianggap sebagai pengkhianat karena kedekatanmu dengan Lekky dan Kau membawa lari Magitha malam sebelum pernikahannya. Sekarang Kau juga dianggap sebagai buronan. Kepalamu dihargai sangat tinggi oleh kerajaan Argueda"
"Tapi..." Aku menatap Pangeran Riana binggung. "Ratu ada di sana saat itu terjadi"
Aku terdiam. Aku berusaha menyembunyikan kehamilanku pada Pangeran Riana. Tapi tampaknya Dia sudah mengetahuinya.
Pangeran mencekal tanganku. Membuatku terkejut. "Aku tidak peduli anak siapa itu. Asal anak itu berasal dari rahimmu Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri"
"Tapi Garduete tidak akan mengizinkan anak ini ada" Kataku mengingatkan. "Bagi Mereka anak ini adalah ancaman"
"Aku sudah memikirkan semuanya. Percayalah padaku. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu"
Aku melepaskan tanganku dari gengamannya.
"Kau meragukanku"
"Dimana Lekky ?" Tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Aku tidak ingin Dia membahas soal perasaan lagi. Aku tidak mungkin menikah dengannya. Aku sudah bukan Yuki yang dulu yang Dia kenal.
Di dalam hatiku ada Pangeran Sera yang mendiami tempat yang tidak mungkin diisi olehnya.
"Dia menghilang setelah membunuh Aljan"
Lekky pasti pergi ke pemakaman istrinya. Aku akan menghubunginya nanti.
"Lalu bagaimana dengan Putri Magitha"
"Dia ada di ruang sebelah"
"Apa Dia baik-baik saja ?"
"Besok Kau lihat saja sendiri" Aku beringsut turun. Pangeran kembali mencekal tanganku. "Mau kemana Kau"
"Aku ingin melihat Putri Magitha"
"Kau saja nyaris mati tapi masih memperdulikan orang lain"
"Bawa Aku melihatnya"
Pangeran mendesah. Dia kemudian beringsut turun. membantuku berjalan menuju pintu keluar. Setiap Aku melangkah, Rasa sakit di punggungku terasa menusukku. Aku memaksakan diri untuk terus melangkah. Namun Aku berhenti. Ketika melihat dari cendela yang terbuka. Putri Magitha sedang berciuman dengan Bangsawan Asry. Mereka tampak asyik sampai tidak menyadari kehadiran Kami. Aku memalingkan wajahku. Tidak tahan melihat kemesraan Mereka.
"Kau sudah puas ?" Tanya Pangeran di sampingku.
"Bawa Aku kembali ke dalam. Aku mohon"
Pangeran tidak memapahku kali ini. Dia langsung mengendongku di dadanya. Terdengar degub jantungnya di telingaku. Aku masih ingat saat tangan yang memelukku ini mencekik Claira dengan dinginnya. Pangeran sama sekali tidak memiliki keraguan meskipun yang di bunuhnya adalah seorang wanita.
Dia memasang wajah dingin dan tidak bersahabat ketika membunuh Claira.