
Kami bersembunyi di desa terpencil yang letaknya di tengah hutan atas saran dari Ratu Warda. Bangsawan Voldermon dan Bangsawan Xasfir tinggal di rumah yang baru saja di bangunnya ketika Aku tak sadarkan diri. Kami menyamar sebagai penduduk sekitar.
Tidak ada yang curiga pada Kami. Mungkin karena para penduduk berada di tengah hutan yang jauh dari kota. Sehingga kabar kerajaan tidak sampai pada Mereka. Semua penduduknya sangat polos seperti orang desa pada umumnya. Mereka sangat antusias menerima kedatangan Kami. Kami seperti hidup dalam suatu dunia sendiri. Pangeran memutuskan untuk membawa Kami ke Argueda ketika suasana telah kondusif dan memungkinkan Kami menyusup keluar dari negara ini. Tapi Aku mempunyai rencana lain. Aku ingin kembali ke tempat Lekky. Memikirkan mengenai anak dalam kandunganku dan Nara. Aku tidak bisa mempercayai Pangeran Riana begitu saja. Kehidupan kerajaan sangat keras dan kejam. Aku tidak ingin kehilangan anak ini.
Putri Magitha secara mengejutkan menemuiku. Dia memintaku menjadi wali untuk menikahkannya dengan Bangsawan Dalto. Membuatku dilema. Aku tidak bisa seenaknya sendiri menikahkan Dia tanpa izin dari Raja dan Ratu.
Tapi Putri Magitha sangat keras kepala. Dia menginginkan pernikahannya segera dilaksanakan meskipun di hadiri penduduk desa saja. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya.
Aku menunggui Putri Magitha ketika seorang penduduk meriasnya. Di luar terdengar gelak tawa dari pesta yang diadakan di tengah desa. Desa ini sangat unik. Bangunannya berjajar rapi mengelilingi tanah lapang. Di tanah inilah acara-acara desa diadakan.
"Aku tanya sekali lagi Magi apakah Kau yakin akan hal ini" Dalam penyamaran Kami sengaja memanggil tanpa embel-embel kebangsawanan Kami meskipun ini sulit di lakukan.
"Aku yakin Dia orang yang tepat untukku Kak"
"Tapi.."
"Sudahlah jangan memikirkan apapun. Kau terlalu banyak berpikir yang tidak perlu kak"
Aku menghela nafas. Berharap Pangeran Sera ada di sini dan membantuku menghadapi Magitha. Dia cukup sulit di kengkang dengan keinginannya itu.
Aku duduk di barisan terdepan ketika seorang pendeta menikahkan Putri Magitha dengan Bangsawan Asry. Mereka tampak sangat bahagia meskipun keduanya tau resiko apa yang akan Mereka hadapi jika Argueda sampai mengetahui pernikahan ini. Aku hanya berharap hasil akhirnya tidak akan buruk bagi Mereka.
Para tamu berdansa. Pangeran duduk di dekatku. Beberapa gadis menatapnya berharap Pangeran mau berdansa dengan Mereka. Tapi Pangeran sama sekali mengacuhkan Mereka.
"Aku tidak akan kabur jika itu yang Kau takutkan. Lihatlah para gadis itu apa Kau tidak menginginkan salah satu dari Mereka"
"Baru sekali ini seorang istri menginginkan suaminya memilih wanita lain untuk menemaninya"
"Kita tidak menikah. Dan Aku bukan istrimu" Bantahku cepat.
"Kalau begitu apa Kita juga melangsungkan pernikahan di sini"
Aku berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Pangeran Riana. Tidak ingin berdebat dengan Pangeran Riana lagi apalagi didepan orang banyak. Memang Kami menyamar sebagai suami istri. Tapi Aku tidak berharap menjadikan itu kenyataan.
"Nyonya..Kandunganmu sudah mulai terlihat. Suamimu pasti sangat menantikan bayimu ini lahir" Sapa seorang wanita penduduk setempat yang baru saja datang untuk menggarap kebunnya. Aku yang saat itu sedang berjongkok mencabuti rumput di petak kebun ku mendongak melihatnya. "Suamimu sangat baik meskipun Dia pendiam. dia juga tampan. Yang paling penting Dia nyata sayang sekali padamu Nyonya"
"Terimakasih"
"Jarang ada lelaki seperti itu. Nyonya anda harus menjaganya baik-baik. Jangan sampai menyesal telah kehilangan sesuatu yang berharga"
Aku terdiam mendengar perkataan Ibu itu. Ibu itu mengangkat keranjangnya ke kepala dan mulai melangkah menuju ladangnya.
Berharga ?
Aku memikirkan kata itu.
Dulu Aku menyia-nyiakan keberadaan Pangeran Sera. Namun ketika Dia telah pergi dari sisiku. Aku baru menyadari bahwa Dia sangatlah berharga untukku. Aku menyesali semua hal yang telah kulakukan terhadapnya.
Aku telah kehilangan Matahariku namun mendapatkan matahari lain sebagai gantinya. Namun tetap rasanya tak sama. Sekarang...Jika sesuatu terjadi pada Pangeran Riana. Apakah Aku akan siap. Apakah Aku akan menyesalinya.
Sudah dua bulan Kami tinggal di sini. Hampir beberapa kali Kami bertengkar Karena Dia terus menyebutku sebagai istrinya. Menganggap Kami memang telah menikah. Dia tidak membiarkanku tidur seorang diri di kamar. Selama ini Dia memang menunjukan diri sebagai suami yang baik. Dia membantuku dalam pekerjaan rumah. Bahkan saat Aku tidak bisa tidur karena kehamilanku dan perubahan di tubuhku. Dia akan rela bergadang untuk menjagaku.
Tapi apakah ini semua adil untuk Pangeran Sera.
Aku ingat terakhir kali Pangeran mengatakan padaku akan menungguku sampai akhir hidupku nanti. Lalu bagaimana bisa sementara itu Aku mengisinya dengan orang lain.
Aku menghela nafas. Memutuskan menyudahi mencabut rumput dan mengambil keranjang bambu berisi sayuran yang baru saja kupetik. Pangeran sedang berburu di hutan. Aku tahu itu hanya alasan yang diutarakan kepada para penduduk. Sebenarnya Dia pergi untuk mengumpulkan informasi mengenai perkembangan terkini. Putri Magitha sama sekali tidak keberatan jika harus tinggal di Garduete.
Selama ada Bangsawan Asry, Aku bahkan merasa Putri Magitha tidak akan keberatan jika harus menetap di desa ini. Dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Bangsawan Asry.
Setidaknya Aku tidak perlu khawatir pada Putri Magitha. Dia sudah ada yang menjaga dan melindunginya. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya nanti Dia memberitahukan kepada Raja dan Ratu mengenai pernikahannya. Apakah Raja dan Ratu menyetujuinya. Memikirkannya membuat kepalaku serasa pecah.